Duabelas Empatbelas 2: Bajing Ireng

Matahari sudah lama bersembunyi. Bintang pun bergantian menemani. Hanya bulan yang sesekali tertutup awan. Aneh, makin lama kuperhatikan, hanya bulan saja yang berbalut awan, bintang tidak. Sepertinya alam hendak menutupi persembunyianku. Sinar malam kali ini redup. Cahaya bintang cukup untuk menyusuri jalanan berkelok hutan ini. Cukup bagi mata terlatih seperti aku. Tapi tidak bagi mereka…rombongan bandit itu.

Aku masih ingat Kiai Mansur meminta aku memandang bulan, lama sekali. Katanya, “Kau takkan silau memandanginya. Ia setia menemani bumi. Ia menyerap cahaya matahari. Dan kau, bila kau melihatnya, kau menyerap cahaya bulan. Kau akan terbiasa melihat di kegelapan.” Kini aku mengerti nasihatnya. Ia mempersiapkan aku untuk hari ini, untuk saat-saat seperti ini.

Karena pelajaran ‘memandang bulan’ itu aku tak pernah tersesat kembali pulang. Aku selalu tahu berjalan di kegelapan. Pesantren Rongpusoko telah mengajariku sangat baik. Kiai Mansur bukan saja mendidikku cara baca Arab gundul. Ia juga membekaliku dengan ilmu kanuragan, ilmu bela diri, silat warisan Mamang Haji Tajimalela, sejak puluhan tahun lalu. Ialah pendiri Rongpusoko. Ia mengaku asli Sunda, meski ayahnya dari Magelang. Karena itu, nama Rongpusoko lebih terdengar kejawaan, padahal ia berkembang di tanah Pasundan.

Konon, Mamang Haji Tajimalela adalah keturunan seorang pemimpin pasukan Kerajaan Sumedang Larang ketika melawan pasukan Belanda. Setelah terpukul mundur, sebagian menyelamatkan diri ke Timur, ke arah Magelang itu. Kakek buyut Mamang Haji satu di antaranya. Dalam perang yang memakan korban banyak di kedua belah pihak itu, sang pangeran pewaris kerajaan gugur. Orang menyebut tempat pecah perang itu ‘Cadas Pangeran’. Cadas artinya keras, tajam.

“Ingat, pertahankan selalu kuda-kudamu. Jangan bertumpu pada satu titik. Kakimu itu ibarat niat dalam ibadah. Kau tahu, niat seseorang lebih baik dari amalnya. Niat itu bukan sekadar ucapan ‘nawaitu’. Niat itu rencana, niat itu persiapan, niat itu seumur hidup perjuangan, untuk menghadapi satu detik kematian. Kau berlatih setiap hari, itu niatmu. Kau tidak pernah tahu kapan ilmu ini membantumu. Berlatih saja. Bersiap. Itu niatmu,” Panjang lebar Kiai Mansur mengguruiku, sambil mengangkatku berdiri. Ia cukup mengatakan, “Kuda-kudamu goyah,” selesai. Tapi ia senang bicara panjang seperti itu. Aku pun berdiri. Sekelebat sepakan kaki Kiai meruntuhkan kuda-kudaku. Aku, yang sudah berlatih bertahun-tahun, masih jatuh oleh satu sepakan kakinya. Kiai Mansur memang jawara. Tak ada yang berani menandinginya. Gelang dari akar bahar dan cincin batu Sungai Dare menambah kesan kekar di pergelangan tangan dan jarinya.

“Argh! Rrrr…argh!” Suara anjing menyalak terdengar dari kejauhan. Aku berhasil mengecoh mereka. Cara menghindari hewan terlatih adalah dengan menutup bau tubuhmu. Lumuri ia dengan lumpur atau usapkan ramuan campuran dedaunan itu. Lalu bernafaslah dengan tenang. Jangan terengah-engah. Telinga hewan peka menangkap sesuatu yang tak beraturan. Sepertinya binatang-binatang itu terlahir dengan keselarasan luar biasa. Mereka cepat tahu kalau ada yang tidak seimbang. Badri, kakak seperguruanku yang mengajariku waktu kami menyelinap ingin menonton stambul di desa. Ia pikir, Kiai Mansur takkan tahu. Ternyata penciuman Kiai jauh lebih tajam dari seluruh hewan itu. Kami tidak berlumpur, kami tidak berbalur daun. Kami hanya mengatur langkah kami dan menahan nafas. Toh, menjelang dini hari, Kiai sudah menunggu di gerbang Pesantren. “Kalian terlambat, ” katanya, “Lain kali, tiup mati cempormu itu. Kau hampir membakar seluruh pesantren.”

Masya Allah, cempor yang kami biarkan terang agar kepergian kami tak diketahui, justru jadi pembongkar rahasia kami. “Kalian aku hukum,” kata Kiai, “Antarkan bahan makanan dari pesantren ke desa, dan dari desa ke pesantren, dua bulan berturut-turut.” Kami tak membantah. Masih untung kami tak dikeluarkan. Dua bulan pulang pergi, artinya dua bulan menyeberangi hutan sambangwangi, setiap selesai Subuh dan menjelang Maghrib, pulang pergi. Dua jam jalan kaki, dua kali sehari. Itu justru membuat kakiku kuat, dan aku mengenal hutan itu sebaik rumah sendiri.

Itulah mengapa aku bisa mengecoh rombongan bandit itu. Para penjajah pengambil tanah. Belanda kape’ kata Tuan guru Tambusai dari Sumatra waktu mengunjungi kami. Kiai lebih senang menyebut mereka bandit. “Bandit,” nadanya tegas, “jiwa-jiwa yang tersesat…”

Itu semua dulu, sebelum rombongan bandit itu merangsek desa. Ajaib, mereka tak menyerang kami. Tapi kami semua meringis menangis, menjerit-jerit. Tak terkecuali Kiai. “Bangsat! Bangsat!” katanya berulangkali. “Dasar bajingan, keterlaluan!” Aku tak pernah mendengarnya mengumpat. Aku tak pernah melihatnya semurka itu.

Malam hari, kami kuburkan jasad para saudara itu, di kegelapan, hanya bersinarkan rembulan. Itu sudah cukup. Mata kami sudah terlatih. Alunan doa pun tak banyak. Badri dan beberapa orang berjaga di kejauhan. Kiai hanya menyentuh tanah dengan telapak tangannya dan bergumam. Itu saja.

Usai menguburkan, kami semua dikumpulkan Kiai, di sebuah mata air, di belantara hutan itu. Suara gemericik air yang jatuh mengaburkan suara Kiai. Kiai tidak ingin para bandit itu tahu. Kami mengambil tempat di cabang-cabang pohon. Pesan berantai Kiai disampaikan. Satu demi satu. Kalimat demi kalimat. Aku tidak pernah memusatkan perhatianku begitu kuat, seperti malam itu.

“Malam ini bandit menghancurkan kita.” Pak Kiai mengawali. Aku tidak bisa mendengarnya jelas. Aku kira ada geram dalam nadanya. “Mereka tidak merusak Pesantren. Mereka tidak perlu untuk itu. Mengapa? Karena rakyat adalah jiwa pesantren ini. Setiap hal punya azimat. Dan azimat Rongpusoko adalah penduduk desa. Kita hadir untuk mereka. Malam ini, malam terakhir kita. Malam ini lahir diri kita yang baru. Setelah ini, hancurkan para bandit itu. Dan kembalilah bersembunyi di hutan ini. Aku akan ajarkan padamu ilmu terakhir dariku.” Lalu Kiai merapal doa, lebih mirip mantra. Banyak yang tidak kupahami. “Sekarang, simpan dalam hati azimatmu. Sesuatu yang beharga, benda pusaka, apa saja. Kalian ingat-ingat dia, dan teguhkan dalam hati. Selama para bandit itu tidak menyentuh azimatmu itu, kalian aman. Bahkan peluru emas tidak akan dapat melukaimu…” Kami memejamkan mata, mencari azimat itu. Menyebutkannya. Mengikrarkannya.

Hening. Mencekam.

Sejak itu, para santri berubah menjadi sekelompok gerombolan. Kami bergerak cepat. Menyergap rombongan tentara. Mencuri persediaan dan membagikannya pada warga. Pakaian kami hitam-hitam. Keluar menjelang malam. Para bandit itu putus asa. Sebagian tentara bayaran dari sesama anak bangsa, meneriaki kami setiap kali kami lari, “Bajingan! Bajingan ireng!” Tapi orang-orang berambut kuning itu menjuluki kami lain lagi: Bajing Ireng! Bajing Ireng. Dan itulah nama yang berkembang menjadi sangat menakutkan…bajing ireng.

“Ia ke sebelah sana,” terdengar teriakan. Sudah hampir enam bulan kami hidup di pepohonan. Sepi. Tanpa suara. Para bandit itu berani mengejar kami setelah bulan ketiga. Itu setelah mereka menangkap Kiai Mansur dan menembaknya di hadapan warga. Kiai Mansur gugur. Belakangan kami tahu, azimat Kiai adalah Rongpusoko. Begitu Belanda tahu Bajing Ireng adalah santri-santri Rongpusoko, mereka meluluhlantakkan Pesantren. Membakarnya. Meratakannya dengan tanah. Pak Kiai digelandang. Ia disiksa di siang bolong. Kami ingin menolongnya kalau bukan karena pesannya juga untuk bertahan. Setelah itu kami kehilangan pimpinan. Sebagian berlarian kembali ke kampung halaman. Hanya beberapa yang tinggal. Aku di antaranya.

Aku bersandar di atas dahan sebuah pohon randu yang besar. Agak sulit naik ke pohon tua seperti ini. Banyak yang mengira pohon randu jadi tempat bersembunyi jin, genderuwo dan sejenisnya. Justru aman bagiku bersembunyi di tempat yang ditakuti orang-orang itu.

“Dhuarr!” Aduh…aku mengaduh. Sebuah benda kecil teramat tajam terasa menusuk kakiku. Cepat sekali. Rasa perihnya dengan segera menjalar ke seluruh tubuh. Aku ulurkan tanganku hendak mencari sumber sakit itu. “Dhuarr!” Ya Allah, pekikku. Tusukan tajam kedua menghantam bahu kananku. Memaksaku jatuh. Untung kaki kiriku dengan cepat mencari sandaran baru.  Aku limbung. Tubuhku terjuntai, bergantung pada satu kaki…latihan kaki-kaki masih bisa menghindarkan aku dari terjatuh ke tanah. Mataku yang tajam dapat menyaksikan segalanya.

Dari arah berlawanan, tiga orang serdadu bersenapan laras panjang mengendap-endap. Seorang di antara mereka membidik melalui lensa pembesar di atas bedilnya. Para penembak pengintai. Pengecut. Sudah lama tersebar beritanya. Kapiten para bandit itu mendatangkan juru tembak khusus dari luar untuk mencari kami. Aku rasakan perih di kedua bagian tubuhku kini lebih merata. Rasanya hangat. Sakit, tapi hangat.

“Ingat,” kata Kiai Mansur suatu waktu, “teruslah berjuang. Kekuatan kita adalah kelemahan mereka. Mereka takut mati, kita tidak. Kita siap dengan jumlah syuhada yang banyak, mereka tidak. Ingat itu, kekuatan kita adalah bersabar, mereka tidak. Dan jangan pernah menyerah…” Ucapan itu yang terngiang ketika aku melihat si pengintai mendekat. “Trek tet” terdengar ia mengokang senjatanya. Bubuk mesiu telah diisi sebelumnya. Ia membidik. Tepat ke arahku.

Kini, bukan lagi Pak Kiai yang aku ingat. Bukan jurus dan kaki-kaki. Bukan stambul dua pedang yang kutonton dengan Badri itu…bukan, bukan. Bukan itu yang kuingat.

“Dhuarr!” Senapan itu menyalak. Butir peluru dengan cepat melesat menujuku. Aku memejamkan mata. Yang kuingat azimatku. Yang kuingat rahasia keselamatanku. Mereka telah menemukannya.

Maafkan aku…Ambu.

(Ambu: Bahasa Sunda untuk Ibu. Miftah F. Rakhmat untuk Gaza, Djair, dan almarhum Djamil Soeherman. Dan untuk para azimat pusaka yang Tuhan wasiatkan dalam hidup kita. Selamat menjaganya).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *