Duabelas Empatbelas 2: Asing

“Kalian tidak tahu bagaimana rasanya hidup tak diinginkan. Bagaimana rasa aman berubah jadi ketakutan. Bagaimana sukacita, kebahagiaan, canda tawa…sekejap saja berubah mengerikan.…”

Oma berhenti. Ia menarik nafas panjang, seakan berusaha mengumpulkan kembali ingatan yang samar. Bukan hilang, hanya tak ingin dikenang. Lalu terdengar hembusan nafas berat…”wuush…” beban itu masih ada. Sesak itu masih menghimpit dada.

Aku raih tangan Oma. Mengelusnya. Mengusapnya. Keriput di tangan Oma jauh lebih banyak daripada kerutan di bawah matanya. Oma bisa dibilang awet muda. Ia cukup baik merawat wajahnya. Tapi gulir usia itu tampak jelas pada tangannya, pada kakinya, pada putih rambut di kepalanya.

Hari ini, aku mengunjungi Oma di rumah penitipan. Panti Wreda, kata orang. Rumah pensiunan. Keluarga bertengkar cukup hebat ketika hendak menitipkan Oma di sana. Ada yang bilang tak tahu diri, tak berterima kasih, kejam, kok bisa, kok tega…dan sebagainya. Kami juga tidak ingin melakukannya, bila bukan karena keinginan Oma sendiri. “Aku sudah tua. Janganlah aku mengganggu kalian. Kalau kalian pergi, aku di rumah sendirian. Bawa saja aku tinggal di rumah tua, rumah jompo. Di sana mungkin ada kegiatan.” Meski sepuh, delapanpuluh empat tahun usianya, pikiran Oma jernih. Jernih, tak dihinggapi pikun atau alpa. Aku percaya itu karena kegemarannya membaca kitab suci. Setiap pagi, sejak saat aku sudah bisa mengingat, Oma selalu duduk di teras depan rumah. Ia buka Alkitab dan membacanya. Satu ketika, sebelum berangkat sekolah, kuhampiri Oma. Ia memelukku dan membaca bagian dari Alkitab itu, entah di mana, tapi kuingat maknanya: Hai anakku, jika kau terima perkataanku dan menyimpan perintahku dalam hatimu kau akan mengerti tentang takut akan Tuhan. Kau akan mengenal Allahmu.

Lalu Oma memegang kepalaku, mencium keningku dan berkata, “Nah, kalau kau sudah kenal Allahmu, kau akan dilindunginya, dipeliharanya. Kau akan jadi orang jujur. Ingat itu. Pintar kalau tak jujur, celaka.” Aku tertawa. Oma memang orang baik. Ia selalu dapat mencairkan suasana. Aku kira, itu karena pengalaman hidupnya yang kaya.

Libur ini, bersama kawan-kawanku, kami datang menemui Oma. Bangsaku tengah merayakan kemerdekaannya. Oma minta diantar ke taman di dekat parkiran. Baru saja ada upacara bendera. Oma tak ikut, tak bisa berdiri. Tapi tangannya tetap diangkat, dan kepalanya tegap menghormat merah putih itu.

“Tak mudah jadi orang seperti aku,” kata Oma setelah hembus nafas yang berat itu. “Dan banyak orang seperti aku. Aku anak seorang Nyai. Kau tahu itu? Nyai adalah gundik Belanda. Perempuan yang diperistri tanpa dinikahi. Ibuku diusir dari rumah gedong ketika Nyonya Belanda, istri sah ayahku datang ke Batavia. Kami terusir begitu saja. Keluarga, orang-orang kampung, semua memandang kami pengkhianat. Mereka picingkan mata bila kami lewat. Mereka tersenyum mencibir. Tak jarang kami disebut kapir. Ibuku harus melakukan apa saja, agar kami bertahan hidup.”

Oma berhenti. Matanya menerawang. Sepertinya ada butir air mata yang tak jadi jatuh bergulir. Kerutan itu menahannya. “Aku sudah tua. Tapi aku masih cengeng saja bila aku ingat Ibu. Aku tak bisa bayangkan apa yang harus dilakukannya, hanya agar kami bisa makan. Mendiang Ibu tak seperti aku. Ia mati muda. Mayatnya dibawa jauh dariku. Aku tak tahu di mana kuburannya. Kata orang, Ibu sakit keras. Tubuhnya bau luar biasa, dan hidungnya berdarah, menyisakan lubang besar yang tak dapat ditutupinya.” Oma terdiam lagi. Kami memang tidak tahu di mana makam nenek buyutku itu. Aku sudah pernah mencoba mencari. Sulitnya, bagai jarum dalam tumpukan jerami.

“Saat paling berat adalah ketika datang waktu itu. Belanda menyerah. Batavia direbut tentara Jepang. Kau tak tahu banjir darah di mana-mana. Wajah-wajah keturunan Belanda seperti kami dicari-cari. Orang Jepang mengira kami lari. Pribumi bebas melampiaskan murka pada kami. Kami harus sembunyi. Rumah kami ditandai. Kami harus terus bergerak, pindah ke sana sini.”

Aku bisa bayangkan saat itu. Revolusi selalu memakan korban anaknya sendiri. Situasi tak menentu. Keajaiban, bahwa Oma bisa bertahan melalui hari-hari itu. Mungkin itulah sebabnya, ia tenggelamkan diri dalam Alkitab, bersyukur pada Tuhan. “…Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan.” Begitu Oma pernah berkata.

Setelah tumbuh besar, aku tahu kata-kata Oma banyak dipengaruhi kitab suci. Aku paling suka bagian ini:

Pujilah Allah dalam tempat kudusNya! Pujilah Dia dalam cakrawalaNya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaanNya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaranNya yang hebat! Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting! Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan!

Terpujilah Tuhan dalam setiap keadaan. “Ayo, kita masuk saja…” Oma memintaku mendorong kursi rodanya. “Nanti aku membuat kalian bosan. Salah sendiri kalian minta aku bercerita. Kalian harus bersyukur. Kalian harus memuji Tuhan.…” Oma berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, “…negeri ini adalah negeri orang-orang besar. Bangsa ini bangsa yang pemaaf. Dulu, wajah indo–itu istilah kalian kan? Wajah Indo sepertiku dulu diburu-buru, dikejar bak hantu. Tapi sekarang, dielu-elu. Cucuku ini, bisa jadi artis…haha. Cantik kan dia? Haha!” Kata Oma sambil menunjuk aku di hadapan teman-teman. Sudah lama aku tak mendengar Oma tertawa serenyah itu. Bahagia rasanya.

“Begitu pula aku…kekuatan maaf itu memang menyembuhkan. Bila ada yang mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Kalau kalian ingin tahu rahasia umur panjangku, itu: kau maafkan. Bukan saja orang lain. Kau maafkan dirimu terlebih dahulu. Bukankah Tuhan berkata…” Dan di sini pasti Oma mulai menyitir Alkitab. Benar saja, “…kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Oma luar biasa. Aku selalu suka berlama-lama mendengarkannya. Itulah juga mengapa kuajak teman-temanku turut serta. Mereka pasti jatuh cinta juga padanya.

“Non, Noni…” Oma memanggilku. “Ada yang belum pernah kusampaikan pada ayahmu.…” Aku tak penasaran. Oma selalu begitu. Nanti dia akan menceritakannya juga padaku. Aku takkan terkejut bila ternyata ayah sudah tahu. Oma membuat setiap orang merasa istimewa. Pada mereka ia simpan ‘rahasia’nya.

“Dulu, dulu sekali…di zaman sulit itu. Ayahku sebenarnya pernah mencariku…” Wah, ini baru! Kali ini, ini benar-benar rahasia. Selama ini aku tahu, bahwa Oma tak pernah lagi berjumpa dengan ayahnya. Ayahku tak pernah mengenal kakeknya.

“Pappje menemukanku di salah satu tempat pengungsian. Tak lama setelah Ibu berpulang. Katanya, ia sudah suap tentara-tentara pribumi karbitan itu. Ia bisa bawa aku dan saudaraku pergi. Ia mau pulang, ke negeri Belanda yang selalu dibanggakannya. Saudaraku memutuskan ikut bersamanya. Tapi aku tidak. Mengapa? Karena ini tanah kelahiranku. Aku mungkin keturunan Belanda penjajah, tapi ini tanah airku. Meski tak tahu di mana, di tanah ini ada kuburan Ibu. Paapje tak dapat memaksaku. Maka jadilah aku, seorang diri. Tanpa ayah, tanpa saudara, tanpa Ibu…” lagi-lagi, bulir airmata terlihat menggantung bak embun di pagi hari.

Lalu Oma memegang tanganku, memindahkannya dari pegangan kursi roda ke pundaknya, menepuknya sambil bertanya, “Tahukah kau, dari semuanya, apa yang paling berat dalam hidupku?” Kami diam, karena Oma pasti menjawab dengan segera…

“Terbuang dari orang-orang tersayang. Mungkin aku orang Belanda, tapi negeriku Indonesia. Dan sampai kini, aku masih tak punya warganegara…”

Kasihan Oma, hingga usianya yang menjelang senja. Kisah hidup di masa mudanya, masih menyimpan pertanyaan yang tersisa. Entah, mungkin Alkitab yang dibacanya belum mengantarkan jawabannya.

Oma terasing, di tanah kelahirannya. Mendadak aku tersentak…Tidakkah ternyata, aku dan Oma sama?

Dan bulir tangis itu mulai menggenang di pelupuk mata.

(Untuk siapa saja yang mencintai orang-orang yang tak mencintai mereka. Untuk saudara-saudara minoritas yang mencintai negeri tanah air mereka, meski berbagai duka mereka derita. Untuk yang tetap bertahan di tanah air yang mengasingkan mereka…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *