Duabelas Empatbelas 1: Lucky

Belanda versus Costarica, perempat final Piala Dunia 2014. Negara dengan tradisi runner up dalam berbagai kompetisi berhadapan dengan sebuah negara kecil berpenghuni tak lebih dari lima juta. Apa saja bisa terjadi dalam sepak bola. Belanda dengan bintang-bintang besar melawan si kecil yang bergeliat berjuang. Si kecil bertahan melawan gempuran. 120 menit lamanya, hingga sampai juga pada penentuan: pemenang pertandingan harus ditentukan berbagi tendangan penalti dalam lima kesempatan.

Manajer Belanda mengganti kiper di menit terakhir jelang jeda. Bukan hanya untuk menyuntikkan tenaga baru, tapi juga untuk memberikan pesan pada lawannya, bahwa mereka telah bersiap untuk apa pun yang akan terjadi. Sebuah perang psikologis.Dan terbukti, Belanda memenangi pertandingan itu. Kiper yang baru masuk itu mementahkan dua bola yang ditendang lawan. Ia pun membaca benar arah tembakan yang lainnya.

Adakah ini keberuntungan? Ataukah kejeniusan strategi dari sekian banyak pengalaman?

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Lucky”

Duabelas Empatbelas 1: Sinar

Apa kesamaan antara Muhammad Aboutrika dari Mesir, Abadi Pele yang orang Ghana, dan Kazuyoshi Miura dari Jepang? Kita mungkin belum dengan cepat dapat menjawabnya.

Apa kesamaan antara Eric Cantona orang Perancis itu, dan George Weah yang Liberia, dan Alberto Di Stefano yang berkebangsaan tiga? Semua bisa bahasa Perancis? Bukan, bukan itu.

Tambahkan Ryan Giggs dari Wales, dan semuanya sedikit jelas karenanya.

Ketujuh orang itu adalah pemain-pemain hebat sepakbola dunia, para pemain legenda. Ada satu yang sama dari mereka seluruhnya: tak pernah main di ajang Piala Dunia.

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Sinar”

Duabelas Empatbelas 1: Imaji

Narcissus (dibaca: Narkisos) adalah sosok makhluk setengah dewa. Sehari-hari, ia senang berburu. Wajahnya tampan sekali. Bahkan, untuk ukuran pejantan, ia lebih dekat dengan kecantikan. Ia lebih cantik dari dewi kecantikan. Ayahnya dewa ‘penguasa’ sungai dan ibunya seorang peri.

Satu hari, ia berjalan-jalan di hutan—sepertinya tokoh mitologi lama sangat senang jalan-jalan. Tiba-tiba Echo, sang peri pebukitan melihatnya. Echo jatuh cinta seketika. Ia terbius keindahannya. Ia tak kuasa melawan hasratnya. Ia tunduk mengendap-endap mengikuti setiap langkah si putra dewa.

Narcissus merasa ada sosok di belakangnya membuntutinya. Ia berpaling dan berteriak, “Siapa di sana?” Dan terdengar suara Echo menggema menjawab, “Siapa di sana?” Begitu berulang kali.

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Imaji”

Duabelas Empatbelas 1: Seberang

Iklan jam tangan Rolex tahun 1953 itu istimewa. Ia akan senantiasa dikenang dalam sejarah. Tiga orang pendaki, memandang ke atas, ke arah gunung tinggi.Tersenyum seolah berkata, “Aku telah taklukkan kamu, aku sudah berada di atas sana.” Sir Edmund Hillary, Kolonel Sir John Hunt, dan Tenzing Norgay GM berpose dengan gagahnya. Senyuman Norgay paling lebar di antara yang lainnya.

Sejak ekspedisi itu, jam tangan mahal itu identik dengan petualangan. Jauh sebelumnya, duapuluh tahun sebelumnya penjelajahan untuk menaklukkan puncak tertinggi dunia sudah dimulai, dan Rolex senantiasa menjadi bagian di dalamnya. Ada yang mengartikannya namanya sebagai ‘royal expedition‘ atau ‘royal exploration‘.Apa pun itu, ia telah meninggalkan jejak yang tak bisa disaingi oleh siapa pun selainnya. Ia telah membuat jam itu lebih dari sekadar alat penunjuk waktu.

Jejak itu kita sebut ‘imprint’. Inilah yang ditinggalkan oleh siapa saja. Imprint leluhur kita ada pada kita. Dan jejak kita akan tampak pada anak cucu kita. Pertanyaannya, jejak seperti apa yang akan melekat selamanya?

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Seberang”

Duabelas Empatbelas 1: Pembunuh

Justin Helzer percaya bahwa Tuhan menjelma dalam saudaranya. Lebih dari itu, ia meyakini saudaranya sebagai tuhan. Ia menolongnya menghabisi lima nyawa. Ia ditangkap, dipenjarakan di San Quentin, dan dijatuhi hukuman mati. Proses yang lama menunggu eksekusi membuatnya berusaha membunuh dirinya beberapa kali. Ia tusuk kedua matanya dengan balpoin. Ia hantam juga batok kepalanya. Setelah tiga kali percobaan bunuh diri yang gagal, pada kali keempat, penjaga menemukannya tergantung terikat dengan serpai tempat tidurnya. Ia tewas mengenaskan sebelum jadwal hukumannya tiba.

Dalam wawancara dengan Nancy Mullane, wartawan investigatif finalis Pullitzer Award, Helzer mengaduk-aduk perasaan pembacanya. Iamenyesal telah membunuh. Ia merasa bukan dirinya sendiri. Tumbuh sebagai penganut Mormon telah membuatnya mengembangkan sekte tertentu bersama saudaranya. Kepada Mullane, ia sampaikan sisi kemanusiaannya. Ia sampaikan penderitaan yang dijalaninya, menanti proses hukuman bertahun-tahun lamanya, hanya untuk menghadapi sesuatu yang sudah pasti: kematian.

Apa bedanya Helzer dengan kita semua? Kita akan mengatakan kita bukan pembunuh. Kita juga tidak sedang menanti hukuman mati. Mari lihat dari sisi yang lain, dan kita akan menemukan banyak kesamaan.

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Pembunuh”

Duabelas Empatbelas 1: Tiket

Joedir Belmont tak mengira sesuatu yang ditunggunya hadir begitu lama. Bahkan pada saat ia sudah melupakannya, ketika ia sudah tak lagi memikirkannya.

Warga Brazil ini berkesempatan untuk menghadiri final Piala Dunia 2014 di Maracana. Yang menarik, tiket yang ia gunakan berusia lebih dari setengah abad.

Saat masih berusia 21 tahun, Belmont membeli tiket final 1950. Karena satu hal, pertandingan yang dimenangkan Uruguay itu tak dapat dihadirinya, tak dapat disaksikannya. Brazil sebagai tuan rumah, kalah 1 – 2 dari tamunya. Belmont menyimpan tiket itu lebih dari enampuluh tahun lamanya.

Kini, ketika Piala Dunia kembali digelar di negerinya dan FIFA berniat untuk membuka museum sejarah sepakbola, Belmont mengirim tiket itu sebagai sumbangan untuk museum. FIFA menyambutnya bahagia. Ia menjadi bagian dari sejarah sepak bola. FIFA mengundangnya ke final bersama keluarganya ke tempat yang sama yang dahulu tak dapat disaksikannya. Tentu Macarana sudah berubah, jauh lebih besar, lebih indah. Tentu saja ia tidak tahu sebelumnya apakah Brazil akan sampai ke final tahun ini. Tapi ia sudah bahagia, kesabarannya mendatangkan buah yang sama sekali tak dikiranya.

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Tiket”

Duabelas Empatbelas 1: Takut

Muhammad Lamine Mediène dikenal sebagai orang kuat di Aljazair, bahkan lebih kuat dari presiden negeri itu sendiri. Ia dikenal dengan panggilan “Taufik”. Konon, sedikit sekali catatan resmi mengenainya. Bahkan orang yang bertamu kepadanya hanya dapat melihat punggungnya. Ia berbicara membelakangi tamunya. Jangan harap melihat wajahnya, bila masih ingin selamat keluar dari rumahnya.

Taufik mengepalai DRS, badan intelijen negara itu sejak 1990. Berkali presiden berganti, ia bertahan di posisi. Usianya kini sekitar 73 tahun, dan hampir seperempat abad ia disegani dan ditakuti di dalam negeri.

Penguasa itu ada dua: yang terpilih dan yang dipilih. Terpilih karena proses demokrasi, transisi, atau sebuah ambil alih kuasa dalam bentuk yang lainnya. Dipilih karena ia memenangkan hati rakyatnya, disegani dan dihormati tanpa harus menyandang jabatan tertentu di antara mereka. Sepertinya, kita harusmenambahkan yang ketiga di antara keduanya: yaitu ia yang tak terpilih dan tak dipilih. Melainkan tumbuh sebagai kekuatan tak terlihat. Kuasa yang tersirat. Dan ia bisa tampil dalam banyak wajah.

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Takut”

Duabelas Empatbelas 1: Sejarah

Duabelas
Empatbelas

Another book of reflections by Miftah F. Rakhmat

Bagian I: Faktual

Sejarah

History doesn’t repeat itself, but it sure does rhyme.” Sejarah tak mengulangi dirinya, tapi sungguh ia punya pola yang sama.

Kutipan yang sering dinisbatkan pada Mark Twain ini cukup unik. Orang sering menyebut bahwa sejarah itu berulang. Tidak, sejarah tidak pernah berulang. Ia hanya berjalan pada pola yang serupa. Seirama, ibarat pantun pada nada yang sama.

24 Juni 1914, seorang Serbia, Gavrilo Princip melepaskan dua tembakan. Sasarannya, pasangan bangsawan dari Hohenberg Austria, Archduke Franz Ferdinand dan istrinya Sophie. Tembakan pertama mengenai perut Sophie. Tembakan kedua pada leher sang suami. Keduanya tewas seketika.

Apa yang menarik dari peristiwa ini? “Kematian satu orang itu tragedi,” kata Stalin, “sedangkan kematian sejuta orang, itu (hanya) statistik,” ujarnya pula.

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Sejarah”