Serba-serbi di Bulan Suci (4)

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shali ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad

Serba-serbi di Bulan Suci (4)

Apakah jamuan teramat istimewa itu? Apa adab bertamu yang paling mesti dipelihara?

Ibarat bertamu, tuan rumah menghadirkan jamuan. Kita menikmatinya. Tetapi bukankah ada maksud kita berkunjung? Ada alasan mengapa kita datang. Maka dengan sepenuh penghormatan kita sampaikan di balik maksud kedatangan.

Ketika al-Qur’an menuturkan rangkaian ayat puasa, ayat-ayat itu dipenuhi dengan beragam keterangan manasik puasa: puasa itu wajib bila sudah datang bulan suci Ramadhan. Puasa itu diringankan bagi yang sakit atau dalam perjalanan. Allah Ta’ala menghendaki bagimu kemudahan bukan kesulitan. Diperkenankan bagimu untuk bercengkerama dengan pasanganmu di malam hari. Makan dan minumlah hingga jelas benang putih dan benang hitam dari waktu fajar. Sempurnakan puasa hingga malam hari. Hindari pasangan bila hendak iktikaf di masjid. Semua petunjuk tentang batas-batas puasa. Lihat, tidak disebutkan ibadah tertentu seperti shalat tarawih dan hal-hal lainnya yang khas bulan suci.

Tiba-tiba, dan tentu tidak ada yang tiba-tiba dalam kitab suci. Di antara rangkaian ayat puasa itu, Allah Ta’ala seakan ‘menyisipkan’ satu-satunya ibadah untuk kita perbanyak di bulan suci. Inilah jamuan yang paling utama itu. Main course. Apa itu?

Berdoa. Ya, berdoa.

“Dan kalau bertanya kepadamu hamba-hambaKu tentang Aku, katakan Aku itu dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]:186)

Berdoa menjadi hidangan istimewa itu. Lihat, bagaimana dalam ayat di atas Allah Ta’ala menyebut kata ‘Aku’ yang merujuk pada DzatNya Yang Mahasuci sebanyak tujuh kali. Tidak ada ayat dengan kata ‘aku’ sebanyak ayat ini. Seakan-akan Allah Ta’ala ingin menyampaikan, “Aku tujuh kali lebih dekat dengan hambaKu saat ia berdoa kepadaKu.” Berdoa adalah amalan yang paling utama.

Ya, seperti kalau kita berkunjung, kita nikmati sajian yang dihidangkan. Tetapi, tuan rumah akan bertanya, untuk apa kau kemari? Apa maksudmu datang bertamu?

Maka di malam-malam bulan suci, di hari-hari yang penuh berkah, pada saat sahur, dini hari, setelah shalat-shalat fardhu, pada waktu berbuka, ketika membaca kitab suci, atau senarai ibadah lainnya…selalu antarkan doa setelahnya. Ceritakan keluh kesah kita. Sampaikan gundah gulana kita. Haturkan berjuta pinta kita. Tuan Rumah Nan Maha Pengampun itu teramat menanti saat kita kembali. PadaNya perbendaharaan segala yang ada di langit dan di bumi.

Penuhilah bulan suci dengan beragam doa. Berbekallah dengan segala permasalahan yang menghimpit dada. Bersiaplah dengan segala tangis yang menanti saat mengalir, dengan segala jerit tersimpan yang menunggu saat melepas beban.

Bersyukurlah saudara karena beroleh karunia rangkaian doa teramat indah yang diwariskan dari para teladan. Baca itu semua. Mereka telah wakilkan rasa. Mereka telah rangkaikan kata. Jerit hati kita yang paling dalam. Segala suara yang terpendam. Semua rahasia yang tersimpan. Setiap pinta dalam kebaikan.

Tersungkurlah di mihrab doa. Alirkan airmata cinta. Basahi sajadahmu dengan sesal tak terkira. Ampuni kami wahai Sang Mahasegala. Sungguh telah merapuh tulang, telah beruban rambut di kepala. Terasa berat beban yang menghimpit dada. KepadaMu kami serahkan segalanya.

Dan bila kita tak punya khazanah doa itu, cukuplah sebut nama Dia. Betapa pengasihnya Dia, dalam namaNya, pun terkandung doa.

Ah, Tuhan, teramat pengasih dan penyayang Engkau pada kami. Ampuni kami, ampuni kami. Teramat lalai kami selama ini.

Itulah hidangan teristimewa, jamuan teramat utama. Lalu apa adab yang paling wajib dijaga?

(Bersambung…)

@miftahrakhmat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *