Duabelas Empatbelas 2: Darurat

Bagian II:
FIKSIONAL
(CERPEN)

Darurat

Aku tak tahu berapa lama tak sadarkan diri. Dengan samar kulihat sosok di hadapanku. Tak begitu jelas. Semburat cahaya perlahan-lahan mengisi kelopak mata yang terbuka sesekali. Buka, tutup, buka dan tutup lagi.

Indraku mulai bekerja, meski tak sepenuhnya. Sayup-sayup kudengar orang berkata, “Kasihan dia, bila tidak karena orang ini, dia sudah celaka.” Akukah yang mereka maksud itu?

Ingatanku menerawang, berusaha mengingat keadaan. Aku masih tahu namaku, aku masih tahu siapa aku. Tapi…ah, ada bagian yang hilang. Aku tidak merasakan apa pun. Bukan, bukan rasa sakit di belakang kepala, yang membesar mengecil, kembang kempis, seperti hendak meremukkan batok kepalamu itu. Bukan pula perih hangat yang terasa di sekujur tubuhmu. Aneh, aliran darah yang selama ini kautakuti, ternyata hangat mengalir di sela-sela jari jemari. Ya, aku bisa rasakan itu. Aku bisa melihat jelas warna merah itu. Bukan ini yang tidak kurasakan. Aku tidak merasakan cinta, sayang, benci, marah, suka atau tidak, bahagia atau duka. Aku kosong. Aku hampa.

Dan sedikit demi sedikit, kenangan itu bermunculan. Kesadaranku perlahan-lahan datang.

“Berhati-hatilah di jalan Nak,” ucap Ibu melepasku pergi. “Jangan kaupacu terlalu cepat motormu itu,” ujarnya mengingatkan lagi.

“Siap, Bu.” Jawabku tegas. Mana berani aku berkendara cepat, setelah apa yang terjadi pada ayah dua tahun lalu itu. Truk gelondongan pembawa kayu terlepas kunci gemboknya. Dan bongkahan kayu besar berjatuhan di jalan raya. Ayahku terpental menghantam satu di antaranya. Menurut saksi, ia berguling-guling berkali-kali, sebelum sebuah mobil pick up menghantamnya dengan keras. Mobil itu berusaha menghindari gelondongan kayu yang tumpah ke tengah jalan.

“Kalau saja motor ayahmu tak cepat, mungkin ia selamat…” kata Mamang menenangkan aku. Lebih terdengar seperti penyesalan. Ibu di sisi yang lain, tak pernah mengungkit itu. Ayah pergi, ya sudahlah. Toh masih ada esok hari. Ibu tak pernah juga menggugat pengendara truk itu, “Mereka orang kecil,” kata Ibu, “tak ada guna menghabiskan duit untuk perkara. Musibah bisa terjadi kapan saja.” Aku sakit, tapi pada saat yang sama, aku tenang. Aku ingin membalas dendam, tapi mendengar Ibu, seketika aku ingin memaafkan.

Toh kekhawatiran Ibu kepadaku tak urung selalu ditampakan. Setiap kali mengantar pesanan kue ke toko Haji Abun, Ibu selalu berkata, “Jangan terlalu cepat kaupacu motormu itu…” Aku tahu ternyata Ibu pun punya penyesalan. Andai Ayah tak terlalu cepat, mungkin ia bisa mengelak. Ah, sudahlah. Tak ada yang bisa mempertanyakan takdir Tuhan.

Perih di tubuhku memberikan tanda aku masih hidup. Mataku sudah lebih jelas melihat sekeliling. Bertubi-tubi beragam nyeri dari berbagai sudut seolah berlomba mengirimkan signal ke otakku. Tubuhku ngilu, menggigil, tapi aku mati rasa, hampa.

“Berterima kasihlah Nak, pada orang itu. Kau di tangan yang baik sekarang. Unit gawat darurat sudah menanganimu. Orang yang mengantarmu, ia berdiri di sudut itu.” Seorang berpakaian putih membaringkan aku sambil menunjuk ke satu titik. Di sana, aku bisa melihat orang itu. Tapi terlalu jauh untuk dapat mengenalinya.

Aku masih ingat ucapan Ibuku. Wajahnya selalu terlihat setiap waktu. Maaf Ibu, pesanan kuemu tak sampai di tempat itu, aku tak sampai di tempat yang kutuju. Haji Abun tak menyambutku.

Tiba di persimpangan jalan, kualihkan arah sepeda motorku. Smsmu itu yang mengalihkanku. “Bang, mampir ya…aku rindu.” Maka motor yang tadinya kuhela pelan, mendadak menemukan tenaganya, dan …DRAKKK!!! Aku terhempas, kurasakan tubuhku melayang dan … darr! Kepalaku menghantam sesuatu yang keras.  Setelah itu, aku tak ingat apa-apa…

Namun ajaib, saat aku terbang itu, aku ingat segalanya. Aku ingat sentuhan pertamamu memegang tanganku di rintik hujan itu. “Ayo lari, Bang!” Teriakmu. Aku ingat Ibu menangis tersedu dan berusaha menepis airmata haru saat aku wisuda. Aku tak pernah mengerti Ibu. Selalu tampak tegar di saat berduka, dan justru menangis di waktu seharusnya bersuka. Dan aku ingat Ayah yang dengan senyumnya, dengan tangisnya, dengan seluruh peluh keringatnya. Aku ingat tangannya yang keras menggenggamku, dan berkata “Mungkin aku jarang mengatakannya Nak, tapi aku mencintaimu.” Aku tahu itu, Ayah. Setiap orang mengatakan cinta dalam cara yang berbeda.

Ya, semuanya berkelebat dalam saat teramat singkat itu. Sebelum berdebum dan melupakan semuanya lagi. Aku bahkan ingat hari pertama sekolahku. Ibu mengantarku menemui Bu Guru, dan sepanjang hari itu, aku duduk membelakangi papan tulis. Aku terpaku memandang Ibu. “Lihat ke depan, Nak, belajar sama Bu Guru…” suara Ibu masih saja terngiang di telingaku.  Ya, aku ingat Ibu guru, aku ingat teman-temanku…dan aku ingat smsmu itu. Dan tiba-tiba, aku lupa segalanya…kelebat singkat kenangan itu berhenti seolah dihantam gada teramat raksasa, menyobekkannya menjadi kepingan kecil, berterbangan ke sana ke mari, tak mampu aku raih… lalu datanglah nyeri itu, hingga kurasakan tangan teramat lembut mengangkatku, dan menyandarkan kepalaku di pangkuannya.

“Kau kehilangan banyak darah. Untung kau selamat. Lukamu bersih.” Perawat berbaju putih itu kembali menyadarkanku. “Sepertinya penolongmu itu tahu apa yang ia kerjakan. Pertolongan pertama yang sempurna.” Ujarnya menambahkan. Mataku gamang, mencari sudut yang diarahkan perawat itu. Aku lihat ia masih di sana, tersenyum kepadaku, seolah menyemangati aku. Aku tak mengenalnya, tapi ia sepertinya dekat denganku. Wajah asing tapi akrab. Siapakah engkau Tuan? Malaikatkah yang datang menyelamatkanku? Karenamu, luka-lukaku kaubersihkan. Aliran darah kauhentikan. Dan berkatmu pula kauantarkan aku ke bangsal keselamatan, unit gawat darurat rumah sakit terdekat dari tempat kecelakaan. Terima kasih Tuan, tanpamu aku sudah terbaring terkapar di jalanan itu. Tanpamu, aku kehilangan kesempatan menunaikan amanah Ibu. Kau telah memberiku kesempatan kedua. Tanpamu, tuan, mana mungkin aku dapat memenuhi janji rindu.

Terima kasih Tuan. Siapa pun engkau, dari manapun kau berasal, kau malaikat yang dikirim Tuhan. Karena ia menyayangiku. Karena ia menyayangi Ibu. Karena ia menyayangimu.

Aku berusaha bangkit. Sekali lagi, memicingkan mataku tajam untuk dapat memandangnya. Rasa itu kini kembali: sedih, sukacita, penyesalan…perasaan kehilangan. Melihat aku bangkit, ia kembali tersenyum. Tapi kali ini, ia berdiri, dan gerak tangannya melambai ke arahku. Sepertinya ia hendak mengucapkan selamat tinggal. Ia tahu aku sudah lebih baik. Ia beranjak menjauh. Jangan pergi, Tuan, biarkan aku menyalamimu. Tunggulah sebentar, Tuan, beri aku lebih lama waktu. Bertahanlah sejenak Tuan, izinkan aku berterima kasih kepadamu. Karenamu, luka baru datang, tapi luka lama kausembuhkan. Karenamu, hadir dalam diriku, apa yang selama ini hilang.

Aku berusaha berteriak, tapi tak terdengar suara. Aku berusaha melambai, tapi tanganku terkulai tak berdaya. Perawat dengan cepat membawaku pergi. Mataku masih terpusat pada sosok itu. Kini pandanganku lebih jelas. Pakaiannya putih, wajahnya bercahaya, dan ia tersenyum kepadaku, sebelum menghilang di balik pintu.

Terima kasih Tuan. Aku akan selalu mengenangmu. Aku akan selalu merindukanmu. Semoga Tuhan mempertemukanku denganmu, suatu saat nanti. Terima kasih Tuan, meskipun kau yang pergi, izinkan aku melepasmu. Wahai sahabat nan baik hati, akan kuingat selalu pesan yang kaubisikkan di telingaku, ketika aku terbaring itu, “Bertahanlah, pertolongan akan segera datang.”

Tidak tahukah engkau, Tuan? Engkaulah penolong itu. Engkaulah yang telah menyelamatkanku.

Selamat jalan, Tuan.
(untuk bulan suci Ramadhan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *