Duabelas Empatbelas 1: Teman

Saya lupa persis kisahnya. Saya ceritakan ulang, mungkin tak cukup sama. Bahkan boleh jadi ditambahkan unsur drama, toh pesan moralnya tak berbeda. Dari Aesop’s Fable, tentang seekor kelinci yang merasa berteman banyak. Alkisah, di semak-semak, ia mendengar gonggongan anjing pemburu. Musim hewan pemangsa telah tiba. Ia berlari, hendak menyelamatkan diri. Ia datang pada kuda, tapi kuda berkata, “Aku harus mengantarkan majikan. Maaf, aku tak bisa menolongmu.” Kelinci melompat mencari kerbau, hanya untuk mendengar ia berkata, “Aku harus membajak sawah. Aku tak dapat membantumu.”Begitu seterusnya. Satu demi satu didatangi. Tak seekor kawan pun bersedia menolongnya. Kambing ketakutan, karena ia pun bisa dimangsa juga. Ayam berlarian ke kandangnya. Dan kucing memilih bersembunyi di balik kehangatan bilik rumah. Kelinci juga tak mungkin meminta pertolongan pada serigala, sahabat anjing pemburu itu. Ia sendirian. Pikirnya bergerak cepat. Dan ia meloncat ke sana ke mari. Bukan untuk mencari teman, tapi untuk keselamatan. Tak ada yang dapat menolongnya, ternyata, kecuali dirinya sendiri.

Kisahnya mungkin tak persis sama. Tapi di beberapa buku yang memuat kisah itu, pesan moralnya tertulis singkat: Ia yang punya banyak teman, tak punya teman sama sekali. Dalam bahasa saya, Ia yang punya banyak kenalan, sebetulnya tak punya sahabat sama sekali.

Pesan yang berbeda dari kebanyakan yang terdengar selama ini. Perbanyaklah sahabat, pereratlah kerabat, jauhkanlah yang dekat dan masih banyak lagi. Sebuah ungkapan asing bahkan masuk dalam perdebatan calon orang nomor satu di negeri ini, “A thousand friends are too few. One enemy is too many.” Peribahasa Kurdi itu dianggap mewakili aturan dasar interaksi antarmanusia. Seribu sahabat terlalu sedikit. Satu musuh, itu pun terlalu banyak. Benarkah seharusnya demikian?

Ketika almarhum Gus Dur ditanya dalam sebuah wawancara televisi, tentang kebijakannya yang berbeda, yang mungkin menyinggung sebagian dan menyakiti sebagian yang lainnya. Dengan ringan ia berkata, dengan peci berurat bambu yang dikenakannya, “Tidak mungkin membahagiakan semua orang. Gitu aja repot.” Baginya, satu kebijakan mungkin mendatangkan resistensi dari pihak-pihak yang selama ini mendapatkan keuntungan tak terkira. Mereka meradang manakala kebijakan itu menyentuh sumber penghasilan mereka. Biasanya, bukan karena mereka tak tercukupi. Justru karena mereka selama ini lebih dari tercukupi. Kebijakan harus didasarkan pada kemaslahatan sebanyak mungkin orang, bukan segelintir.

Gus Dur tentu belajar dari Baginda Nabi Saw ketika pertama kali berdakwah. Teladan suci itu menyuarakan kepentingan umat manusia. Para pembesar, oligarkh, konglomerat… semua menolak Sang Nabi. Sekiranya pesan langit itu hanya mengajak untuk wiridan, tak akan ada penentangan. Sekiranya kabar samawi itu hanya meminta untuk menjaga perasaan, juga takkan ada perlawanan. Tapi warta ilahiah itu mengajarkan keadilan, perlawanan terhadap kezaliman, berbagi harta yang kaya terhadap yang terjerat dalam kemiskinan… Di situlah muncul pembangkangan. Di sinilah awal konflik tak berkesudahan.

Inilah yang disebut oleh Murtadha Muthahhari dengan ‘daya tolak’ dan ‘daya tarik’. Ia berlaku bagi manusia. Mengejar seribu sahabat dan tak punya musuh satu orang pun karenanya sulit direalisasi. Bagaimana bila sahabat kita punya musuh. Akankah kita bersahabat dengan musuh sahabat kita itu? Orang yang cenderung tak mengambil sisi, adalah ia yang belum bisa menaklukkan diri sendiri.

Perjuangan melawan para pemangku kepentingan itu adalah misi para nabi. Mereka diwajibkan Tuhan membebaskan belenggu yang mengikat jiwa manusia, dari ‘tunduk pada majikan’ hingga ‘takut dijadikan hewan mangsaan’. Misi itu tidak mudah, karena selama ini sudah banyak yang berpangku tangan, melipatnya di dada, dan bernafas di atas derita. Gaji buruh yang tak terbayarkan. Korban lumpur yang belum beroleh penggantian. Sedang angka di tabungan, berderet sekian nol ke belakang.

Pernah seorang kawan meneliti biaya jasa kiriman tenaga kerja di luar negeri. Hasilnya, jasa kirim konvensional itu memotong hingga 25% upah mereka. Ajaibnya, baik pengirim dan penerima, menerimanya lapang dada, seraya bersyukur pada Tuhan, “Alhamdulillah, segini juga sudah sampai.” Sederhananya, bila seorang TKI di Hong Kong kirim uang 1jt, dengan potongan ini dan itu, keluarganya hanya menerima 750rb. Mereka akan tetap bersyukur.

Maka diupayakanlah melalui bantuan perkembangan teknologi, agar potongan tak sampai sebesar itu. Ada gadget yang membantu. Ada internet yang bisa dimanfaatkan. Pendek kata, potongan bisa dipangkas hingga menjadi 5% saja. Tapi apa yang terjadi? Ada benturan kepentingan. Ada hambatan peraturan dan kebijakan. Pihak-pihak yang selama ini memperoleh ‘untung’ 20% itu, yang tertawa di atas keringat para buruh itu…mereka tak ingin melepaskannya begitu saja. Padahal selama ini, mereka sudah punya, jauh dari cukup. Jauh dari apa yang bisa mereka berikan dan nikmati, hingga anak cucu mereka.

Perlawanan datang dari para tiran yang tertawa di atas penderitaan. Tak mungkin punya hanya satu musuh. Tak mungkin bahkan tidak punya musuh sama sekali. Tidak mengambil sisi, sekali lagi, adalah ketidakmampuan menaklukkan diri. Rakyat yang terbiasa dialiri banjir setinggi lutut, tak berteriak kala banjir sampai ke perut. Tapi mereka yang terbiasa kering beralas kaki, menjerit manakala banjir sampai ke mata kaki. Melompat-lompat dan berusaha mencari tempat untuk selamat.

Ketika Gaza dibombardir. Orang Iran yang Syiah berusaha membantunya. Para pemimpin negeri kaya minyak tak terdengar suaranya. Jose Rizal dianggap Syiah karena membela Palestina. George Galloway menulis pesan singkat di Twitternya, “Penduduk Gaza adalah Muslim Sunni. Dan satu-satunya yang menolong mereka adalah Muslim Syiah. Think!” Ujarnya. Kita harus mengambil sisi. Bersahabat dengan sahabat Gaza, atau berdamai dengan para teroris yang membombardir Gaza. Dalam bersahabat, pilihan itu tak pernah abu-abu. Ia satu di antara warna yang ada.

Orang yang merasa punya banyak teman, sebenarnya tak punya teman sama sekali. Begitu pesan Aesop. Dalam bahasa yang lain, Gibran berkata, “If you love somebody, let them go. For if they return, they were always yours. If they don’t, they never were.” Di tempat yang lain Gibran berkata, “Love knows not its own depth until the hour of separation.” Memilih sahabat adalah pemisah antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam banyak hal, antara kebenaran dan kebatilan, antara kebencian dan kecintaan.

Pilpres 2014, banyak orang keberatan dengan adagium yang dipopulerkan, “Orang baik memilih orang baik.”Ia sebenarnya konsekuensi logis dari pertanggungjawaban moral. Mungkin karena disampaikan oleh satu kubu, sehingga pendukung kubu yang lainnya merasa tersudutkan. Lepaskan kalimat itu dari kedua pasang calon, dan kita akan menemukan kesesuaian. Bagaimana hendak tak punya lawan, bila kawan seiring saja direndahkan. Bagaimana ingin punya seribu kawan kalau di antara sesama kawan terjadi perebutan kepentingan? Orang baik harus dan wajib memilih sahabat yang baik pula.

Kitab suci mengisahkan penyesalan orang yang berkata, “Duhai, seandainya dulu aku tak menjadikan fulan itu sahabatku…” Ia merintih, karena terjerumus dan salah memilih. Ia menyesal mengapa tak mengambil jalan para utusan. Ia menyesal tak bergabung dalam kecintaan. Ia menyesal sudah menghabiskan kata dan waktu kehidupan bersama sahabat yang mencelakakan.

Di antara ciri sahabat yang baik adalah senantiasa mendahulukan sesamanya. Diawali di dunia, bertahan pula hingga alam sana. Konon, ada riwayat di surga, seorang hamba masuk ke dalamnya. Tiba-tiba ia berkata, “Tuhanku, di mana saudara-saudaraku? Di mana sahabat-sahabatku?Dulu aku shalat bersama mereka. Aku puasa bersama mereka.Tapi aku tidak melihat mereka sekarang ini?” Suara kudus terdengar menjawab, “Berangkatlah kau ke neraka. Cari sahabatmu di sana. Jika dalam hati mereka ada sebutir debu keimanan, keluarkan mereka dari sana. Dan bawa mereka bersamamu ke surga.”

Itu beda sahabat dan mukmin sejati. Di negeri ini, jangankan di akhirat, di dunia saja sudah ada orang yang mengeluarkan orang lain dari keselamatan, mengusir jauh-jauh mereka dari kemungkinan surga Tuhan. Tak sudi bersanding dengan sesama lain keyakinan. Membatasi dan mengkavling diri, lantaran perbedaan pendapat(an). Dengan gampang menuduh orang lain sesat, kafir, dan karenanya layak kehormatannya dijatuhkan, fitnah disebarkan, dan berita dusta dihembuskan.

Amiril Mu’minin Ali bin Abi Thalib as adalah personifikasi daya tarik dan daya tolak yang kuat. Ali bahkan tak punya seribu sahabat. Ia mungkin tak punya satu musuh. Bagi Ali yang terjadi sebaliknya. Musuh yang banyak, dan sahabat yang sedikit. Pemimpin yang hendak meneladani Ali harus siap sedikit sahabat dan banyak musuh demi kemaslahatan umat yang jauh lebih besar. Ia berhadapan dengan penentangan, pemberontakan, bahkan pengkhianatan. Tetapi pada saat-saat seperti itu, ia justru punya sahabat-sahabat setia, sahabat sejati, sahabat sesungguhnya.

Dini hari pada malam qadar yang mulia, kepala Ali ditekak belati beracun. Dalam keadaan sujud, di mihrab yang penuh berkah, ia berlumuran darah. Pada Subuh (yang masih menjadi bagian) dari malam kemuliaan, ia tersungkur dalam kepasrahan pada Tuhan.

Racun menjalar dengan cepat ke tubuhnya. Pada hari pertama, lebam kehijauan tampak di sekujur kakinya. Racun itu telah bekerja. Ali menggigil menahan nyeri. Tubuhnya bergetar hebat, dan keringat deras membasahi tubuhnya. Lebam hijau itu perlahan-lahan merayap menghinggapi seluruh tubuhnya, hingga sampai ke kepalanya. Terkulai, ia memanggil anak-anaknya…

Zikir itu tak pernah hilang dari lisannya. Bertakbir, tasbih dan tahmid. Ia panggil putra tertuanya, Al-Hasan. Ia serahkan pedang Dzulfiqar dan kitab suci Al-Quran. Begitu pula beberapa kitab lainnya. Ia wasiatkan Al-Husain untuk taat kepada kakaknya. ”Demikianlah Nabi Saw memerintahkan aku.” Usai wasiat ketakwaan, Ali menitipkan pesan Nabi untuk Al-Hasan. “Bila sudah datang waktumu, serahkan pedang dan kitab suci itu pada adikmu. Demikian Nabi memerintahkan aku.” Lalu Ali berpaling pada Al-Husain. Matanya berkaca-kaca. Ia panggil juga Zainab. Mendekatkannya pada Al-Husain dan meminta keduanya bersabar. Kepada Al-Husain, Ali berkata, “Kalau sudah datang waktumu, serahkan pedang dan kitab suci ini pada putramu yang ini…” kemudian Ali menarik putra Al-Husain yang masih kecil. Namanya sama dengan nama kakeknya, Ali. Kepada anak kecil itu, Ali juga berkata, “Dan bila sudah datang waktumu, serahkan pedang dan kitab ini pada anakmu, Muhammad. Demikian Nabi memerintahkan aku. Dan sampaikan kepadanya, bahwa kakeknya Rasulullah dan aku, menyampaikan salam kepadanya.”

Kemudian Ali meminta dibantu dibaringkan ke arah kiblat. Setelah seluruh wasiat, setelah pesan dan peluk kecintaan, ia hadapkan wajahnya ke arah Ka’bah. Dan dalam pandangan penuh ketenangan, kalimat syahadat mengalir, mengantarkan ruh suci itu kembali ke pangkuan kekasih sejati, “Asyhadu an laa ilaaha illallahu, wahdahu laa syariika lahu. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu…” dan lepaslah nafas terakhir…perjuangan panjang menjaga wasiat Nabi tertunaikan sudah. Syahid di malam kemuliaan.

Sepanjang hidupnya, Ali ditinggalkan sahabat-sahabatnya. Hanya tersisa segelintir orang yang setia kepadanya. Seorang demi seorang, para kekasihnya dipanggil Tuhan. Tapi ia yakin pada apa yang disampaikan kekasih sejatinya. Bagi Ali, tak mengapa seluruh dunia memusuhi, asal jangan Baginda Nabi. Tak mengapa seluruh manusia memerangi, asal jangan keluarga suci. Ali telah ditemani sebaik-baiknya sahabat, di dunia dan akhirat.

Lihatlah dengan siapa kita duduk. Perhatikan siapa sahabat kita. Bila ia senantiasa mengingatkan pada Tuhan, jangan pernah tinggalkan ia. Bergabung senantiasa bersamanya. Kata Hasan al-Basri, “Perbanyaklah berteman dengan orang beriman. Karena bagi mereka syafaat, kelak di hari kemudian.”

Saya tidak tahu akhir kehidupan saya. Belajar dari Ali, saya hanya tak ingin dipisahkan dari barisan para pecinta Sang Nabi terakhir itu. Bila karenanya seribu musuh berdatangan, biarlah. Bila karenanya seribu sahabat berjauhan, biarlah. Saya yakin sahabat-sahabat sejati akan berdatangan. Seperti Ali, mungkin jumlahnya tak banyak, dan satu demi satu, seorang demi seorang, mereka dipanggil Tuhan. Seperti kata Gibran, biarkan sahabatmu itu pergi. Bila mereka tak kembali, mereka memang bukan sahabatmu. Bila mereka kembali, merekalah sahabat sejati.

Dan saya akan menantimu wahai saudaraku, memelihara sebutir debu keimanan itu. Ketika kelak kau berkata, “Di mana sahabatku, yang dulu shalat bersamaku, yang dulu puasa bersamaku…dan aku tidak melihatnya sekarang ini…”

Bila saat itu datang, sahabatku, aku akan menantimu.

Aku akan menunggumu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *