Risalah Anak Berlari: 13

Seorang anak tertegun membuka surat dari ayahnya. Kata demi kata menyapanya akrab, “Anakku, ini suratku yang pertama untukmu. Kutulis dengan sepenuh rindu.

Mungkin kau bertanya, kenapa aku meninggalkanmu. Tidak ada jawaban yang mudah, Nak. Tidak pernah ada. Apa yang disampaikan kata tak pernah mencerminkan isi jiwa. Sedikit yang disampaikan lisan, jauh lebih banyak lagi yang tersimpan. Rahasiaku untuk kaucari, untuk kauketahui. Biarkan sebab kepergianku tetap misteri. Selalu simpan tanya ke mana pun kau berlari.

Ketahuilah Nak, sebaik-baik jalan menuju Tuhan adalah diam. Bila kau sebut sunyi, ia melarikan diri. Dalam hening kau dengarkan batinmu. Dalam tenang kau jernihkan sukmamu.

Read more “Risalah Anak Berlari: 13”

Risalah Anak Berlari: 12

Seorang Ibu berlari pada anaknya, “Nak, Nak…kau dapat surat dari ayahmu. Baru saja sampai hari ini?”
“Bapak berkirim berita, betapa senangnya.”

“Dibuka Nak,”
“Tidak Bu, nanti saja.”

“Mengapa?”
“Bapak minta aku melupakannya.”

“Tapi bukan berarti kau tak baca suratnya. Bukan itu maksud ayahmu. Kalau tidak, ia takkan berkirim berita.”
“Maksud Ibu?” Read more “Risalah Anak Berlari: 12”

Risalah Anak Berlari: 11

Seorang anak berlari pada ibunya, “Bu, bila bisa kembali pada masa lalu, apa yang akan Ibu lakukan?”
“Kenapa engkau tanyakan, Nak? Adakah sesuatu mengganggumu?”

“Aku ingin tahu bagaimana aku di mata Tuhan. Aku ingin Tuhan mengenangku pada saat terbaikku.”
“Tuhan tak terikat waktu, Nak. Tapi, apa engkau tahu yang benar-benar baik buat dirimu?”

“Segala yang membahagiakan Tuhan, Bu.”
“Bagaimana kautahu Tuhan bahagia. Mahasuci Dia dari perasaan manusia.” Read more “Risalah Anak Berlari: 11”

Risalah Anak Berlari: 8

Seorang ayah berlari pada anaknya, “Bapak akan meninggalkanmu Nak. Mintakan sesuatu dariku.”
“Cukup bagiku bahwa engkau memintaku. Akankah kau pergi lama, Bapak?

“Bila aku tak kembali, kau yang akan menyusulku. Lama dan tidakĀ  bukan masalah waktu, tapi harapan.”

“Pesan terakhir Pak sebelum kau pergi.”
“Jadi itu pintamu?”
“Tanpa meminta pun akan kauberi.”
“Baiklah Nak. Ingat selalu bila ada jalan mudah di depanmu, ujungnya ada kesulitan. Bila jalan berliku kau hadapi, akhirnya ada keleluasaan. Aku pergi Nak. Nantikan aku dengan melupakanku.”

 

Risalah Anak Berlari: 6

Seorang anak berlari pada ayahnya, “Pak, katanya kematian itu guru kita?”
“Benar Nak, dengarkan nasihatnya senantiasa.”

“Bagaimana ia mengajarkan kita?”
“Sebanyak apa pun harta jadi sedikit sekali dan sekecil apapun harta jadi mencukupi.”

“Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?”
“Ia tidak pernah jauh darimu. Ia bersamamu selalu.” Read more “Risalah Anak Berlari: 6”

Risalah Anak Berlari: 1-4

Seorang anak lari pada ibunya. Matanya sembab karena tangisan. Pelipisnya lebam karena benturan.

“Apa sebab dukamu, Nak?” Tanya si Ibu bijak, tanpa panik dan rasa kalap.

“Aku bertengkar dengan teman sebangkuku Bu. Aku berkelahi dengan teman baikku,” jelas si anak melawan sekatan.

“Anakku,” ujar ibunya menenangkan, “kau boleh berkelahi, kau boleh luka lebam…tapi jangan kau menangis, Nak. Bertengkarlah, tapi jangan kembali ke rumah dengan air mata.”

“Tapi ia teman baikku, Bu.”

“Justru karena ia teman baikmu.”

“Bagaimana aku akan berteman lagi dengannya?”

“Temui ia, mintakan maafnya. Besarkan hatimu memohonnya.”

“Akankah aku tetap bersahabat dengannya?”

“Masa depan itu rahasia, Nak. Tak perlu kaurisaukan. Yang belum terjadi janganlah membebani pikiran. Besok itu takkan pernah datang.”

Read more “Risalah Anak Berlari: 1-4”