Duabelas Empatbelas 2: Fanatik

“Jun, ikut aku yuk, ada Ustadz baru di Masjid raya…” ajak Hamid sahabatku. Ia paling suka safari keliling masjid, mendengarkan berbagai ustadz, mengetahui ragam pendapat dan menikmati cara penyampaian yang berbeda. Kata dia, “ngaji bisa sama siapa saja, yang benar itu pasti enak didengar. Kalau ada yang tidak tahu, kita bisa tanya.” Aku masih belum bisa seperti dia. Aku tumbuh dalam tradisi keagamaan yang kuat. Keluarga selalu mewanti-wanti bila ada paham yang dianggap baru, “Hati-hati, banyak sudah dalam agama itu yang tak asli, yang diubah dan dibuat baru. Jangan sampai kamu masuk neraka karena salah mengambil guru.” Sejak itu, aku selalu ketakutan menghadiri pengajian selain di masjidku. Daripada celaka, lebih baik tetap di tempat yang  menjamin keselamatan.

“Aku dengar ustadz ini berbeda…ia baru pulang dari Amerika. Aneh, seharusnya Ustadz itu pulang dari Arab sana. Ini kok malah dari negeri embahnya kemudaratan…pasti menarik. Ayo, ikut aku.” Hamid tak bosan membujuk aku. Ini bukan kali pertama. Dan bukan sekali ini pula dia gagal. Aku harus hati-hati, tetap pada keyakinan yang asli.  ”Jun, kalau orang jadi ustadz karena tinggal di pesantren, wajar. Ia belajar untuk itu. Kalau ia jadi soleh karena hidup di negara beribu menara, itu juga biasa. Justru aneh bila jadi Ustadz di tempat seperti Amerika. Kalau orang bisa bertahan mukmin dan tak tergoda, kau harus acungkan jempolmu. Angkat topimu tinggi-tinggi untuknya. Sekali ini saja, Jun. Kalau kau tak suka, aku takkan memaksa.”

Harus kuakui, Hamid punya cara sendiri untuk merayuku. Ia bisa jadi agen pemasaran yang baik. Tak ada salahnya, mungkin harus aku coba. Kalau nanti Emak dan Bapak bertanya, aku bisa salahkan dia. Ketakutan akan sesuatu yang tak pasti hanya bisa dilalui dengan menyeberanginya, dengan menjalaninya. Mungkin setelah ini, Hamid takkan lagi mencoba. “Baik, aku ambil helm dulu.” Dan Hamid tersenyum mendengarnya. Senyum keberhasilan.

Maka aku dan Hamid menempuh jalanan padat. Ini sore hari. Waktunya orang kantoran pulang ke rumah. Rush hour kata orang bule. Inilah saat ketika orang bersegera. Mereka keliru. Bagaimana mungkin bersegera di tengah kemacetan seperti itu. Ini slow hour.

Aku memang suka mengritik. Kata Hamid, itu karena aku tidak mau mengaji di tempat lain, tidak mau mendengar ustadz lain. Jadinya, kritik sana kritik sini. Peka terhadap kesalahan orang lain, dan yakin pendapat sendiri tak dapat digugat. Lalu, apa yang salah dengan itu? Keyakinan memang harus dipertahankan. Toh, aku tidak mau menampakkannya. Sebenarnya, aku gamang. Tidak tenteram sering-sering berdebat dengan orang, menyalahkan dan mengeritik mereka. Tapi aku menyebutnya istiqamah. Bukankah aku diajari, “yang memegang teguh agama di akhir zaman, bagai orang yang memegang bara api.” Panas sekali. Pasti tidak nyaman. Perjuangan selalu menghadapi tantangan.

Motor kami terseok di lalulintas yang padat itu. Jadwal sang Ustadz bakda Isya, tapi kami ingin mengejar shalat jamaah di masjid raya. Kami harus sampai sebelum adzan iqamah dikumandangkan. Di jalan, sesekali kuperhatikan kebiasaan orang. Menyerobot, ingin lebih dulu. Klakson berbunyi tanpa henti. Ribut. Ini salah pemerintah, gerutuku membatin. Mereka membuka keran terlalu cepat untuk bangsa yang belum siap. Pedagang asongan, pengemis, pengamen…semua berbaur jadi satu. Negeri yang miskin. Beginilah akibatnya bila tak menjalankan agama dengan sempurna. Bila tak menjadikan syariatnya kewajiban yang mengikat warganya. Tegakkan hukum Tuhan itu, kita akan disejahterakan.

Aku, di sisi lain, selalu belajar bersyukur. Jalanan macet ini anugerah, pahalaku bertambah. Jarak yang jauh ini hadiah, para malaikat menghamparkan sayapnya untukku, untuk kami, para pencari ilmu. Pakaianku rapih, bersih. Kitab suci kusimpan rapat. Kapan saja berzikir sewaktu sempat. Aku sudah bahagia. Tapi Hamid tak urung membuatku penasaran juga. Ustadz Amerika…Ustadz Amerika, terngiang di kepala, menggantikan wirid yang hampir selesai kubaca.

Akhirnya, sampai juga aku di parkiran masjid raya. Lengang, untuk sebuah masjid sebesar itu. Mubazir, karena jamaah tak memanfaatkannya. Ia hanya penuh seminggu sekali. Setiap Jumatan. Lain dari itu, masjid diisi kalau tidak oleh para malaikat, oleh jin-jin yang gentayangan. Masihbada bedug besar tempat tidur jin di sana. Masjid raya ini belum bersih dari tradisi takhayul. Itu juga yang membuatku enggan.

Aku melangkah masuk. Aku sudah berwudhu. Berusaha menjaganya setiap waktu. Hamid harus ke bilik air terlebih dulu. Aku shalat dua rakaat, tahiyyatul masjid. Kemudian duduk mengambil shaf yang paling depan. Di sampingku duduk seorang muda, berkumis seadanya, pakaian sederhana. Ia tersenyum kepadaku.

“Macet ya Mas?” Ia memulai percakapan. Sepertinya bisa membaca apa yang kulalui. “Wa’alaikum salam,” jawabku. Jangan memulai pembicaraan tanpa salam. Ia tersenyum, “Maaf, assalamu’alaikum.” Dan aku pun kembali menjawab salamnya. Kami duduk, tanpa kuminta ia mulai bercerita, “ada beda negeri kita dengan yang lainnya. Di Australia, bila lampu berubah kuning di perempatan, sopir akan menginjak pedal remnya. Menghentikan laju kendaraannya. Di kita, mereka menginjak pedal gasnya. Justru mempercepatnya. Nah, di Jepang kalau ada jalan sempit dan dua mobil bersimpangan, mereka akan mengangkat lampu jauh dua kali. Artinya, silakan kamu dulu. Kalau di kita, artinya ‘awas, aku dulu ya!” Ia kembali tersenyum. Menarik juga, pikirku. Baru kali ini mendengarnya.

Ia menambahkan, lagi-lagi tanpa menunggu reaksi dariku. “Kalau di Mesir, lain lagi…lebih aneh lagi…”

“Allahu akbar, Allahu akbar…” tiba-tiba azan terdengar dari menara masjid. Aku tidak melihat yang berazan, suara itu mengejutkanku. Aku salami kawan di sampingku itu, “Nanti saja, kita dengarkan azan dulu.” Ia memahamiku, tersenyum untuk kesekian kali.

Tak ada lagi percakapan. Kami tenggelam dalam zikir dan doa. Shalat dan mengaji. Usai Maghrib, aku lanjutkan khatamanku. Ini akan menjadi yang ketiga kalinya setahun ini. Kawan baruku itu, ia mengambil tempat di sudut lain, bertemu dengan orang-orang, mengajak mereka bicara. Mungkin ia sedang menceritakan kebiasaan orang Australia dan Jepang itu pada mereka.

Barulah setelah Isya, jamaah berkumpul bersama, lebih banyak, membentuk lingkaran besar yang padat. Ustadz dari Amerika itu akan naik mimbar, memberi kami pencerahan. MC sudah memulai acara, tapi tak kulihat tanda-tanda pembi ara. Barulah setelah namanya dipanggil, terlihat gerakan. Kawan baruku, yang mengajakku bicara melangkah ke arah mimbar. Iakah yang dimaksud? Ustadz dari Amerika itu? Bagaimana mungkin? Tak ada tampang sama sekali. Tak berjanggut tak berserban, tak berpeci tak bersarung. Benar-benar sudah terbalik segala sesuatu. Ini pasti didikan Amerika itu.

Hamid memahami kerisauanku. Ia menenangkanku, “Tunggu dulu, dengarkan saja dulu.” Aku menurut, mungkin ini waktunya aku mengingatkan. Amar makruf dan nahi munkar menunggu untuk dilaksanakan.

“Bismillahirrahmanirrahim…” Ustadz Amerika mengawali pembicaraan. Usai salam dan pembukaan, ia melanjutkan, “Hadirin yang dimuliakan, selama ini kita kurang bersyukur pada Tuhan. Semua ibadah kita sia-sia, karena kita tidak baik menjalankan agama…” Aku mulai tertarik. Materinya sama seperti yang kupercaya. “Kita lupa pesan terakhir Nabi kita. Kita khianati kepercayaannya. Kita abaikan wasiatnya. Orang yang dihukum mati masih dipenuhi keinginan terakhirnya. Kita, membiarkan Nabi wafat tanpa menjalankan perintahnya…umat seperti apa kita ini?” Telingaku bergidik. Perhatianku mulai terusik.

Kemudian dengan menggelegar Ustadz Amerika berkisah tentang tragedi saat hijrah, ketika Nabi sakit, hingga wasiat terakhir itu. Aku tak dapat mengalihkan pendengaranku. Sesuatu yang baru muncul dengan gamang di hatiku. Peringatan Emak dan Bapak tak urung bertalu-talu, “Hati-hati dengan Ustadz baru…”

Ustadz itu mengakhiri ceramahnya dengan mengatakan, “Yang Nabi tinggalkan itu dua: kitab suci dan keluarganya…” Aku tak tahan lagi. Aku berdiri. “Maaf…Anda keliru. Yang Nabi tinggalkan itu teladan, sunnah…bukan keluarga. Hati-hati kalau bicara!” Nada suaraku meninggi. Aku harus mengingatkannya.

Kulihat ia, lagi-lagi tersenyum. Ia tidak memotongku. Setelah aku duduk, ia berkata, “Wa’alaikum salam Pak…mari saya coba jelaskan.”

Dan dimulailah sejak itu, perhatianku padanya. Ia mengambil alih hidupku. Ia merampas kebahagiaanku. Ia juga memberi aku tujuan beribadah. Aku ikuti gerak-geriknya. Aku teliti dengan saksama perkembangannya. Aku tetap tidak sependapat dengannya. Kawanku Hamid, satu waktu mengunjungiku dan berkata, “Kau tidak suka Ustadz Amerika itu. Kau tidak mau ke masjid-masjid lain, mendengarkan ceramah lain. Kau tidak peduli yang lainnya. Kau hanya ingin membantah Ustadz Amerika itu, membuktikannya keliru. Menyalahkanya tanpa menyampaikannya padanya. Jun, tidakkah kau sadari? Terlepas dari siapa yang benar atau salah, Ustadz itu telah mempengaruhimu. Ia mengubah hidupmu.”

Aku tersadar. Hidupku setelah khotbah di masjid raya itu berubah. Aku dan dia, Ustadz Amerika itu, menjadi dua tokoh di kisah-kisah kepahlawanan. Seorang superhero dan tokoh jahat musuhnya. Seperti Superman dan Lex Luthor. Atau Pandawa dan Kurawa.

Setelah sekian lama, aku masih tak pasti. Di sisi mana aku berdiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *