Risalah Sakit Gigi: Prolog

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

 

Setiap kali disebut, dibaca, didengar dan dituliskan nama Rasulullah Muhammad, sampaikan shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

Setiap kali para nabi sepanjang sejarah diingat, bacakanlah ‘alaihis salam.

Setiap kali ada cerita tentang para sahabat yang dimuliakan, doakanlah radhiyallahu ‘anhu/ha

Sampaikan juga salam bagi putri Nabi terkasih, Sayyidah Fathimah salaamullahi ‘alaiha dan para Imam suci dari keturunannya, ‘alaihim afdhalu tahiyyati wa taslim

Dan bagi Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah

Allahumma kun li waliyyika al-hujjat ibn al-Hasan, shalawatuka ‘alaihi wa ‘ala abaaih. Fii hadzihis sa’ah wa fii kulli sa’ah, waliyyan wa hafizhan wa qa’idan wa nashiran, wa dalilan wa ‘aynah. Hatta tuskinahu ardhaka thaw’an wa tumathi’ahu fiha thawilan. Birahmatika ya arhamar rahimin.

Risalah Sakit Gigi

 

Read more “Risalah Sakit Gigi: Prolog”

Risalah Sakit Gigi: Salam wa rahmah

Saya sering mengawali pesan singkat saya dengan ungkapan salam itu: salam wa rahmah. Artinya: kedamaian dan kasih Tuhan. Saya memulai menulis salam wa rahmah itu kurang lebih setahun atau dua tahun yang lalu. Tiba-tiba, ia jadi ‘trending topic’. Hampir semua yang saya kenal menggunakannya. Seorang kawan bertanya pada ayah saya, apa itu “ciri” jamaah pengajian masjid kami. Ayah saya tertawa. “Itu bukan ciri jamaah masjid, itu ciri Miftah,” katanya.

Ya, makin banyak orang menggunakannya. Saya bahagia. Mudah-mudahan ada pahalanya. Mengapa saya tulis seperti itu? Saya terganggu dengan penulisan salam yang disingkat seperti ini: ass wr wb. Meskipun membacanya tetap “assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” tapi melihat tiga huruf pertama itu tanpa lanjutan huruf-huruf lain setelahnya, agak mengusik mata saya. Kurang nyaman bacanya: ass. Membaca adalah jendela pikiran. Pilihlah yang kaubaca itu akan mempengaruhi pikiranmu. Read more “Risalah Sakit Gigi: Salam wa rahmah”

Risalah Sakit Gigi: Hadza masjid Bahlul

Di antara ‘keuntungan’ jadi Ustad dibanding pelawak adalah materi yang bisa diulang itu. Meski membosankan, asalkan jemaah itu komunitas yang baru, kita bisa selalu melakukannya. Saya punya beberapa tradisi kalau saya diminta datang di tempat yang baru: bercerita tentang Bahlul, atau mengajukan kuis dan bagi-bagi buku.

Ini kisah Bahlul yang biasa saya sampaikan di awal pertemuan. Kisah ini dalam berbagai versinya dinisbatkan pada Abu Nawas atau juga Mulla Nasruddin Khoja. Mana yang benar, saya kurang paham. Tapi siapa pun itu, Abu Nawas-kah, Bahlul atau Mulla Khoja, semua adalah guru-guru kehidupan yang mengajarkan kita pada kearifan dengan cara yang “we didn’t see it coming…” seperti kisah berikut ini. Read more “Risalah Sakit Gigi: Hadza masjid Bahlul”

Risalah Sakit Gigi: Guru

Bagi saya, kisah Bahlul menceritakan tiga jenis guru, ustad, pendakwah, pendidik, pengajar, atau bahkan siapa saja, termasuk orangtua. Ada tiga tipe guru: pertama, yang mengajarkan anak didiknya sesuatu yang belum saatnya diketahui oleh mereka. Ibarat mengajarkan aritmatika untuk anak sekolah dasar. Atau materi filsafat yang dirasa sangat berat. Kedua, tipe guru yang mengajarkan sesuatu yang sudah diketahui bahkan dikuasai oleh anak didiknya, dan ketiga: tipe guru yang berbagi dan menggali potensi yang sudah ada pada anak didiknya dan berjuang mengarahkannya. Tipe manakah kita?

Saya perjelas lagi dengan contoh berikut ini. Misalkan saya bercerita tentang penciptaan manusia. Ada kisah yang sudah diketahui hampir oleh setiap yang membaca cerita Nabi Adam dan Siti Hawa. Yaitu tatkala Tuhan memerintahkan seluruh malaikat untuk sujud pada mereka. Semua malaikat sujud. Satu yang membangkang: Iblis. Pertanyaannya adalah: apakah Iblis termasuk malaikat? Kita akan segera menjawab: Tidak. Tapi, mengapa dia dihukum Tuhan karena tidak taat? Bukankah perintah sujud itu hanya untuk para malaikat? “Dan ketika kami perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam, semuanya sujud kecuali Iblis.” Begitu bunyi firman sucinya. Apakah mungkin sesuatu dikecualikan dari yang bukan kelompoknya? Read more “Risalah Sakit Gigi: Guru”

Risalah Sakit Gigi: Paradigma Menang Kalah

Dalam halaman-halaman ke depan, saya akan bertutur lebih jauh tentang diri saya. Sedikit narsis tidak apa-apa. Bukankah kita makhluk sempurna? Benar, saya tidak sependapat dengan orang yang berkata: “Harap dimaklum saja, kita kan tidak sempurna.” Atau mubalig yang menutup ceramahnya dengan berkata: “Kalau ada kekurangan itu dari saya, kalau ada kebenaran itu dari Tuhan. Kesempurnaan hanya milik Allah swt.” Padahal, mengutip kawan saya, sempurna itu adalah milik…Andra and the Backbone.

Menurut saya, semua kita terlahir dan tercipta sempurna.