Serba-serbi (sebelum) Bulan Suci (3)

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad

Serba-serbi (sebelum) Bulan Suci (3)

Jadi, dari ucapan Marhaban ya Syahra Ramadhan itu, siapakah menyambut siapa? Siapakah tamu dan siapakah tuan rumah? Yang manakah kita, dan yang manakah bulan suci penuh berkah itu?

Bila kita tuan rumah, maka kita menyambut kehadiran bulan suci dengan mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya. Biasanya, di negeri kita, ada yang merapikan rumahnya, masjid, mengecatnya bila perlu, atau bahkan memasang umbul-umbul, lampu hias dan senarai aksesoris lainnya. Persiapan yang sewajarnya. Secara ruhani, persiapan itu dipupuk bahkan sejak dua bulan sebelumnya. Maka kita tuan rumah dan bulan suci adalah tamu yang akan datang dan nanti bila saatnya tiba, ia akan berlalu diantar penuh kesedihan.

Tapi, bila kita menyimak khutbah Baginda Nabi Rasulullah Saw pada Jumat terakhir di penghujung bulan Sya’ban, kita akan mendapatkan makna lainnya. Baginda Nabi Saw bersabda: “Wahai manusia, telah datang kepadamu bulan suci Ramadhan, dengan berkah, rahmah dan maghfirah. (Inilah bulan yang di dalamnya) Kalian diundang untuk menikmati jamuan Allah Swt…du’itum fihi ila dhiyafatillah” Jamuan Allah Ta’ala, hidangan dari Allah Swt.

Inilah bulan ketika ‘hidangan’ itu dihamparkan. Artinya, pada saat yang sama kita adalah tamu itu. Ibarat bertamu, tuan rumah menghamparkan begitu banyak makanan, beraneka sajian untuk kita.

Apa saja ‘jamuan’ dari Allah Ta’ala itu? Hadits Baginda Nabi saw melanjutkan: “Pada bulan ini nafas kalian menjadi tasbih, tidur dinilai ibadah, bacaan satu ayat sama dengan mengkhatam al-Qur’an, memberi makan berbuka sama dengan membebaskan budak belian…” dan berbagai karunia lainnya yang Allah Ta’ala hadirkan bersama bulan suci. Inilah sajian ruhaniah itu.

Insya Allah, sebagian dari jamuan itu akan kita nikmati. Nafas yang jadi tasbih, semoga. Tidur yang jadi ibadah, mudah-mudahan. Begitu pula dengan jamuan yang lainnya. Nah, sebagai tamu, baikkah kita meraup seluruh yang dihidangkan? Atau hanya mencicipinya sebagian? Tuan rumah ternyata akan sangat bahagia bila kita menikmati seluruh sajiannya. Maka berusahalah untuk meraih dan menikmati semuanya. Jangan khawatir kehabisan, jangan khawarir yang lain tidak kebagian. Karena di antara tamak yang dibolehkan, adalah tamak terhadap rahmat dan ampunan Tuhan. Karena Tuan Rumah adalah pemilik karunia tak berkesudahan. Adalah Maha Dermawan Dia. Adalah Maha Pengasih Dia.

Meski demikian, ternyata ada hidangan yang paling utama, dan adab yang paling harus dijaga. Apakah itu?

Apakah jamuan teramat istimewa itu? Apa adab bertamu yang paling mesti dipelihara?

Selamat menyambut sahur pertama bersama keluarga. Mohon doa senantiasa.

@miftahrakhmat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *