Risalah Anak Berlari: 13

Seorang anak tertegun membuka surat dari ayahnya. Kata demi kata menyapanya akrab, “Anakku, ini suratku yang pertama untukmu. Kutulis dengan sepenuh rindu.

Mungkin kau bertanya, kenapa aku meninggalkanmu. Tidak ada jawaban yang mudah, Nak. Tidak pernah ada. Apa yang disampaikan kata tak pernah mencerminkan isi jiwa. Sedikit yang disampaikan lisan, jauh lebih banyak lagi yang tersimpan. Rahasiaku untuk kaucari, untuk kauketahui. Biarkan sebab kepergianku tetap misteri. Selalu simpan tanya ke mana pun kau berlari.

Ketahuilah Nak, sebaik-baik jalan menuju Tuhan adalah diam. Bila kau sebut sunyi, ia melarikan diri. Dalam hening kau dengarkan batinmu. Dalam tenang kau jernihkan sukmamu.

Bila kau merindukanku, hembuskan nafasmu di udara. Biar angin menyampaikannya padaku. Bila kau menginginkanku, teteskan tangismu di air bumi. Biar alirannya mengantarkannya padaku. Bila kau punya tanya untukku, gali jauh jawabnya dalam dirimu. Kau akan temukan aku menunggumu.

Akan aku kisahkan perjalananku. Dan dari waktu ke waktu, kukirimkan kabarnya kepadamu.

Sampaikan salamku pada ibumu. Peluk sayang, cinta dan sejuta rindu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *