Duabelas Empatbelas 2: Blusukan

Aku bahagia hari ini. Ada selisih dari jumlah yang harus aku setorkan. Aku manfaatkan itu dengan baik. Aku ajak keponakanku bermain. Mereka tampak ceria sekali, menikmati naik turunnya komedi putar jalanan yang lewat di depan rumah. Entah sejak kapan dan siapa yang memulai, komedi putar itu terkenal dengan nama ‘odong-odong’. Aku senang anak-anak itu senang. Apa lagi yang bisa kulakukan?

Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, perempuan semua. Kedua kakakku sudah menikah. Keponakanku dari merekalah yang memberi kebahagiaan di ujung hariku, di akhir pekerjaan panjang seperti ini. Gurat senyum mereka selalu menyuntikkan semangat baru. Tawa renyah mereka…ah, tak ingin kulewatkan. Bahagia mendengarnya.

Setiap hari aku bertemu dengan banyak wajah. Ternyata manusia mudah diterka. Habiskan setahun atau dua bekerja sepertiku, kau akan bisa membaca mereka seperti buku. Aku tahu, tak boleh mencari aib sesama, tapi terkadang kita belajar banyak dari cerita mereka.

Waktuku bersama pelanggan singkat saja, tapi aku belajar untuk tahu segalanya. “Ma, aku sedang di toko swalayan, aku agak terlambat ya.” Pendusta, ia tak jujur pada istrinya. “Aduh, maaf, harganya bisa diturunkan lagi atau tidak, cicilanku masih banyak.” Orang yang tak bersyukur berikutnya, karena kendaraan yang ditumpanginya. Atau kulihat tatap mata sayu di bangku penumpang sebelah kiri. Tetes airmata yang mengguratkan jejak hitam, menghapus maskara yang lama disiapkannya. Tak butuh jenius untuk mengira, baru saja ada pertengkaran hebat, dan masa depan yang mengarah entah ke mana.

Sesekali, ada oase itu. Mereka yang tersenyum kepadaku. Seperti hari ini. Sayang, senyum, keramahan, sudah lama jadi barang mahal di negeri ini. Bukan langka, karena ia tak sulit dicari. Hanya mahal, karena perlu alat tawar untuk membelinya. Perlu bujuk rayu. Perlu pancingan itu. Tak ada lagi senyum tulus. Yang ada kepura-puraan, keterpaksaan.

Dahulu sekali, ayah pernah mengajakku ke bank terdekat. Ia membuka rekening baru. Katanya, “Gaji ayah sekarang ditransfer. Kau lihat kasir itu, ia tersenyum menyambutku. Senyumnya asli. Lihat kerutan di ujung mata kanan dan kirinya. Bila ada orang tersenyum, dan ruang antara mata dan telinganya mengerut, ia tersenyum dari hati, meski tak selalu tulus tanpa pamrih. Tapi nanti, kalau kita hendak mengambil uang kita dari mereka, perhatikan…kerutan di pelipis itu akan menghilang. Walau mereka tetap tersenyum. Senyum yang dipaksakan.”

Sejak itu, aku selalu memperhatikan senyum orang, dan aku belajar membaca mereka, mengetahui kisah dan rahasia mereka.

Di bidang pekerjaanku ini, jarang sekali ada yang tersenyum, apalagi mengucapkan terima kasih kepadaku. Bagi mereka, ini sudah tugasku. Sudah kewajibanku. Tidak jarang juga ada yang berlagak seperti bos minta dilayani segalanya, dan lagi-lagi, tak ada penutup terima kasih. Untuk kesekian kalinya, aku akan mengingat ayah. “Kau lihat petugas bank itu? Mereka selalu mengucapkan terima kasih. Mereka dilatih untuk itu. Dididik untuk itu. Kau, tak perlu ikut training-training. Berterimakasihlah di setiap kesempatan. Tak banyak orang bisa melakukannya.” Dan aku mengamininya. Dalam sehari, aku bisa menghitung dengan jari satu tangan, siapa yang mengucapkan terima kasih kepadaku.

