Risalah Anak Berlari: 12

Seorang Ibu berlari pada anaknya, “Nak, Nak…kau dapat surat dari ayahmu. Baru saja sampai hari ini?”
“Bapak berkirim berita, betapa senangnya.”

“Dibuka Nak,”
“Tidak Bu, nanti saja.”

“Mengapa?”
“Bapak minta aku melupakannya.”

“Tapi bukan berarti kau tak baca suratnya. Bukan itu maksud ayahmu. Kalau tidak, ia takkan berkirim berita.”
“Maksud Ibu?”

“Kita sering lupa kematian, tapi ia setiap hari mengirimkan pesannya. Begitulah kau merindukan ayahmu. Lupakan ia. Tapi ketika datang beritanya, dirimu hadir sepenuhnya. Cinta dan kasihmu berwujud sepenuhnya. Bukankah kita lupa kematian, tapi ketika ia menghampiri sesama kita, disadarkan kita karenanya. Difungsikan segala rasa dibuatnya.”

“Baru aku memahami maksud Bapak Bu.”
“Sekarang, bukalah suratnya itu.”

“Perkenankan aku membukanya seorang diri, Bu.”
“Tentu Nak, begitulah memang selayaknya. Aku tinggalkan kau dan ayahmu. Dan aku akan selalu bersamamu.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *