Duabelas Empatbelas 2: Palsu

“Suit suit…” bunyi sms kesekian kalinya masuk ke hapeku. Pasti, ucapan selamat lebaran, pikirku. Ini sudah yang kesekian kali. Aku ambil hapeku. Tertulis: 23 pesan baru, 6 percakapan di grup, dan satu missed call. Alih-alih membaca pesan singkat itu, aku ubah moda penerima. Aku pilih nada getar. Aku tidak merasa bernafsu untuk segera membuka pesan-pesan itu. Moodku sedang aneh, tidak enak. Tidak karuan.

Kata orang, begitulah kalau sedang datang bulan. Kaum lelaki takkan pernah tahu rasa sakit ini. Mereka hanya tahu enaknya saja. Mereka menenangkan dengan berkata, “Tuhan mencintaimu. Tuhan membersihkanmu. Bayangkan saat pertama nanti kau boleh shalat lagi. Alangkah indahnya. Alangkah syahdunya.” Mereka sekadar cari alasan karena tak punya dalih untuk bisa tidak sembahyang.

Aku tak suka lebaran. Aku tak bisa ikut shalat karena halangan. Aku duduk saja di parkiran. Pak Ustadz berkhutbah dengan mengatakan, “Kita harus bersedih. Hari ini setan membentangkan spanduk ‘selamat datang kawan, selamat datang teman’. Hari ini setan bersuka cita. Ia diizinkan Tuhan kembali menggoda kita.” Aku tersenyum kecut mendengarnya. Lebih tepat lagi, sinis. Aku kira orang Islam yang berbahagia. Ternyata, setan juga. Makin bingung aku jadinya. Pak Ustadz menutup khotbah dengan doa yang mendayu. Menurutku, ia sengaja ‘merintihkan’ nadanya. Merintihkan. Artinya, membuat rintihan. Ia ingin membuat orang lain menangis. Ia terdengar tersedu beberapa kali. Beberapa jamaah terlihat menangis. Aku tidak. Aku tidak dapat membohongi hatiku. Aku tidak sedih.

Itulah yang tak kusuka berikutnya saat lebaran: kepura-puraan. Wajah manis datang meminta maaf, tapi di hati masih tersisa noda itu. Buktinya, tak banyak bicara kecuali formalitas saja. Lebaran penuh kepura-puraan. Keluarga besar berkumpul seolah tak ada masalah, padahal di luar itu keluhan terdengar setiap hari. Dosa seabrek, kesalahan setumpuk, amarah segudang…semua dihapus ‘hujan’ satu hari. Semua hilang hanya dengan jabat tangan, “Maaf lahir batin ya…” No way! Tidak bagiku. Semudah itukah memaafkan? Sorry, aku tak suka.

Apalagi kemudian datang kerabat, yang hanya bertemu setahun sekali. Tetangga dekat pun, bertahun-tahun berdampingan, hanya kali ini masuk rumah. Semua akan menghujaniku dengan pertanyaan rutin. Sebelum menikah, “Kapan nikahnya? Masih lajang?” Setelah menikah, “Belum punya momongan juga? Sabar ya…” Setelah punya anak satu, “Mana adiknya?” Lalu lahir anakku yang kedua, “Kapan yang ketiga?” Aargh! Tak berhenti, datang lagi dan lagi. Kedua anakku perempuan, cantik-cantik. Lucu-lucu. Aku sudah tahu pertanyaan untukku tahun ini: “Anak lakinya belum, Jeng…? Ayo, mumpung masih muda…”

Gusti Allah, ampuni aku. Aku benci lebaran ini. Aku tidak suka kepura-puraan. Aku takut untuk mengatakan kemunafikan. Aku tahu aku bukan perempuan shalehah. Kerudungku seadanya. Di sebuah masjid, tarawehan lalu, aku ditegur seorang jamaah, “Mbak, apa tidak malu telanjang seperti itu?” Astaghfirullah, aku kan berkerudung. Perempuan sebelahku memahami keterkejutanku, “Mbak pakai kerudung, tapi lekuk tubuh Mbak masih kelihatan. Itu sama aja telanjang, Mbak.” Aku tahu ia berniat baik. Celak mata hitam tanpa kosmetik, kerudung hitam sampai ke pinggang. Ia perempuan yang shalehah. Ia tampaknya baik. Sayang, aku tidak melihat rona bahagia di antara matanya.

“Drettt dreerttt, drettt, dreeertt…” Tiba-tiba hapeku bergetar, membuyarkan lamunanku. Nomornya, tak aku kenal. Malas menerima telepon dari orang asing. Paling mengucapkan lebaran juga. Sudah, sudah. Aku maafkan semua. Lahir batin, yang dulu, yang nanti. Beres, semua terhapus. Ayo, mau minta apa lagi?

Suamiku sedang berangkat ke rumah orangtuanya. Aku memilih tak ikut. Ibu mertua pernah memarahiku karena tak pandai mengurus suami; tak memasak, tak mencuci. “Lalu apa gunamu?” Tanyanya dengan nada yang tinggi. Sudah bukan rahasia, kalau Ibu mertua punya calon menantu selain aku. Tapi suamiku memilih aku. Meyakinkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia sendiri tidak pernah mengeluh. Aku lupa. Aku bukan menikahi satu orang. Aku juga menikah dengan keluarga besarnya. Aku tahu harusnya aku datang meminta maaf Ibu mertua. Lagi-lagi, aku tak suka pura-pura. Manis di mulut, padahal perasaan masih kalut. Aku akan datang, nanti kalau sudah siap saja.

Taraweh lalu, usai ditegur perempuan itu, aku memilih lanjut ke Subuh. I’tikaf kata orang.  Semalam suntuk tak tidur, mengisi waktu dengan doa. Suamiku mengizinkanku. Ia pulang dengan kedua bidadariku. Masjid menyelenggarakan program tahajjud berjamaah. Mungkin barang baru, tapi apa salahnya. Aku tak begitu paham agama pula.

Jelang dini hari, Pak Ustadz memimpin kami berdoa. Suaranya tegas. Ia merintih, bukan membuat rintihan. Tak urung, aku dibuat haru. Apalagi ketika lampu diredupkan. Aku menangis menjadi-jadi. Aku memohon ampun dia. Aku meminta maafNya. Gusti Allah, sayangi aku. Aku bukan anak yang berbakti. Aku bukan istri yang shalehah. Aku bukan ibu yang penyabar, aku bukan hamba yang taat. Aku bukan menantu yang baik…aku tahu aku salah, cepat marah, cerewet, apa adanya…tapi inilah aku di hadapanMu, Tuhan…tanpa kepura-puraan. Tanpa senyuman dan tatap kepalsuan. Ini aku apa adanya. Kau mau hukum aku? Silakan Tuhan, silakan… Kau Mahakuasa, apa yang menungguMu? Berharap aku taubat? Bagaimana? Apa yang harus kulakukan…?

Telepon akhirnya aku matikan. Kalau pun ada sms, pastilah copy paste dari sana sini. Pintu rumah pun aku tutup. Tak berharap ada tamu. Nyeri datang bulanku cukup jadi alasan untuk segalanya. Untuk suami, untuk Ibu, untuk anak-anak.

Ya Tuhan, Gusti Allahku yang mahaagung! Tiba-tiba aku tersadarkan. Seperti ditempeleng sangat keras hingga mengalihkan rasa nyeri itu. Siapa yang aku bodohi? Diriku sendiri. Selama ini aku menolak kepura-puraan. Ternyata aku yang pandai menutupi, lihai bersembunyi. Aku yang munafik itu, Tuhan. Betapa sering datang bulanku jadi alasan. Haruskah ia mencegahku untuk dekat pada Tuhan? Haruskah ia menahanku dari berkhidmat pada suami? Mestikah ia menjauhkanku dari anak-anakku hanya karena aku malas bermain bersama mereka?

Para lelaki memang tidak tahu sakit yang diderita wanita. Tapi mereka juga tidak tahu kekuatannya. Kami para wanita sanggup mengalahkan apa saja. Hati bisa sekeras batu, tapi dengan cepat meleleh bagai es di sahara. Kami bisa memendam dendam, tapi kami juga bisa cepat memaafkan. Terkadang, gengsi mengalahkan kebenaran. Ego pribadi menaklukkan kenyataan. Aku sadar itu kini. Aku perempuan kuat. Aku mungkin disakiti. Tapi aku pasti bisa bangkit lagi.

Aku raih telepon genggamku. Bergegas ke depan pintu. Aku melangkah ke jalan luas itu. Berharap ada ojeg atau taksi yang mau mengantar aku. Aku harus ke rumah mertuaku. Aku harus tersungkur di kakinya, memohonkan maafnya. Aku harus bersimpuh pada suamiku, memohonkan ridhonya. Aku harus peluk anak-anakku. Sudah lama aku tak menciumi mereka. Sudah lama aku tidak membelai rambut panjang mereka dan berkata, “Aku mencintaimu, bidadari kecilku…”

Aku berlari. Jalanan lengang. Siapa mau bekerja pada hari raya seperti ini? Ayolah, ojeg datanglah? Taksi, muncullah. Angkot, delman, apa saja? Tolonglah. Tolonglah Tuhan…

Sambil menyusuri jalanan yang sepi itu, aku berusaha mengaktifkan kembali handphoneku. Gemertak di batinku membuat tanganku bergetar memegangnya. Bulir-bulir air mataku jatuh membasahi layar teleponku. Ayo, suamiku, jemput aku…aku menujumu…mataku tertuju pada layar itu, dan…Aaaaah! “Crrittt!” Suara rem mendadak mengejutkanku. “Lihat kalau jalan, Ibu!” Teriak seorang pengendara kepadaku. Hampir saja aku tertabrak. Bila pengemudi itu tidak waspada.

Pintu belakang terbuka. Kaki berbalut stocking hitam terlihat. Kemudian seluruh jilbab hitam yang meliputinya. Dia…ah, hampir-hampir aku tak percaya. Dia perempuan yang sama yang menjulukiku telanjang tempo hari. “Mbak tidak apa-apa?” Bicaranya tenang. Aku menangis mendengarnya. Ia orang asing, tapi aku merasa nyaman memeluknya. Airmataku tumpah berderai, deras, deras sekali. Kadang-kadang orang hanya perlu pemicu. Tangisan itu sudah aku simpan sejak lama.

Perempuan berjilbab hitam itu mempersilakan aku masuk ke mobilnya. Kepadanya aku ceritakan tujuanku. Ia tak bertanya lagi. Ia menggenggam tanganku erat.

Aku tiba di tempat yang kutuju. Rumah mertuaku. Aku peluk pengantarku itu. Aku berbisik hangat, “Terima kasih…”

Ya, dua kata itu yang selama ini hilang dari diriku. Pikirku hanya hak dan kewajiban saja. Bahkan pada Tuhan. Aku lupa berterima kasih. Saat lebaran, orang datang meminta maaf. Harusnya mereka datang berterima kasih. Betapa sering kita minta diikhlaskan, minta dikasihani, minta diampuni, tapi kita jarang menyampaikan apresiasi. Lebaran bukan untuk minta maaf. Lebaran untuk saling berterima kasih. Untuk saling mensyukuri.

Terima kasih Ibu mertua, terima kasih suamiku, terima kasih bidadari kecilku. Terima kasih Pak Ustadz yang merintihkan doa. Terima kasih perempuan berjilbab hitam. Terima kasih sopir yang hampir menabrakku. Terima kasih almarhum ayah dan Ibuku…Terima kasih Tuhan, terima kasih seluruh rasa nyeri dan perih itu. Terima kasih atas seluruh amarah dan sakit hati. Terima kasih Mbok Inah, pembantu di rumahku. Terima kasih pada setiap orang yang hadir dalam hidupku.  Terima kasih untuk semua sms dan missed calls itu.

Airmataku deras membasahi pipiku. Aku berlari menuju keluargaku. Aku tak peduli lagi kepura-puraan. Aku hanya ingin berterima kasih. Itulah pinta maaf yang sesungguhnya.

Terima kasih, Gusti Allahku…istighfarku adalah syukurku.

Terimalah kemunafikanku ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *