Sesat

 

“Ahhh…” aku melepaskan nafas yang telah kusimpan begitu lama. Meski berulang kali menarik dan menghela, hembusan terakhir tadi terasa berbeda. Hatiku berdebar, jantungku berdetak. Tak berirama, seolah ada gendang dimainkan tak beraturan di batinku. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini. Dulu waktu jatuh cinta, deg-deganku bercampur sukacita. Terarah, teratur… Tapi degup kali ini…ia tak sama. Ini ketakutan antara harap keselamatan dan cemas kecelakaan. Mirip orang yang berdiri di tabir jurang. Bayangkan akrobat sirkus tanpa pengaman. Itulah aku, yang kini tengah bersiap untuk meloncat: selamat dan pernah terbang di angkasa walau sesaat atau kembali meniti tangga ke bawah, menjejakkan kaki dengan aman di tanah. Read more “Sesat”

Getir

 

Sudut taman kota yang berhias mempercantik diri tak dapat mengusir galau dari benakku. Kota ini tengah bergeliat. Walikota baru bekerja dengan giat. Jalanan diperbaiki, pepohonan diselimuti, koneksi internet di mana-mana…sebuah layar raksasa bahkan jadi sasaran semua mata. Indah. Belum lagi mainan anak-anak, ayunan, jungkat-jungkit dan alat olahraga. Lengkap, penduduk kota boleh berbangga…tapi aku, ada kegamangan di batinku.

Harusnya aku bisa mengendalikan diri. Ini ilmu yang kupelajari di kampusku. Ilmu mengenal jiwa. Aku sangat tertarik dengan yang satu itu, mungkin karena itu juga aku tak pernah dapat benar-benar menguasainya. Manusia selalu cenderung ingin tahu sesuatu yang mereka takuti, karena itu film horror tetap punya peminat. Orang-orang yang menutupi seluruh mukanya, tetapi menyisakan sebaris kecil celah untuk melihat. Gabungan unik dari ketakutan dan keingintahuan. Read more “Getir”

Parle

 

Aku belajar diam dari orang yang banyak omong. Aku belajar menghargai dari mereka yang memaksakan diri. Aku belajar menghormati, dari mereka yang mencaci. Tapi aku tidak pernah berterima kasih pada guru-guruku itu… Haruskah?

Aku tuliskan di buku harianku, peristiwa hari ini. Seperti hari-hari sebelumnya, kamar mandi, toilet, dan dapur jadi giliran yang kukunjungi kali ini. Sapu, lap pel, aroma pembersih dan sterilisasi. Semua sudah aku kuasai.

Rumah ini harus tetap bersih. Mengkilap kalau bisa. Ini rumah wakil rakyat. Anggota dewan yang terhormat. Mereka datang dari berbagai negeri, memperjuangkan kebaikan hidup kami. Read more “Parle”

Pulang

 

Udara dingin, tapi itu biasa. Matahari bersinar secukupnya dan awan seputih kapas itu bergantian menutupinya. Yang berbeda adalah keheningan yang luar biasa. Terlalu lama, lebih dari setengah jam lamanya. Tak ada seorang pun berbicara. Bahkan tak ada gumam doa. Semua menunggu apa yang terjadi di bawah sana.

Aku tak berani melangkahkan kaki lebih jauh. Di hadapanku berkumpul keluarga yang berduka. Momen seperti ini adalah saat yang harus dihormati. Tidak boleh asal bicara. Terlarang sembarang berkata. Peristiwa duka cita, kembalinya seorang hamba pada Tuhannya, adalah saat-saat istimewa, ketika seluruh raga mematung di hadapan kebesaranNya, dan seluruh jiwa merebah pasrah pada garis ketentuanNya. Read more “Pulang”

Fanatik

 

“Jun, ikut aku yuk, ada Ustadz baru di Masjid raya…” ajak Hamid sahabatku. Ia paling suka safari keliling masjid, mendengarkan berbagai ustadz, mengetahui ragam pendapat dan menikmati cara penyampaian yang berbeda. Kata dia, “ngaji bisa sama siapa saja, yang benar itu pasti enak didengar. Kalau ada yang tidak tahu, kita bisa tanya.” Aku masih belum bisa seperti dia. Aku tumbuh dalam tradisi keagamaan yang kuat. Keluarga selalu mewanti-wanti bila ada paham yang dianggap baru, “Hati-hati, banyak sudah dalam agama itu yang tak asli, yang diubah dan dibuat baru. Jangan sampai kamu masuk neraka karena salah mengambil guru.” Sejak itu, aku selalu ketakutan menghadiri pengajian selain di masjidku. Daripada celaka, lebih baik tetap di tempat yang  menjamin keselamatan.

“Aku dengar ustadz ini berbeda…ia baru pulang dari Amerika. Aneh, seharusnya Ustadz itu pulang dari Arab sana. Ini kok malah dari negeri embahnya kemudaratan…pasti menarik. Ayo, ikut aku.” Hamid tak bosan membujuk aku. Ini bukan kali pertama. Dan bukan sekali ini pula dia gagal. Aku harus hati-hati, tetap pada keyakinan yang asli.  ”Jun, kalau orang jadi ustadz karena tinggal di pesantren, wajar. Ia belajar untuk itu. Kalau ia jadi soleh karena hidup di negara beribu menara, itu juga biasa. Justru aneh bila jadi Ustadz di tempat seperti Amerika. Kalau orang bisa bertahan mukmin dan tak tergoda, kau harus acungkan jempolmu. Angkat topimu tinggi-tinggi untuknya. Sekali ini saja, Jun. Kalau kau tak suka, aku takkan memaksa.” Read more “Fanatik”

Hilang

 

“Kemarahan sesaat, menghilangkan kebahagiaan. Kau tahu itu?” Tanyaku sambil menggenggam tanganmu. Engkau tersenyum dan berkata, “Aku tidak marah. Aku hanya diam saja. Diam tak selalu marah. Tahukah kau itu?” Kau malah balik bertanya kepadaku. Ajaib. Cerdas pada saat yang sama.

Aku memang tak mengerti jalan pikiran wanita. Sepertinya, takkan pernah sanggup untuk mengerti. Ternyata misteri itu satu kebahagiaan. Mengetahui yang pasti, justru bisa jadi penderitaan. Bayangkan, karena berbuat salah, api amarah dapat meledak kapan saja. Bayangkan tak lagi harus menerka, tak lagi harus mengira. Jenuh rasanya.

Kau bukan wanita pertama yang tak kupahami. Dan tak satu pun wanita benar-benar pernah kumengerti. Bila satu saat berkata ”a” lalu kulakukan, ia akan berkata, ”itu dulu, sekarang mauku bukan itu.” Pusing aku. Kau bukan wanita pertama yang membuat keningku mengerut, membuatku berpikir tentang wanita. Tidak, kau tidak membuatku berpikir tentang itu. Kau membuatku berpikir tentang pikiran itu sendiri. Read more “Hilang”

Asing

 

“Kalian tidak tahu bagaimana rasanya hidup tak diinginkan. Bagaimana rasa aman berubah jadi ketakutan. Bagaimana sukacita, kebahagiaan, canda tawa…sekejap saja berubah mengerikan.…”

Oma berhenti. Ia menarik nafas panjang, seakan berusaha mengumpulkan kembali ingatan yang samar. Bukan hilang, hanya tak ingin dikenang. Lalu terdengar hembusan nafas berat…”wuush…” beban itu masih ada. Sesak itu masih menghimpit dada.

Aku raih tangan Oma. Mengelusnya. Mengusapnya. Keriput di tangan Oma jauh lebih banyak daripada kerutan di bawah matanya. Oma bisa dibilang awet muda. Ia cukup baik merawat wajahnya. Tapi gulir usia itu tampak jelas pada tangannya, pada kakinya, pada putih rambut di kepalanya. Read more “Asing”

Blusukan

 

Aku bahagia hari ini. Ada selisih dari jumlah yang harus aku setorkan. Aku manfaatkan itu dengan baik. Aku ajak keponakanku bermain. Mereka tampak ceria sekali, menikmati naik turunnya komedi putar jalanan yang lewat di depan rumah. Entah sejak kapan dan siapa yang memulai, komedi putar itu terkenal dengan nama ‘odong-odong’. Aku senang anak-anak itu senang. Apa lagi yang bisa kulakukan?

Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, perempuan semua. Kedua kakakku sudah menikah. Keponakanku dari merekalah yang memberi kebahagiaan di ujung hariku, di akhir pekerjaan panjang seperti ini. Gurat senyum mereka selalu menyuntikkan semangat baru. Tawa renyah mereka…ah, tak ingin kulewatkan. Bahagia mendengarnya. Read more “Blusukan”

Bajing Ireng

 

Matahari sudah lama bersembunyi. Bintang pun bergantian menemani. Hanya bulan yang sesekali tertutup awan. Aneh, makin lama kuperhatikan, hanya bulan saja yang berbalut awan, bintang tidak. Sepertinya alam hendak menutupi persembunyianku. Sinar malam kali ini redup. Cahaya bintang cukup untuk menyusuri jalanan berkelok hutan ini. Cukup bagi mata terlatih seperti aku. Tapi tidak bagi mereka…rombongan bandit itu.

Aku masih ingat Kiai Mansur meminta aku memandang bulan, lama sekali. Katanya, “Kau takkan silau memandanginya. Ia setia menemani bumi. Ia menyerap cahaya matahari. Dan kau, bila kau melihatnya, kau menyerap cahaya bulan. Kau akan terbiasa melihat di kegelapan.” Kini aku mengerti nasihatnya. Ia mempersiapkan aku untuk hari ini, untuk saat-saat seperti ini. Read more “Bajing Ireng”

Palsu

 

“Suit suit…” bunyi sms kesekian kalinya masuk ke hapeku. Pasti, ucapan selamat lebaran, pikirku. Ini sudah yang kesekian kali. Aku ambil hapeku. Tertulis: 23 pesan baru, 6 percakapan di grup, dan satu missed call. Alih-alih membaca pesan singkat itu, aku ubah moda penerima. Aku pilih nada getar. Aku tidak merasa bernafsu untuk segera membuka pesan-pesan itu. Moodku sedang aneh, tidak enak. Tidak karuan.

Kata orang, begitulah kalau sedang datang bulan. Kaum lelaki takkan pernah tahu rasa sakit ini. Mereka hanya tahu enaknya saja. Mereka menenangkan dengan berkata, “Tuhan mencintaimu. Tuhan membersihkanmu. Bayangkan saat pertama nanti kau boleh shalat lagi. Alangkah indahnya. Alangkah syahdunya.” Mereka sekadar cari alasan karena tak punya dalih untuk bisa tidak sembahyang. Read more “Palsu”