Risalah Anak Berlari: 8

Seorang ayah berlari pada anaknya, “Bapak akan meninggalkanmu Nak. Mintakan sesuatu dariku.”
“Cukup bagiku bahwa engkau memintaku. Akankah kau pergi lama, Bapak?

“Bila aku tak kembali, kau yang akan menyusulku. Lama dan tidak  bukan masalah waktu, tapi harapan.”

“Pesan terakhir Pak sebelum kau pergi.”
“Jadi itu pintamu?”
“Tanpa meminta pun akan kauberi.”
“Baiklah Nak. Ingat selalu bila ada jalan mudah di depanmu, ujungnya ada kesulitan. Bila jalan berliku kau hadapi, akhirnya ada keleluasaan. Aku pergi Nak. Nantikan aku dengan melupakanku.”

 

Risalah Anak Berlari: 6

Seorang anak berlari pada ayahnya, “Pak, katanya kematian itu guru kita?”
“Benar Nak, dengarkan nasihatnya senantiasa.”

“Bagaimana ia mengajarkan kita?”
“Sebanyak apa pun harta jadi sedikit sekali dan sekecil apapun harta jadi mencukupi.”

“Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?”
“Ia tidak pernah jauh darimu. Ia bersamamu selalu.” Read more “Risalah Anak Berlari: 6”

Risalah Anak Berlari: 1-4

Seorang anak lari pada ibunya. Matanya sembab karena tangisan. Pelipisnya lebam karena benturan.

“Apa sebab dukamu, Nak?” Tanya si Ibu bijak, tanpa panik dan rasa kalap.

“Aku bertengkar dengan teman sebangkuku Bu. Aku berkelahi dengan teman baikku,” jelas si anak melawan sekatan.

“Anakku,” ujar ibunya menenangkan, “kau boleh berkelahi, kau boleh luka lebam…tapi jangan kau menangis, Nak. Bertengkarlah, tapi jangan kembali ke rumah dengan air mata.”

“Tapi ia teman baikku, Bu.”

“Justru karena ia teman baikmu.”

“Bagaimana aku akan berteman lagi dengannya?”

“Temui ia, mintakan maafnya. Besarkan hatimu memohonnya.”

“Akankah aku tetap bersahabat dengannya?”

“Masa depan itu rahasia, Nak. Tak perlu kaurisaukan. Yang belum terjadi janganlah membebani pikiran. Besok itu takkan pernah datang.”

Read more “Risalah Anak Berlari: 1-4”

Risalah Anak Berlari: Prolog

 

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

 

Risalah Anak Berlari

Prolog

Dalam namaNya sebaik awal mula. Salam shalawat untuk sebaik-baik yang tercipta. Dan para teladan suci sepanjang sejarah manusia.

Bagaimana bila sesuatu tak seperti kelihatannya? Senyum orang di sampingmu tak berarti senyum di hatinya. Barang yang kau rasa milikmu sama sekali bukan kepunyaanmu. Bagaimana bila semua wajah, hanyalah topeng untuk menyembunyikan amarah, keluh kesah, sekian gundah dan gelisah? Bagaimana bila ternyata Rahwana rupawan rupa. Dan Sinta sebenarnya jatuh hati padanya? Bagaimana bila Rama yang telah merebut cinta sejati itu dan memisahkannya selama-lamanya… Read more “Risalah Anak Berlari: Prolog”

Sesal

 

Pada akhirnya adalah penyesalan. Tak ada sekolah atau kursus jadi orangtua, suami, atau anak. Pada ketiga hal ini, aku selalu berujung dalam dan dengan penyesalan. Aku yakin aku bukan anak anak yang berbakti. Aku tahu aku bukan suami yang baik. Dan aku ragu apa aku layak untuk disebut sekadar ”ayah”.

Kata Hellen Keller, ”Satu-satunya keadaan yang lebih buruk dari orang buta adalah punya mata, tapi tak punya ‘penglihatan’, having sight but no vision. Terjemahanku mungkin tak pas. Tak apa, sepertinya aku memahami kalimatnya. Akulah yang ia maksud itu.

Betapa tidak. Bayangkan, dalam usiaku yang sudah kepala empat ini aku masih punya kedua orangtua, Ummi dan Abi. Tapi betapa jarang aku berkhidmat pada mereka. Lebih sering, mereka yang membantuku: jadi tempat penitipan anak-anakku, memberi uang jajan mereka, bahkan menjaga mereka saat aku sibuk mengejar mimpiku. Ummi dan Abi pula yang bergantian antar jemput sekolah anak-anakku. Read more “Sesal”

Surga

 

Siapa tak menginginkan surga seindah ini. Tenang, tenteram, harum dan penuh rona warna. Aku beruntung diciptakan dan tinggal di tamannya. Di sini tak ada riuh rendah satwa. Tak ada angkara. Tak ada dosa. Yang ada hanya tatap kelopak bunga, merengkuh hangat sinar sang surya.

Rasakan…rasakan angin itu berhembus pelan. Tidak dingin, tidak panas. Sempurna. Semua nikmat tersedia, karena ibunda sang pengatur, ia juga sang penjaga. Bersamaku ada berbagai bunga: Gardenia, Magnolia, Dandellion dan Edelweiss. Aster, Anyelir, dan Akasia. Ada pula bunga mawar sang putri kerajaan, dan bunga matahari yang berdiri paling tinggi, menjulang di antara kami. Read more “Surga”

Sumpah

 

Suara itu masih terdengar. Gemuruhnya sudah hilang, tapi gaungnya masih tersimpan. Baru saja pagi tadi aku ucapkan sumpah jabatan. Di hadapan yang menyaksikan, aku ikrarkan kesetiaan. Bukan, bukan mereka yang kukuatirkan. Bukan tatapan penuh harap itu. Bukan pula tangis sukacita. Aku menyesal karena tak menyebut nama ayah dan ibu dalam sambutan. Aku tahu ini bukan acara pribadi. Tapi mereka berdua tak lepas dari setiap garis hidup ini. Ke mana pun aku pergi. Di mana pun aku berbakti. Di setiap tempat yang kudatangi, engkau selalu hadir Ayah. Dan doa Ibu menyertaiku di setiap langkah. Siapakah aku tanpa mereka?

Sejenak, sebelum mengucap janji, aku memandang ke arah kiri, tempat istriku berada. Ia pasrah. Apa pun takdir Sang Mahapemberi, ia mengikutiku dengan setia. Tak ada yang pernah mengira, aku akhirnya jadi nahkoda kapal raksasa. Siap berlayar mengarungi tujuh samudera. Sungguh, Tuhan telah membuat pintu kebenaran begitu banyaknya, hingga kau bisa mengetuknya di mana saja. Istriku di antaranya. Ia telah mendampingiku mengarungi segalanya. Dan di barisan tamu kehormatan, ia duduk dengan pandang anggun ke depan. Read more “Sumpah”