Duabelas Empatbelas 2: Pulang

Udara dingin, tapi itu biasa. Matahari bersinar secukupnya dan awan seputih kapas itu bergantian menutupinya. Yang berbeda adalah keheningan yang luar biasa. Terlalu lama, lebih dari setengah jam lamanya. Tak ada seorang pun berbicara. Bahkan tak ada gumam doa. Semua menunggu apa yang terjadi di bawah sana.

Aku tak berani melangkahkan kaki lebih jauh. Di hadapanku berkumpul keluarga yang berduka. Momen seperti ini adalah saat yang harus dihormati. Tidak boleh asal bicara. Terlarang sembarang berkata. Peristiwa duka cita, kembalinya seorang hamba pada Tuhannya, adalah saat-saat istimewa, ketika seluruh raga mematung di hadapan kebesaranNya, dan seluruh jiwa merebah pasrah pada garis ketentuanNya.

Setiap menghadiri pemakaman, aku dan yang hadir selalu diingatkan bahwa giliran satu di antara kami berikutnya. Malakal maut akan mengepakkan sayapnya dan menjemput seorang dari kami. Ajaib, biasanya aku merasa, giliran orang lainlah berikutnya, bukan aku. Setiap mengantar jenazah itu, aku selalu mengira, orang lain yang lebih dulu dijemput, bukan aku. Orang lain yang kuantarkan. Bukan mereka yang mengantarkanku. Kecuali sekarang ini.

Melihat bagaimana jasad itu diperlakukan, tiba-tiba muncul rasa iri dalam diriku. Haji Abdul Ridha menyebutnya ‘ghibthah’. Iri yang baik. Iri karena rasa hormat. Seperti iri pada orang-orang yang bisa menghafal kitab suci dan kita ingin seperti mereka. Aku tahu iri bukan kata yang tepat. Tapi aku tak tahu kata lainnya.

Aku dengar keluarga memperlakukan almarhumah begitu terhormat. Setelah dimandikan dengan campuran kecil dari air kapur dan bidara, mereka mengkafani jenazah itu dengan kain seribu nama. Seribu nama Tuhan. Lalu doa terpanjat, tiada henti. Alangkah dihormatinya. Alangkah indahnya. Hari apalagi yang paling penting bagi manusia, kecuali hari terakhirnya.

Aku tak mengenal almarhumah. Begitu pula sepertinya Haji Abdul Ridha, guruku. Selain membina madrasah, ia juga bertugas atas satu kompleks pemakaman di depan halaman pusara seorang imam besar dalam Islam, Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu, cucunda kinasih baginda Nabi Muhammad Saw. Imam Husain, begitu penduduk kota menyebutnya, gugur tahun 61 Hijriah ketika berjuang menyelamatkan agama yang sejati. Sejak itu, pusaranya menjadi tempat ziarah. Dan sebuah kota tumbuh di sekitarnya. Ada beberapa kompleks pemakaman di sekitar pusara Imam Husain itu. Dan Haji Abdul Ridha diamanati mengurus satu di antaranya. Orang antri, bahkan berebut mendaftarkan namanya untuk dapat dimakamkan di tempat itu. Aku pernah melihatnya sendiri. Tua, muda, bahkan anak yang masih belia, ingin menuliskan namanya. Tentu giliran diatur sang malakal maut, dan hanya dia dan Tuhan yang tahu kelak dijemput di mana, dimakamkan di mana. Tapi tercatat sebagai yang meminta saja, sudah jadi kebahagiaan tersendiri sepertinya.

Aku ikut Haji Abdul Ridha. Usai jenazah dikafani, ia dibawa ke halaman makam cucu Nabi itu. Di sana, menghadap kiblat, ia dishalatkan. Guruku pula yang jadi imamnya. Dan doa-doa diantarkan tiada henti. Tahlil, shalawat nabi, ziarah suci…semua mengalun menemani. Barulah setelah itu, jenazah diarak ke pemakaman. Sebuah lubang sudah disiapkan. Aku turut serta mengangkatnya. Konon, dapat banyak pahala. Aku tak terlalu peduli. Rasanya ingin berkhidmat, pada orang yang hendak kembali ke kampung akhirat.

Sebelum memasuki liang lahat, ia berhenti tiga kali. Diturunkan di pintu masuk pemakaman. Lalu doa kembali dipanjatkan. Lalu diangkat, dan diturunkan lagi, kira-kira di pertengahan. Lagi-lagi, seluruh doa itu. Tak sulit menaikturunkan keranda kayu persegi itu, karena kompleks pemakaman tak lebih dari sebuah halaman yang sangat besar. Permukaannya rata. Tak ada nisan mengemuka. Hanya sebaris nama yang tertera, di lantai yang diinjak para peziarah itu.

Jenazah diturunkan lagi. Kali ini, persis di bibir lahat pekuburan. Karena perempuan, ia ditidurkan terlebih dahulu sejajar dengan makam. Membentuk dua garis sama lurus. Bila laki-laki, ia akan dibaringkan di arah kaki makam, dan diturunkan dari arah itu.

Keluarga sudah berada di dasar makam. Tanah padang pasir tak sulit digali. Butiran debu coklat keemasan lembut terlihat. Tanah itu tak keras, tak juga lentur. Lembut. Indah sekali untuk mendekap jasad itu.

Jenazah sudah dibaringkan oleh keluarga. Kemudian Haji Abdul Ridha turun, dan yang lain naik ke atas. Dan, dimulailah hening itu. Kini hampir setengah jam lamanya. Tak ada yang berani mempertanyakan. Kami semua berdiri di atas makam, dan Haji Abdul Ridha masih di dalamnya. Keluarga terdekat, yang melihat jelas ke dalam, tiada yang berbuat apa pun. Aku pun terdiam. Hening yang mengusik penasaran, dengan ketenangan yang menenteramkan.

Akhirnya, Haji Abdul Ridha berdiri. Butir demi butir debu menutupi jenazah itu. Orang membantunya, tapi Haji mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa ia melakukannya seorang diri. Semua mematung sambil berdoa. Hingga akhir dan usai seluruh pemakaman, Haji tertegun dalam doa, lalu menangis teramat hebatnya. Tak ada pula yang berani bertanya kepadanya. Mata Haji terlihat sembab, kemudian terdengar ia berkata… “Mana anak ibu ini…Yang mana putranya…? Bawa…bawa ia padaku…” ia terlihat berusaha mengatur nafas, dan mengendalikan kata yang keluar dari lisannya.  Belum pernah aku melihat Haji seperti itu. Serius, dalam, seperti menyimpan sesuatu yang amat berat, tapi pada saat yang sama bercahaya.

Orang-orang menyarankan agar Haji beristirahat. “Tidak,” katanya tegas kali ini. “Aku harus bertanya pada anaknya…” Seorang pemuda kemudian dibawa ke hadapan Haji. Kepadanya, Haji bertanya,

“Ada apa antara ibumu dan Al-Husain?”

“Ada apakah gerangan, Haji?”

“Apakah ia pelantun cerita Al-Husain?”

“Bukan.”

“Apakah ia penyelenggara majelis untuk Al-Husain?”

“Bukan.”

“Apakah ia punya tempat singgah untuk para peziarah Al-Husain?”

“Tidak.”

“Lalu, apa? Mustahil…pasti ia melakukan sesuatu untuk Al-Husain?”

“Ada, Haji. Dan kami sangat mengenalnya. Ada dua hal. Yang pertama, sejak kami kecil hingga sekarang, hingga akhir hayatnya. Tidaklah Ibuku mengawali harinya, kecuali di pagi hari ia berkata, ‘Ya Husain Ya Husain’. Tidaklah ia memasuki petangnya kecuali ia berkata, ‘Ya Husain Ya Husain’.

Dan kedua, sejak kecil kami, kami hidup sederhana. Ibu menafkahi kami. Kami miskin. Tapi kami punya kebun kecil. Kami tanami mentimun, tomat dan sebagainya. Hasilnya kami gunakan menopang hidup kami. Enam hari dalam seminggu, kami makan hasil tanam kami. Kecuali hari yang ketujuh. Ibu tidak pernah mengambil hasil hari itu. Kami tidak pernah memakannya. Kami tidak makan hari itu, dan Ibu akan berkata, “Hasil hari ini, mari kita bagikan pada orang banyak. Dan kita antarkan pahalanya untuk Al-Husain…” Begitu, Haji. Hingga datang hari ini…”

Haji kembali menangis, memegang tangan anak muda itu dan berkata, “Tahukah engkau, ketika aku turun untuk mendoakan ibumu, dan kubuka sedikit kafannya, untuk kutaburkan debu tanah ini, tiba-tiba seberkas sinar berkelebat…tanganku mendadak berat, dan kudengar suara berkata, “Haji Abdul Ridha…perempuan ini dalam jamuanku. Ia adalah tamuku…”

Dan keheningan itu kini lebih mencekam. Udara dingin berubah hangat. Tapi aku menggigil gemetaran.

Aku merasa sendirian. Aku merasa kesepian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *