Risalah Anak Berlari: 6

Seorang anak berlari pada ayahnya, “Pak, katanya kematian itu guru kita?”
“Benar Nak, dengarkan nasihatnya senantiasa.”

“Bagaimana ia mengajarkan kita?”
“Sebanyak apa pun harta jadi sedikit sekali dan sekecil apapun harta jadi mencukupi.”

“Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?”
“Ia tidak pernah jauh darimu. Ia bersamamu selalu.”

“Maksud Bapak?”
“Kamu mati sekarang ini. Bukankah kalau kaupunya sesuatu, kauingin yang lainnya? Kalau kau sedang tak punya, kau merasa kurang segalanya.”

“Bagaimana aku bisa hidup, Pak?”
“Bila hadirmu membuat yang lain bahagia, kau hidup bersama mereka. Bila tiadamu membuat mereka berada, kau sebab hidup mereka. Sesungguhnya seorang ksatria, adalah dia yang kehidupan orang lain ada pada kematiannya.”


“Bila kematian itu guru, siapakah dia yang mati demi kehidupan yang lainnya?”
“Guru Agung Nak. Hanya ada satu setiap masa.”

“Ajari aku tentang dia, Pak.”
“Kau harus matikan dirimu dulu. Baru kau akan berjumpa dengannya. Yang lain mengajarkan hidup untuk mati. Guru Agung mengajarkan mati untuk hidup.”

“Jadi, aku pilih mati atau hidup?”
“Tidak memilih, Nak. Biarkan keduanya datang mengemis kepadamu. Biarkan keduanya datang menghiba.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *