Risalah Anak Berlari: 11

Seorang anak berlari pada ibunya, “Bu, bila bisa kembali pada masa lalu, apa yang akan Ibu lakukan?”
“Kenapa engkau tanyakan, Nak? Adakah sesuatu mengganggumu?”

“Aku ingin tahu bagaimana aku di mata Tuhan. Aku ingin Tuhan mengenangku pada saat terbaikku.”
“Tuhan tak terikat waktu, Nak. Tapi, apa engkau tahu yang benar-benar baik buat dirimu?”

“Segala yang membahagiakan Tuhan, Bu.”
“Bagaimana kautahu Tuhan bahagia. Mahasuci Dia dari perasaan manusia.”

“Maksud Ibu?”
“Tuhan mencintai kita tanpa masa. Kasih dan sayangNya tak dapat dikira. AnugerahNya meliputi semua. Kau akan mengetahui Tuhan bahagia bila kaubahagiakan sesama. Kau akan memahami Tuhan murka bila kau cederai manusia.”

“Kalau begitu, kapan aku benar-benar membahagiakanmu, Ibu?”
“Waktu aku pertama kali tahu kau ada dalam diriku. Waktu aku pertama kali melihat dirimu dengan mataku. Waktu aku pertama kali mendekap, mencium, dan mendoakanmu.”

 

“Kalau begitu, aku ingin kembali ke saat itu Bu.”
“Tidak Nak, kecintaanku bertambah padamu setiap hari setelahnya. Setiap detik dan saatnya. Kebahagiaanku kini berselimutkan kasih. Ia tak terpisahkan. Takkan pernah terpisahkan.”

“Bagaimana aku berterima kasih padamu, Ibu?”
“Tanyamu itu adalah syukurmu. Akulah yang harus berterima kasih kepadamu.”

“Mengapa Ibu? Apa yang sudah aku lakukan?”
“Wujudmu Nak, kaulah sebab hadirku di dunia. Kaulah alasan keberadaanku. Kaulah tujuan segala upayaku. Kaulah bekalku untuk kembali ke hadiratNya.”

“Kalau begitu, aku tak ingin kembali ke masa lalu. Aku tak ingin mengganti sesuatu.”
“Benar Nak, dengan melangkah maju, kau telah mengubah masa lalumu.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *