Duabelas Empatbelas 2: Hilang

“Kemarahan sesaat, menghilangkan kebahagiaan. Kau tahu itu?” Tanyaku sambil menggenggam tanganmu. Engkau tersenyum dan berkata, “Aku tidak marah. Aku hanya diam saja. Diam tak selalu marah. Tahukah kau itu?” Kau malah balik bertanya kepadaku. Ajaib. Cerdas pada saat yang sama.

Aku memang tak mengerti jalan pikiran wanita. Sepertinya, takkan pernah sanggup untuk mengerti. Ternyata misteri itu satu kebahagiaan. Mengetahui yang pasti, justru bisa jadi penderitaan. Bayangkan, karena berbuat salah, api amarah dapat meledak kapan saja. Bayangkan tak lagi harus menerka, tak lagi harus mengira. Jenuh rasanya.

Kau bukan wanita pertama yang tak kupahami. Dan tak satu pun wanita benar-benar pernah kumengerti. Bila satu saat berkata ”a” lalu kulakukan, ia akan berkata, ”itu dulu, sekarang mauku bukan itu.” Pusing aku. Kau bukan wanita pertama yang membuat keningku mengerut, membuatku berpikir tentang wanita. Tidak, kau tidak membuatku berpikir tentang itu. Kau membuatku berpikir tentang pikiran itu sendiri.

“Kau pintar membolak-balik kata,” jawabku menanggapi. Kau dengan cepat menimpaliku, “Kata hanya dibolak-balik, bila kau punya maksud lain di hatimu.”

Aku lepaskan genggaman tanganku. Aku sadar. Belum lama aku mengenalmu. Saat mengendarai Toyota Lexusku, mataku terantuk pemandangan yang tak lazim. Seorang perempuan muda, berjalan seorang diri. Di siang hari itu. Wajahnya bersih. Tingginya rata-rata. Pakaian lusuhnya tak dapat menutupi keindahan yang Tuhan karuniakan baginya. Tak ada tas pinggang, tak ada yang digenggam. Sesekali meloncat-loncat beraturan. Lalu, mataku dan matamu beradu. Sebentar saja. Tapi sepertinya panah Cupid itu telah menohok jantungku.

Kata orang tak ada itu jatuh cinta. Yang ada, belajar mencintai. Aku tak tahu, apa aku mencintaimu saat itu. Cinta pada pandangan pertama hanya ada pada ibu dan anaknya, atau ayah yang mendampingi kelahirannya. Tapi, keliru juga. Mereka sudah mencintai jabang bayi, jauh sebelum melihatnya.

Aku arahkan kendaraanku ke luar jalur. Aku menepi. Aku harus berhenti. Dorongan sesaat untuk mengenalmu tak dapat aku cegah. Ini sesuatu yang tidak pernah kurasakan. Di kota besar ini, kehidupanku perlambang keberhasilan. Eksekutif muda, ambisius, banyak relasi, dan masa depan yang sangat menjanjikan. Umurku baru kepala tiga, dan aku hampir sudah mencoba segalanya…kecuali jatuh cinta.

“Cepatlah menikah” seloroh teman-temanku. Mereka tak pernah berhenti menggoda. Aku tak tahu apa yang menahanku. Aku hanya tidak menemukan alasan untuk itu. Tapi ketika melihatmu, aku menemukan jawaban dari keraguanku. Bukan pada pernikahan, tapi pada keseimbangan. Pada pemenuhan dahaga yang tak terpuaskan, pada kekosongan yang tiba-tiba saja menghentak kesadaran.

Aku cari tempat untuk memarkir kendaraanku. Begitu turun, dengan cepat kususuri jalanan itu. Kukejar langkah kakimu. “Maaf, Nona…” begitu aku menghentikanmu. Bukan masalah bagiku memulai kata. Masalah muncul saat harus melanjutkannya…

“Ya?” Kau mendelik, “…Mas memanggil saya?” Kepalamu bergoyang ke kanan dan kiri, mencari orang lain. Tak ada. Hanya ada kau dan aku.

Aku mematung. Pengalamanku menghadapi berbagai perjanjian dagang yang sulit, gugur seketika. Adu silat lidahku luntur tiba-tiba. Aku lumpuh. Kata-kataku tersekat di ujung lisan.

“Mas ada perlu dengan saya?” Tanyamu pasti penuh keheranan. Keringatku mengalir deras. Inilah saat ketika otak tak bekerja dan naluri dasar manusia mengambil alih tempatnya. “Baik, permisi…” ujarmu meninggalkan aku.

“Tunggu…” aku setengah berteriak, “…” dan lagi-lagi aku kehilangan kata.

Kau sepertinya memahami kekakuanku. Berbeda dengan laki-laki, wanita dapat dengan cepat mengerti isi benak pria. Dan kau memecah kekikukanku, keheningan itu dengan berkata, “Mengapa lama begitu? Ayo…” Lalu kau menarik tanganku dengan cepat dan mengajakku berlari. “Aku tahu jalan pintas. Aku tahu tempat yang sepi dari keramaian.” Bagai kerbau dicocok hidungnya, aku mengikutimu.

Maka dimulailah petualangan itu. Meniti jalan setapak, menyeberangi rel kereta, dan menyusuri bantaran sungai. “Orang kantoran tak melihat keindahan ini,” ujarmu, “Mereka terbiasa memandang permukaan. Tak melihat apa yang ada di baliknya.”

“Apa itu?” Tanyaku. “Kebebasan…” dan kemudian hening. Aku mencoba mencerna.
“Lepaskan dirimu dari belenggu. Berjalanlah tanpa tahu ke mana menuju. Cobalah hidup dalam hitungan hari. Kau tak tahu besok ada di mana, melakukan apa, makan atau tidak, bersama siapa…serahkan dirimu sepenuhnya pada Dia…bebas. Kau hanya jadi pion kecil pada papan yang dimainkanNya.”

Aku takjub. Makin penasaran. Kau makin membuatku ingin tahu. “Boleh aku tahu namamu?” Keberanian dan kata-kata itu mulai kembali padaku. 
“Tidak…tidak ada nama. Bebas. Nama adalah belenggu. Nama akan mengikat. Ia akan menghantui.”

Aku menyerah. Aku pasrah pada roda nasib. Kampus mentereng telah membuatku pongah, tapi perempuan yang dididik kampus kehidupan ini telah membuatku memandang sisi lain peristiwa. Aku selalu ketakutan. Kuatir bawahanku mengkhianatiku. Cemas kendaraanku digores orang di lampu merah. Aku menumpuk kekayaan tanpa sempat menggunakan. Aku khawatir masa depan yang tak dapat kubayangkan. Aku curiga bila ada pandang tak menenteramkan. Ternyata aku tak punya apa-apa. Semua di sekitarku ilusi. Semua tak pasti.

Aku biarkan kau menceramahiku. “Nikmat apa pun pada akhirnya ada ujungnya juga. Yang asyik itu tak lama. Yang enak itu sebentar. Lalu kebosanan akan menyergapmu, menerkammu tanpa sempat kau menghindar. Menikammu tanpa bisa kau melawan. Dan tibalah penyesalan, akan apa yang bisa kau lakukan: ah, andai aku bersabar lebih lama. Ah, andai tak kutinggikan nada suara. Ah, andai kucium tangan Ibunda. Ah, andai kupeluk mereka lebih lama…andai, andai…dan berbagai andai lainnya. Kau tahu, berbuat baik tak perlu alasan. Orang bilang harus tepat beramal. Keliru, kau harus ikhlas beramal.  Kesempatan berbuat baik itu, datang setiap saat bagi kita. Kau bisa ikhlas kapan saja. Mudah.”

“Misalnya?” Aku menyela. Asyik juga mendengarkan ‘khotbahmu’.

“Kau bukakan pintu untuk orang lain. Kau pergi ke klinik dan bayarkan pengobatan orang yang tak kaukenal. Tak perlu miskin. Kau beri seseorang hadiah. Kau telepon sahabat. Kau doakan dia. Kau pungut sampah. Kau tak mengeluh bekerja. Kau berikan kembalian sisa. Kau lebihkan biaya parkir yang tertera. Apa saja…teramat banyak untuk disebutkan.”

Lagi-lagi aku membisu. Lalu tibalah saat itu. Aku dan kau sampai di pekuburan tua. Kau berkata, “Ini tempat kesukaanku. Sekarang lakukan apa yang kau mau. Bebas. Tanpa ikatan. Kau di sana. Aku di sana.” Kau menunjuk dua arah yang berbeda.  Aku menurutimu. Aku bersandar pada pohon yang kau tunjuk. Tak tahu harus melakukan apa. Jangan berpikir. Bebas…bebas. Akhirnya aku ambil tangkai kering, dan kugambar sesuatu di tanah, entah berbentuk apa, entah akhirnya bagaimana. Bebas.

Dan di sana, kau tersenyum memandangiku. Rupanya, itu yang kaupilih kaulakukan. Aku bahagia itu membahagiakanmu.

Aku tak tahu berapa lama sudah waktu berlalu. Mentari hampir kembali ke peraduan. Dan kau masih saja tersenyum memandangiku. Hening. Tanpa kata. Hingga kemudian perasaanku tak dapat kubendung lebih lama. “Aku bahagia hari ini.”  Ucapku.

“Aku juga,” jawabmu, “Tapi ada satu hal yang tak kusampaikan kepadamu.”

“Bila kau sampaikan, akankah itu menambah kebahagiaanku atau menguranginya?”

“Menguranginya.” Jawabmu.

Tuhan, aku memejamkan mata. Perempuan ini tahu benar bagaimana membuatku menderita. Bagaimana membuatku tetap menerka. Ia baru saja mengurangi kebahagiaanku dengan tak menyampaikan sesuatu yang disebutkannya. Entah apa. Sepertinya ada yang hilang. Kebahagiaanku yang membumbung tiba-tiba saja dijerembabkan.

“Apa itu?” Tanyaku membuka mata.

Dan kau…tak lagi hadir di sana.

Illustrasi: livedoor.blogimg.jp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *