Risalah Jum’ah (5)

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

 

Setiap pagi di SMA Plus Muthahhari diadakan apel pagi. Tidak, bukan untuk anak-anak. Apel pagi yang dimaksud adalah berkumpulnya guru-guru membincangkan satu dua hal selama 15-20 menit. Setiap hari. Tahun ajaran ini, kami mulai pagi tadi. Saya kebagian pemateri pertama.

Kebetulan, sehari sebelumnya ramai dibincangkan reshuffle Kabinet. Yang menjadi perhatian khusus praktisi pendidikan adalah pergantian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pak Anies Baswedan digantikan oleh Pak Muhadjir Effendy. Teriring ucap terima kasih atas setiap tetes keringat dan pemikiran Pak Anies, kami ucapkan selamat bertugas pada Pak Muhadjir. Read more “Risalah Jum’ah (5)”

Risalah Jum’ah (4)

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

 

Saya bersyukur kepada Allah Ta’ala, syukur yang mengalirkan linangan air mata. Sungguh, segala yang diberikanNya indah. Teramat indahnya. Lidah ini kelu mengungkapkannya. Batin tak mampu menguasainya. Mahabenar Dia dalam firmanNya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Nahl [16]:18). Betapa indahnya Sang Mahasuci menutup ayat yang suci. Dengan namaNya penuh ampunan. Dalam namanya yang penuh kasih sayang. Dia tahu, dalam syukur nikmat terlalu besar kekurangan kita. Amat layak diampuni. Teramat pantas dikasihani. Read more “Risalah Jum’ah (4)”

Risalah Jum’ah (3)

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

 

Risalah Jumah (3)

 

Jumat ini saya jadwal khutbah. Karena sedang tertarik dengan daqaiq al-Qur’an, pembahasan saya terkait dengan itu. Daqaiq adalah presisi. Bagaimana dengan tepat dan sempurna, Al-Qur’an memilih satu kata tertentu dari yang lainnya. Kali ini, karena musim haji, saya membahas ayat-ayat (berkaitan dengan) haji.

Pertama, Surat Haji [22]:27, “Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” Read more “Risalah Jum’ah (3)”

Risalah Jum’ah: Pada Mulanya Adalah Kata

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

 

Saya sering bertanya pada murid-murid saya, apa yang membuat manusia istimewa? Jawaban yang paling sering muncul adalah kemampuannya untuk berpikir, untuk menyelesaikan masalah. Saya menyingkatnya menjadi kemampuan memberikan makna. Dalam bahasa Ust. Jalal yang kini menjadi tema tahunan di sekolah-sekolah Muthahhari: kemampuan manusia merangkai cerita. Read more “Risalah Jum’ah: Pada Mulanya Adalah Kata”

Risalah Jum’ah (2)

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

 

Risalah Jum’ah (2)

 

Allamah Thabarsi adalah seorang mufassir. Ia menulis kitab tafsir Majma’ al-Bayan. Konon, tafsir itu ditulis karena nazar yang ia lakukan. Satu saat, ia ditemukan tak bernafas, tak bergerak. Keluarganya mengira ia sudah meninggal dunia. Maka, jasad dimandikan, dishalatkan, dikafani dan dimakamkan. Setelah dikuburkan itulah, Allamah terbangun. Ia mengalami apa yang sering disebut orang dengan mati suri. Ia tahu apa yang terjadi. Dalam kegelapan kuburan, dalam keadaan terikat kain kafan ia berdoa pada Allah Ta’ala. Ia bernazar, sekiranya Allah Ta’ala mengeluarkannya dari kuburan, ia akan menulis tafsir Al-Qur’an. Read more “Risalah Jum’ah (2)”

Risalah Jum’ah (1)

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

 

Bahasa selalu menarik perhatian saya. Satu kata bisa menimbulkan ragam makna. Sebuah konflik besar bisa jadi berasal dari pemahaman terhadap kata yang sederhana. Perang dunia bisa dipicu oleh penggunaan kata yang tidak pada tempatnya. Ambil contoh, kata ‘kafir’. Bagaimana ia telah digunakan dalam berbagai sengketa sepanjang sejarah. Dunia tak pernah sama tanpa kehadiran kata-kata.

Read more “Risalah Jum’ah (1)”

Risalah Sakit Gigi: Paradigma Menang Kalah

Dalam halaman-halaman ke depan, saya akan bertutur lebih jauh tentang diri saya. Sedikit narsis tidak apa-apa. Bukankah kita makhluk sempurna? Benar, saya tidak sependapat dengan orang yang berkata: “Harap dimaklum saja, kita kan tidak sempurna.” Atau mubalig yang menutup ceramahnya dengan berkata: “Kalau ada kekurangan itu dari saya, kalau ada kebenaran itu dari Tuhan. Kesempurnaan hanya milik Allah swt.” Padahal, mengutip kawan saya, sempurna itu adalah milik…Andra and the Backbone.

Menurut saya, semua kita terlahir dan tercipta sempurna.

Risalah Sakit Gigi: Guru

Bagi saya, kisah Bahlul menceritakan tiga jenis guru, ustad, pendakwah, pendidik, pengajar, atau bahkan siapa saja, termasuk orangtua. Ada tiga tipe guru: pertama, yang mengajarkan anak didiknya sesuatu yang belum saatnya diketahui oleh mereka. Ibarat mengajarkan aritmatika untuk anak sekolah dasar. Atau materi filsafat yang dirasa sangat berat. Kedua, tipe guru yang mengajarkan sesuatu yang sudah diketahui bahkan dikuasai oleh anak didiknya, dan ketiga: tipe guru yang berbagi dan menggali potensi yang sudah ada pada anak didiknya dan berjuang mengarahkannya. Tipe manakah kita?

Saya perjelas lagi dengan contoh berikut ini. Misalkan saya bercerita tentang penciptaan manusia. Ada kisah yang sudah diketahui hampir oleh setiap yang membaca cerita Nabi Adam dan Siti Hawa. Yaitu tatkala Tuhan memerintahkan seluruh malaikat untuk sujud pada mereka. Semua malaikat sujud. Satu yang membangkang: Iblis. Pertanyaannya adalah: apakah Iblis termasuk malaikat? Kita akan segera menjawab: Tidak. Tapi, mengapa dia dihukum Tuhan karena tidak taat? Bukankah perintah sujud itu hanya untuk para malaikat? “Dan ketika kami perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam, semuanya sujud kecuali Iblis.” Begitu bunyi firman sucinya. Apakah mungkin sesuatu dikecualikan dari yang bukan kelompoknya? Read more “Risalah Sakit Gigi: Guru”

Risalah Sakit Gigi: Hadza masjid Bahlul

Di antara ‘keuntungan’ jadi Ustad dibanding pelawak adalah materi yang bisa diulang itu. Meski membosankan, asalkan jemaah itu komunitas yang baru, kita bisa selalu melakukannya. Saya punya beberapa tradisi kalau saya diminta datang di tempat yang baru: bercerita tentang Bahlul, atau mengajukan kuis dan bagi-bagi buku.

Ini kisah Bahlul yang biasa saya sampaikan di awal pertemuan. Kisah ini dalam berbagai versinya dinisbatkan pada Abu Nawas atau juga Mulla Nasruddin Khoja. Mana yang benar, saya kurang paham. Tapi siapa pun itu, Abu Nawas-kah, Bahlul atau Mulla Khoja, semua adalah guru-guru kehidupan yang mengajarkan kita pada kearifan dengan cara yang “we didn’t see it coming…” seperti kisah berikut ini. Read more “Risalah Sakit Gigi: Hadza masjid Bahlul”

Risalah Sakit Gigi: Salam wa rahmah

Saya sering mengawali pesan singkat saya dengan ungkapan salam itu: salam wa rahmah. Artinya: kedamaian dan kasih Tuhan. Saya memulai menulis salam wa rahmah itu kurang lebih setahun atau dua tahun yang lalu. Tiba-tiba, ia jadi ‘trending topic’. Hampir semua yang saya kenal menggunakannya. Seorang kawan bertanya pada ayah saya, apa itu “ciri” jamaah pengajian masjid kami. Ayah saya tertawa. “Itu bukan ciri jamaah masjid, itu ciri Miftah,” katanya.

Ya, makin banyak orang menggunakannya. Saya bahagia. Mudah-mudahan ada pahalanya. Mengapa saya tulis seperti itu? Saya terganggu dengan penulisan salam yang disingkat seperti ini: ass wr wb. Meskipun membacanya tetap “assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” tapi melihat tiga huruf pertama itu tanpa lanjutan huruf-huruf lain setelahnya, agak mengusik mata saya. Kurang nyaman bacanya: ass. Membaca adalah jendela pikiran. Pilihlah yang kaubaca itu akan mempengaruhi pikiranmu. Read more “Risalah Sakit Gigi: Salam wa rahmah”