Sejarah

Duabelas

Empatbelas

 

Another book of reflections by Miftah F. Rakhmat

Bagian I: Faktual

 

 

Sejarah

History doesn’t repeat itself, but it sure does rhyme.” Sejarah tak mengulangi dirinya, tapi sungguh ia punya pola yang sama.

Kutipan yang sering dinisbatkan pada Mark Twain ini cukup unik. Orang sering menyebut bahwa sejarah itu berulang. Tidak, sejarah tidak pernah berulang. Ia hanya berjalan pada pola yang serupa. Seirama, ibarat pantun pada nada yang sama. Read more “Sejarah”

Takut

Muhammad Lamine Mediène dikenal sebagai orang kuat di Aljazair, bahkan lebih kuat dari presiden negeri itu sendiri. Ia dikenal dengan panggilan “Taufik”. Konon, sedikit sekali catatan resmi mengenainya. Bahkan orang yang bertamu kepadanya hanya dapat melihat punggungnya. Ia berbicara membelakangi tamunya. Jangan harap melihat wajahnya, bila masih ingin selamat keluar dari rumahnya.

Taufik mengepalai DRS, badan intelijen negara itu sejak 1990. Berkali presiden berganti, ia bertahan di posisi. Usianya kini sekitar 73 tahun, dan hampir seperempat abad ia disegani dan ditakuti di dalam negeri. Read more “Takut”

Tiket

 

Joedir Belmont tak mengira sesuatu yang ditunggunya hadir begitu lama. Bahkan pada saat ia sudah melupakannya, ketika ia sudah tak lagi memikirkannya.

Warga Brazil ini berkesempatan untuk menghadiri final Piala Dunia 2014 di Maracana. Yang menarik, tiket yang ia gunakan berusia lebih dari setengah abad.

Saat masih berusia 21 tahun, Belmont membeli tiket final 1950. Karena satu hal, pertandingan yang dimenangkan Uruguay itu tak dapat dihadirinya, tak dapat disaksikannya. Brazil sebagai tuan rumah, kalah 1 – 2 dari tamunya. Belmont menyimpan tiket itu lebih dari enampuluh tahun lamanya. Read more “Tiket”

Pembunuh

 

Justin Helzer percaya bahwa Tuhan menjelma dalam saudaranya. Lebih dari itu, ia meyakini saudaranya sebagai tuhan. Ia menolongnya menghabisi lima nyawa. Ia ditangkap, dipenjarakan di San Quentin, dan dijatuhi hukuman mati. Proses yang lama menunggu eksekusi membuatnya berusaha membunuh dirinya beberapa kali. Ia tusuk kedua matanya dengan balpoin. Ia hantam juga batok kepalanya. Setelah tiga kali percobaan bunuh diri yang gagal, pada kali keempat, penjaga menemukannya tergantung terikat dengan serpai tempat tidurnya. Ia tewas mengenaskan sebelum jadwal hukumannya tiba. Read more “Pembunuh”

Seberang

 

Iklan jam tangan Rolex tahun 1953 itu istimewa. Ia akan senantiasa dikenang dalam sejarah. Tiga orang pendaki, memandang ke atas, ke arah gunung tinggi.Tersenyum seolah berkata, “Aku telah taklukkan kamu, aku sudah berada di atas sana.” Sir Edmund Hillary, Kolonel Sir John Hunt, dan Tenzing Norgay GM berpose dengan gagahnya. Senyuman Norgay paling lebar di antara yang lainnya.

Sejak ekspedisi itu, jam tangan mahal itu identik dengan petualangan. Jauh sebelumnya, duapuluh tahun sebelumnya penjelajahan untuk menaklukkan puncak tertinggi dunia sudah dimulai, dan Rolex senantiasa menjadi bagian di dalamnya. Ada yang mengartikannya namanya sebagai ‘royal expedition‘ atau ‘royal exploration‘.Apa pun itu, ia telah meninggalkan jejak yang tak bisa disaingi oleh siapa pun selainnya. Ia telah membuat jam itu lebih dari sekadar alat penunjuk waktu. Read more “Seberang”

Imaji

 

Narcissus (dibaca: Narkisos) adalah sosok makhluk setengah dewa. Sehari-hari, ia senang berburu. Wajahnya tampan sekali. Bahkan, untuk ukuran pejantan, ia lebih dekat dengan kecantikan. Ia lebih cantik dari dewi kecantikan. Ayahnya dewa ‘penguasa’ sungai dan ibunya seorang peri.

Satu hari, ia berjalan-jalan di hutan—sepertinya tokoh mitologi lama sangat senang jalan-jalan. Tiba-tiba Echo, sang peri pebukitan melihatnya. Echo jatuh cinta seketika. Ia terbius keindahannya. Ia tak kuasa melawan hasratnya. Ia tunduk mengendap-endap mengikuti setiap langkah si putra dewa.

Narcissus merasa ada sosok di belakangnya membuntutinya. Ia berpaling dan berteriak, “Siapa di sana?” Dan terdengar suara Echo menggema menjawab, “Siapa di sana?” Begitu berulang kali.

Akhirnya Echo memberanikan diri menyatakan cintanya, tapi ia ditolak, berulang kali. Hingga ia menyepi menjauhkan diri, meneriakkan cintanya dan lama-lama wujudnya tak bersisa, dirinya habis karena teriak rindunya. Yang ada tinggal gemanya saja. Karena itulah, Echo artinya gaung, gema. Dan konon, menurut cerita, Echo bukan korban yang pertama. Read more “Imaji”

Sinar

 

Apa kesamaan antara Muhammad Aboutrika dari Mesir, Abadi Pele yang orang Ghana, dan Kazuyoshi Miura dari Jepang? Kita mungkin belum dengan cepat dapat menjawabnya.

Apa kesamaan antara Eric Cantona orang Perancis itu, dan George Weah yang Liberia, dan Alberto Di Stefano yang berkebangsaan tiga? Semua bisa bahasa Perancis? Bukan, bukan itu.

Tambahkan Ryan Giggs dari Wales, dan semuanya sedikit jelas karenanya. Read more “Sinar”

Lucky

 

Belanda versus Costarica, perempat final Piala Dunia 2014. Negara dengan tradisi runner up dalam berbagai kompetisi berhadapan dengan sebuah negara kecil berpenghuni tak lebih dari lima juta. Apa saja bisa terjadi dalam sepak bola. Belanda dengan bintang-bintang besar melawan si kecil yang bergeliat berjuang. Si kecil bertahan melawan gempuran. 120 menit lamanya, hingga sampai juga pada penentuan: pemenang pertandingan harus ditentukan berbagi tendangan penalti dalam lima kesempatan. Read more “Lucky”

Pecah

 

A house divided cannot stand.

“Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.” Matius 12:26

A house divided against itself cannot stand,” kata Abraham Lincoln dalam pidato bersejarah pengukuhannya sebagai Senator negara bagian Illinois, posisi yang kemudian mengantarkannya menjadi presiden ke-16 Amerika Serikat. Dalam pidatonya itu, Lincoln memperingatkan bahaya pecahnya bangsa karena sikap yang berbeda terhadap perbudakan. Selain menunjukkan sikapnya yang berbeda dari Douglas, petahana waktu itu, ia juga meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan. Ia benar-benar percaya pada ungkapan dalam Matius dan Markus 3:25, bahwa ‘rumah yang terbelah’ takkan pernah dapat bertahan. Read more “Pecah”

Harapan

 

Siapa yang tak mengenal Frank ‘Bopsy’ Salazar. Anak kecil usia lima tahun dari Arizona, Amerika Serikat yang didiagnosa Leukemia sejak usia lima. Ia menjadi pasien pertama penerima ‘mimpimu jadi nyata’ dari Make-a-wish Foundation. Yayasan yang didirikan masyarakat untuk membantu mewujudkan mimpi-mimpi terakhir para pasien yang menanti detik-detik terakhir.

Semuanya diawali ketika Chris Grecius, juga penderita Leukemia, ingin menjadi seorang polisi. Ia masih muda. Adalah Tommy dan Ron Cox dari Kepolisian Arizona yang mewujudkan mimpi Chris. Mereka mengajaknya keliling dalam helikopter polisi, dan mendarat di markas besar kepolisian, di mana Chris disambut oleh pasukan protokoler, yang kemudian memberi hormat kepadanya, mengantarkannya kembali ke rumah sakit dengan iring-iringan penghormatan. Tiga hari kemudian, ia dinobatkan sebagai anggota termuda, dengan seragam dan tanda jabatan yang dibuat khusus untuknya. Pada sore harinya, ia menghembuskan nafas terakhirnya, dalam balutan seragam kepolisian yang diidamkannya. Read more “Harapan”