Tapi hari ini, aku tersenyum. Dan sekiranya bercermin akan kulihat kerutan itu di mana-mana, aku bahagia! Aku bersukacita. Keponakanku bisa kuajak bermain. Sungguh, senyum mereka selalu tulus. Kerutan itu jelas terlihat. Dan dengan tangan terbuka, usai main odong-odong itu, mereka lari ke arahku, “Makasih Tante…!” Dan mereka menjatuhkan tubuh mereka ke pangkuanku, ke pelukanku…ah, bahagianya. Terima kasih, Tuhan…

Semua itu karena engkau, Tuan. Laki-laki berkacamata hitam yang tak kukenal. Kau bukan pelangganku yang biasa. Kau orang baru di daerahku ini. Tampang bersih, kelimis tak berkumis. Meski di bawah, terjuntai para malaikat ataukah bidadari yang kelelahan bergantung di janggutmu itu. Kata kawanku, itu ciri kelompok perjaka: perkumpulan janggut kagok. Aku tak setuju dengan itu. Dan kulihat kau rapi dalam janggut berapa helaimu itu.

Kau turun dari kendaraanmu, menghampiriku, menyapaku, dan kau tersenyum padaku. Aku tak bisa meihat kerut itu karena kacamatamu. Tapi aku yakin senyummu tulus. Apa yang berasal dari hati, akan sampai ke hati pula. Dan aku bisa merasakannya. Kemudian, ujarmu pelan tapi berat, “Tolong, penuh ya…” kau memulainya dengan kata “tolong” Sudah lama sekali tak kudengar kata-kata magis itu. Aku seperti menemukan semangat baru. Dengan sigap, kupenuhi permintaannya. Sambil menunggu ia kembali berkata, “Maaf, jalan terdekat menuju Simpang Lima ke sebelah mana ya?” Tuhan, ia berkata, “maaf”. Benar-benar lelaki sejati. Aku pun dengan cepat menjawabnya. “Terima kasih,” jawabnya. Tiga kata ajaib yang diajarkan ayahku, ia praktekkan semua: tolong, maaf, dan terima kasih. Masih di bank itu, kata ayah, “Kau harus ucapkan semuanya dengan kesungguhan. Yang paling banyak akan kau dengar di bank ini, terima kasih. Yang paling sedikit ‘tolong’. ‘Maaf’, bila terpaksa. Tapi di luar bank ini, semua barang mahal. Bukan langka. Semua terucap, bila ada penyebabnya.” Kata-kata Ayah makin kuat di ingatanku. Bagai genderang, ia bertabuh makin kencang, manakala kulihat tuan itu.

Kuselesaikan pekerjaanku, dan ia berdiri mematung, tak masuk ke kendaraannya. “Semuanya 270 ribu Pak,” kataku. Lalu ia mengeluarkan dompetnya, tebal sepertinya. Tiga lembar seratus ribu berwarna merah ia sodorkan, “Ambil saja kembaliannya.”

“Pak…” aku menyela hampir tak percaya. “Tidak apa-apa. Untukmu,” katanya sambil masuk ke mobilnya. Ia menurunkan jendelanya, “Makasih arah jalannya ya…” Aku takjub. Mulutku menganga. Seiring ia menutupkan jendelanya, nun di dalam, di samping tempat duduknya…kulihat wajah teramat akrab. Setiap hari selama lima tahun terakhir ini, selalu kulihat ia di televisi. Ia tersenyum padaku. Jari telunjuknya digerakkannya menutupi kedua bibirnya. “Itu kan…itu kan…” dan aku tak berhenti tercengang. “Dia…dia…!” Batinku menjerit. Dan aku lupa berterima kasih.

Tuhan, aku tak tahu mana yang lebih membahagiakanku hari ini. Keceriaan keponakanku, ataukah kembalian tuan itu yang dengannya aku bergembira bersama mereka…ataukah seraut wajah itu.

Rasanya berdiri berlama-lama bekerja sepertiku, di tempat panas sepertiku, hampir dua tahun lamanya…terhapuskan oleh kebahagiaan hari ini.

Aku, seorang perempuan pengisi bensin. Ke tempatkulah singgah para pejalan, para musafir. Ke tempatku singgah cerita-cerita kehidupan. Maaf Tuhan, tolong beri aku waktu lebih lama. Akan aku kabarkan pada dunia, indahnya hidup di persimpangan jalan.

Terima kasih, Tuhan.

(Untuk semua hal kecil yang indah dalam hidup. Tak pernah ada hal kecil itu.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *