Serba-serbi di Bulan Suci (5)

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad

Serba-serbi di Bulan Suci (5)

Di akhir khutbah Baginda Nabi Saw di penghujung bulan Sya’ban, setelah Baginda Saw memaparkan keutamaan bulan suci Ramadhan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw bertanya, “Ya Rasulallah, amalan apakah yang paling utama?”

“Menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah Swt.”

Al-wara’ ‘an maharimillah. Demikian kesimpulan adab yang mesti dijaga di bulan suci. Seakan seperti seorang tamu, maka ia memelihara keberadaan dirinya di hadapan tuan rumah. Ia menikmati jamuan. Tapi yang ia hadirkan adalah keridhoan tuan rumah. Ia tidak berbuat sesuatu apa pun yang akan menyakiti, menyinggung, atau mendatangkan ketidaknyamanan bagi tuan rumah. Inilah adab bertamu yang baik. Dan ini pula adab terutama di bulan suci.

Sungguh, menghindarkan diri dari dosa mesti didahulukan dari berbuat baik. Menjauhkan diri dari maksiat dengan sendirinya adalah kebaikan. Cukup sedekah bagimu, kau tahan dirimu dari laku dosa. Demikian riwayat dari para teladan suci.

Maka jadilah sebulan penuh bulan Ramadhan sebuah madrasah ruhaniah. Ruh beristirahat dengan menjaga diri dari dosa, memperkuat hubungan dengan Sang Mahakasih Mahasegala. Adab terutama puasa adalah mendatangkan manfaat untuk sesama dengan tidak mendatangkan bagi mereka sesuatu yang buruk dari diri kita. Dengan tidak mendatangkan sesuatu yang buruk itu, bahkan bagi diri kita. Inilah tantangannya.

Alkisah, ada ayah dan anak menempuh perjalanan di padang pasir. Di satu tempat, ayah itu jatuh sakit dan meninggal dunia. Anaknya berusaha mencari bantuan, tak dapat ia temukan, kecuali seorang gembala dengan sekawanan ternaknya. Mereka pun memandikan dan menggali kuburnya.

“Bisakah kau menshalatkannya?” tanya anak itu pada gembala.

“Tentu saja.”

Lalu gembala itu pun mengangkat tangannya dan berdoa. “Selesai,” katanya. Anak itu terkejut, “Shalat jenazah seperti apa ini? Tidak benar sama sekali. Pergilah engkau ke sana!” Ia pun menshalatkannya seorang diri.

Malam hari, anak itu bermimpi. Ayahnya berbalutkan pakaian yang sangat indah, tampak bersinar berseri-seri. Ia bertanya, “Gerangan apa yang ayah lakukan hingga beroleh kemuliaan ini?” Ayahnya menjawab, “Semua yang aku terima, adalah karena gembala itu.”

Ia terbangun. Pagi masih menyisakan gelap ketika ia mencari gembala itu. Ketika akhirnya berjumpa, dengan segera ia bertanya, “Apa yang kaukatakan dalam shalat jenazahmu yang tak benar itu?”

“Aku hanya berdoa: Ya Allah, sekiranya orang di hadapanku ini masih hidup, tentulah ia akan menjadi tamuku dan akan aku sembelih seekor kambing untuk menghormatinya. Tetapi, kini ia telah menjadi tamuMu. Pastilah Engkau memberikan penerimaan yang sebaik-baiknya untuknya. Selesai.”

Anak itu luluh. Tak boleh ia merasa diri lebih benar dari orang lain.

Demikianlah. Doa yang tulus dan menjaga diri dari dosa adalah hidangan teristimewa dan adab yang mesti dipelihara di bulan suci yang mulia ini. Tak boleh kita merasa lebih berpuasa dibandingkan yang lainnya.

Marhaban ya Syahra Ramadhan. Sungguh, jadikanlah kami Ya Allah, pecinta bulan mulia ini.

@miftahrakhmat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *