Duabelas Empatbelas 1: Pecah

A house divided cannot stand.

“Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.” Matius 12:26

A house divided against itself cannot stand,” kata Abraham Lincoln dalam pidato bersejarah pengukuhannya sebagai Senator negara bagian Illinois, posisi yang kemudian mengantarkannya menjadi presiden ke-16 Amerika Serikat. Dalam pidatonya itu, Lincoln memperingatkan bahaya pecahnya bangsa karena sikap yang berbeda terhadap perbudakan. Selain menunjukkan sikapnya yang berbeda dari Douglas, petahana waktu itu, ia juga meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan. Ia benar-benar percaya pada ungkapan dalam Matius dan Markus 3:25, bahwa ‘rumah yang terbelah’ takkan pernah dapat bertahan.

Politik belah bambu terkadang tak seperti kelihatannya. Satu bagian diinjak dan yang lainnya diangkat. Di manakah keadilan? Eropa menikmati kemakmuran sedangkan Timur Tengah senantiasa bergelora. Anak-anak kita tersenyum berangkat sekolah, padahal anak-anak Gaza membara. Di satu sisi nikmat, di sisi lain ujian teramat berat.

Mungkin kita memang tidak akan pernah tahu apa yang terbaik bagi kita. Bahkan ketika berdoa, kita sampaikan yang kita pinta. Kata Amirul Mu’minin as, “Tuhan tak selalu memberi yang kita pinta, tapi Tuhan selalu memberi yang kita butuhkan.”

Adalah kewajiban kita untuk mengetahui ‘apa’ yang (benar-benar) kita butuhkan. Seorang ulama besar, ‘Allamah Bahjah berkata, “Penyebab doa kita tak dekat dengan pemenuhan Tuhan adalah karena kita tidak mengawalinya dengan menyampaikan apa yang kita butuhkan. Kita lebih sering menyampaikan apa yang kita inginkan.”

Semifinal Piala Dunia 2014 mempertemukan Belanda dengan Argentina. Pertandingan berlangsung hingga perpanjangan waktu. Akhirnya, adu tendangan penalti kembali menjadi penentu. Kali ini, tak seperti sebelumnya, Van Gaal manajer tim oranye tak mengganti kiper seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia kehabisan jatah pemain cadangan. Kejeniusan sebelumnya seketika berubah menjadi kemalangan. Ketika ia mengganti Cilessen dengan Tim Krul pada pertandingan perempat final, ia mungkin menyelamatkan tim seluruhnya. Tapi pada saat yang sama, ia juga membuka kelemahannya.

Cilessen hilang percaya diri. Ia terbelah, dan a house divided cannot stand. Di semifinal itu, lawan mengetahui persis kesempatan ini. Kiper yang belum pernah menyelamatkan satu pun tendangan penalti dalam pertandingan profesionalnya kini berhadapan dengan para pengambil penalti terbaik dalam sejarah tim Argentina 2014. Argentina melaju ke final dengan melesakkan empat gol. Kekalahan Belanda terjadi ketika Cilessen diganti pada pertandingan sebelumnya. Ia terbelah. Keberuntungan seketika jadi kemalangan. Pujian kini berubah kecaman.

Kemenangankah yang kita butuhkan ataukah kekalahan? Keberuntungankah ataukah kemalangan? Julio Cesar kiper Brazil, dipuja karena mementahkan penalti Chile. Tapi ia dikecam karena kebobolan hingga tujuh gol setelahnya. Pada pertandingan Piala Dunia itu, Brazil sebagai tuan rumah harus mengakhiri pertandingan dipermalukan dua kali, justru pada saat yang paling tak diharapkan. Argentina senantiasa terselamatkan oleh gol-gol irit, dan kebanyakan terjadi di akhir pertandingan. Di partai puncak itu, mereka justru yang ditaklukkan oleh gol irit, juga di akhir pertandingan. Mungkin tidak sepenuhnya tepat, tapi Baginda Sang Nabi Saw pernah bersabda, “kamaa tadiinu, tudaanu.” Sebagaimana kamu memperlakukan, begitulah kamu akan diperlakukan.

Hadis Baginda itu berkenaan dengan perkhidmatan antarsesama. Misalnya, bakti kita pada anak. Sebagaimana kita memuliakan mereka, begitu pula mereka kelak akan memuliakan kita. Mungkin yang kita inginkan adalah dimuliakan dan dihormati anak-anak kita, padahal boleh jadi yang kita butuhkan adalah memuliakan dan menghormati mereka. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa diubah, sesuaikanlah. Pasrahlah. Dan situasi itu pun akan berkembang menyesuaikan keadaan kita.

Seperti pernah sepasang ayah dan ibu dikaruniai Tuhan anak yang berkebutuhan khusus. Entah autisme tingkat berapa. Mereka mencoba membawanya ke berbagai tempat terapi, ke banyak psikolog, psikiater, dokter anak, dan tak terhitung jumlah seminar. Mereka tak berhasil. Hingga usia lima-enam tahun, anak itu tak dapat bicara sepatah kata pun.

Akhirnya, kedua orangtuanya menyerah. Mereka berkata, “Selama ini kita meminta ia melakukan apa yang kita inginkan. Mari sekarang kita lakukan apa yang ia inginkan.” Maka dimulailah hari-hari penuhperjuangan. Bila anaknya berteriak, sang ibu tidak akan melarangnya. Ia justru ikut berteriak juga. Bila si anak melempar piring, dan praaang! Ibu akan ikut melempar juga. Mereka lakukan terus menerus hingga satu saat…terdengar kata pertama, “…Ma…ma.” Dan satu kata itu membayar seluruh kelelahan, menghapus sekian tahun keringat dan kegelisahan.

Steven Whiltshire, anak yang autis itu, kini menjadi pelukis tata kota kenamaan, ketika gurunya menemukan bakat menggambarnya dan ia mengucapkan kata ‘paper’ pada usianya yang kesembilan. Inilah makna ‘fa shabrunjamil‘ sabar itu indah sebagaimana kisah Nabi Ya’qub as dalam penantiannya yang panjang akan kehadiran Nabi Yusuf as.

Bertahun kekuatiran terbayar dengan satu ucapan. Berpuluh tahun penantian tergantikan satu pertemuan. Nikmatnya berbuka puasa, setelah sekian jam menahannya.

Apa yang tidak boleh dihancurkan adalah memecah belah apa yang ada dalam diri, menghancurkan kepercayaan, tak memberikan ruang untuk kesalahan. Romero, Kiper Argentina itu, dibekap cedera panjang. Tapi Sabella pelatihnya tetap memberikan kepercayaan. Mereka harus tetap berdiri tegak karena sampai pada puncak pertandingan. Pada saat jiwa-jiwa terkulai, mereka justru harus dikuatkan.

Kini, negeri ini tengah berada dalam ujian. Bagi sebagian, antara yang diinginkan dan yang dibutuhkan. Terutama, dari para pemimpinnya. Hasil pilihan raya telah mengantarkan suara rakyat pada pemimpin yang diinginkan dan insya Allah juga dibutuhkannya. Yang tak boleh dilakukan adalah memecah belah bangsa ini. Usai pilihan yang berbeda, kita kembali satu suara. Usai sekian dinamika dan beradu kata, kini kita berbagi cinta.

Doakanlah saudara kita di Gaza. Selama ini umat Islam dibelah. Didera isu perpecahan yang menyiksa umat. Saling cakar berebut benar. Begitu gampang menyesatkan. Berkumpul untuk dapat mengafirkan. Kita berdebat dan menghujat. Kita lupa, itu bukan yang kita butuhkan. Berhentilah segera. Yang dunia butuhkan adalah persatuan dan persaudaraan. Yang kita butuhkan adalah cinta dan kasih sayang.

Karena penantian itu satu saat akan berakhir, dan semua derita berubah kebahagiaan. Yang mengangkat trofi Piala Dunia hanya satu negara, tapi setiap yang berjuang dan berusaha meraihnya adalah para pemenang itu, meski nama mereka tak dipahatkan. Kuatkan selalu hati setiap jiwa, bahwa semua kita bersaudara. Jangan pernah mengangkat yang satu dan menginjak yang lainnya. Karena pada saat itu, kita telah melemahkan umat seluruhnya. Ketika Cilessen diganti dan Krul menempati posisinya, di satu sisi prestasi, di sisi yang lain tragedi. Dan satu saat kita akan memetik buahnya.

Lionel Messi mungkin tertunduk ketika Piala Dunia tak diraihnya. Penghargaan sebagai pemain terbaik tak dapat menghiburnya. Ia tak ingin memperolehnya sendirian. Ia tak ingin diangkat, dan yang lain direndahkan.

Selamat bagi Jerman, yang telah mengakhiri mimpi panjang. Dua puluh tahun lebih sejak trofi terakhir mereka genggam. Itu mungkin piala yang keempat dalam sejarah sepakbola mereka, tapi itu kemenangan pertama negeri Eropa di tanah latin Amerika. Itu juga hadiah terindah pertama, usai mereka dipersatukan.

Persatuan memang harta tak terkira. Ia satu-satunya yang dibutuhkan. Benar kata Abraham Lincoln, karena a house divided cannot and will never stand.

Illustrasi: https://www.flickr.com/photos/rodneireis/8105965551

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *