Duabelas Empatbelas 1: Harapan

Siapa yang tak mengenal Frank ‘Bopsy’ Salazar. Anak kecil usia lima tahun dari Arizona, Amerika Serikat yang didiagnosa Leukemia sejak usia lima. Ia menjadi pasien pertama penerima ‘mimpimu jadi nyata’ dari Make-a-wish Foundation. Yayasan yang didirikan masyarakat untuk membantu mewujudkan mimpi-mimpi terakhir para pasien yang menanti detik-detik terakhir.

Semuanya diawali ketika Chris Grecius, juga penderita Leukemia, ingin menjadi seorang polisi. Ia masih muda. Adalah Tommy dan Ron Cox dari Kepolisian Arizona yang mewujudkan mimpi Chris. Mereka mengajaknya keliling dalam helikopter polisi, dan mendarat di markas besar kepolisian, di mana Chris disambut oleh pasukan protokoler, yang kemudian memberi hormat kepadanya, mengantarkannya kembali ke rumah sakit dengan iring-iringan penghormatan. Tiga hari kemudian, ia dinobatkan sebagai anggota termuda, dengan seragam dan tanda jabatan yang dibuat khusus untuknya. Pada sore harinya, ia menghembuskan nafas terakhirnya, dalam balutan seragam kepolisian yang diidamkannya.

Sejak Chris, orang tergerak untuk memenuhi harapan terakhir pasien yang diperkirakan sudah dekat akhir hidupnya. Dan Bopsy menjadi yang pertama. Ketika ditanya apa keinginannya, ia menjawab, “Tamasya ke Disneyland, naik balon udara, dan menjadi anggota pemadam kebakaran.”

Ia diberangkatkan ke Disneyland, naik balon udara, dan juga—seperti Chris—dianugerahi anggota kehormatan pemadam kebakaran. Truk pengangkut air itu khusus dikeluarkan dan berkeliling kota, dengan Bopsy duduk di atasnya.

Usai peringatan Paskah, empat orang petugas pemadam kebakaran, menjulurkan jembatan tangga dari kendaraan mereka, naik ke atas, dan mengetuk jendela Bopsy yang terheran bahagia menyambut mereka. Jaket pemadam kebakaran disematkan pada Bopsy, dan ketika ia melihat ke bawah, sebuah truk pemadam kebakaran bertuliskan sebuah kata berwarna putih: Bopsy 1. Namanya diabadikan sebagai nama kendaraan itu. Bopsy tertawa. Tawa terakhirnya, karena tak lama malam itu, ia pun menghembuskan nafas akhirnya.

Menarik bagaimana ‘kematian’ mengubah persepsi dan aksi. Kita pasti berubah manakala tahu kapan hari terakhir kita. Cukuplah kematian jadi penasihat, sabda Baginda Nabi Saw. Bayangkan bila sensor di telepon pintar kita menghitung mundur jadwal kehadiran kita. Seperti kata menantu Nabi akhir zaman itu, “Setiap nafas yang kita tarik, mendekatkan kita selangkah pada kuburan kita.”

Kematian, kuburan, akhir hayat adalah kata-kata yang akrab, tapi tak ingin dibuat dekat. Ibarat kenal, tapi tak ingin jadi sahabat. Begitukah?

Apakah yang mengerikan dari kehadiran sang pencabut nyawa itu? Adakah karena keinginan yang tak kesampaian? Keinginan tak pernah ada batasnya. Tidakkah justru kita bahagia menyambutnya, bila yang kita inginkan justru ada di tepian sebelah sana, di seberang yang dipisahkan oleh satu hembusan nafas itu, dan malakal maut yang jadi jembatan menujunya.

Tulisan saya sekarang ini agak berbeda. Saya sudah yakin bahwa amalan saya tak cukup mengantarkan ke surga. Meski tetap takkan berputus asa dari rahmatNya. Meski tetap bersandar pada sangka baik terhadapNya. Saya tulis ini di bulan Ramadhan, bulan suci yang dihadirkan namun sayang diri ini memperoleh hidangannya. Malu menjadi tamu yang tak beradab di hadapan tuan rumahnya. AmpunanMu wahai junjungan. AmpunanMu wahai Tuhan…

Mengapa tulisan ini berbeda? Karena saya persingkat, dalam tempo yang sependek-pendeknya. 19 bulan Ramadhan, Amirul Mukminin as ditebas pada shalat dini hari. Ia sering bertelekan di pusara Baginda Nabi Saw dan berkata “Ooh, betapa panjangnya perjalanan. Sungguh sedikitnya perbekalan.” 21 bulan Ramadhan, pada Subuh yang diberkati dalam malam kemuliaan, ia berteriak penuh kemenangan, “Fuztu wa rabbil Ka’bah! Aku sudah berhasil, demi Tuhan pemelihara Ka’bah.”

Bila menjadi setitik debu pada selendang orang seperti Ali, cukuplah itu kemuliaan, bagi si hina rendah seperti aku ini.

Kini, saya tak lagi berharap pada amal. Saya berharap pada kecintaan. Itulah sebaik-baiknya bekal. Itulah wasiat Tuhan sebagai budi kebaikan sang utusan. Berharap kecintaan itu, kita sebut syafaat. Saya menulis singkat, cepat, dan karenanya menjabarkan secara inti apa dan bagaimana syafaat itu. Ia perlu dituliskan khusus. Bagian berikut ini akan menjadi penutup dari buku saya—Insya Allah—berjudul ”Perjalanan Pulang (tanpa) Pergi.” Baca lebih jauh tentang syafaat di situ.

Secara sederhana, syafaat punya tiga rukun utama: Tuhan sebagai penerima syafaat dan yang mengizinkannya; pemberi syafaat; dan yang diberi syafaat. Tuhan mengabulkan syafaat untuk orang yang memperolehnya dari mereka yang diizinkannya.

Tak ada satu pun syafaat tanpa izin Tuhan. Siapa dan atas dasar apa ia berhak memberi; siapa dan atas dasar apa ia berhak menerima…semua karena izinNya. Dialah Sang Pemilik Hari itu. Dialah yang orang-orang saleh bergetar menghadapNya. Inilah hari yang karenanya orang-orang suci itu berguncang karenanya. Semua kuasaNya. Izin hanya dariNya.

Lalu siapakah yang kelak diizinkan? Apa syarat yang harus mereka miliki. Kitab suci menyarikannya bagi kita. Orang-orang itu haruslah tidak (pernah) menyekutukan Tuhan, yang mengetahui hak manusia atas syafaat, yang adil dan penuh hikmah, yang kuasanya mencengkeram manusia, yang takut dan bergetar akan kuasa Tuhannya. Siapakah yang seperti itu? Menurut kitab suci: para nabi, malaikat, orang-orang yang beriman, yang mengikat perjanjian dengan Tuhannya dan memenuhinya, yang menjadi pemegang janji Al-Rahman, dan orang-orang yang disebut Tuhan punya keutamaan, yaitu mengenal baik dan mengetahui penghuni surga maupun neraka.

Bila menengok pada riwayat dari para teladan, ada pula orang-orang tertentu yang kelak diizinkan: orangtua yang saleh, anak yang berbakti, para syuhada, guru, dan sebagainya. Adapun penerima, siapa sajakah yang berhak karenanya? Banyak, tapi juga dalam batasan izin Tuhan. Ada yang tidak boleh memperolehnya, antara lain orang yang lalai shalat, yang menggunjingkan dan menyebarkan berita sesat, yang tidak memberi makan dan berbagi rezeki dengan orang miskin. Syarat seseorang menerima syafaat adalah keridhoan Tuhan dan permohonan istighfar penuh kesungguhan. Setidaknya, tiga kelompok disebut kitab suci: yaitu pendosa yang beriman pada Tuhan, sesama orang yang beriman, dan para pemuka ketakwaan.

Syafaat bisa diberikan pada pendosa sepanjang ia tidak menyekutukan Tuhan. Di bagian ini mungkin kita boleh menyimpan sedikit harap. Bila kecil meraih syafaat sebagai pemuka orang takwa, sebagai perwujudan keimanan, gantungkan diri pada tali kasih Tuhan. Semoga teladan kekasih hati berkenan.

Meski demikian, ada tirai penghalang yang hanya bisa kita tepiskan dengan kesungguhan, jauh sebelum saat akhir itu menjelang. Ada banyak sebab tertahannya syafaat. Berikut di antaranya: takabbur, melalaikan Al-Quran, mempermainkan agama, menyebarkan kebatilan, menelantarkan orang miskin, meninggalkan shalat, mendustakan hari kiamat, berlumur dosa yang pekat, menjatuhkan diri pada akibat yang sesat, menyekutukan Tuhan, berlaku aniaya dan kezaliman, melupakan kampung akhirat, dan membunuh jiwa tanpa dibenarkan, seperti menyakiti para nabi dan para penegak keadilan. Kekafiran dan kemunafikan adalah penghambat lainnya dari syafaat yang diturunkan.

Secara sederhana, syafaat adalah penyempurna amal dan harap kita. Dengannya dosa diampuni. Karenanya kesalahan dihapuskan. Ia jadi ‘our last wish’ for this dying soul. Tanpanya, kehampaan dan kebinasaan menanti di akhir perjalanan.

Tapi ia hanya bisa diperoleh setelah kita berusaha segenap daya untuk meraihnya. Syafaat ternyata bukan harapan. Ia akumulasi dari seluruh amal dan peribadatan, dari segala upaya dan perkhidmatan.

Seperti kisah Harriet Richardson Ames. Ia seorang guru. Pada tahun 1931, saat berusia 21 tahun, ia menyelesaikan diploma dua untuk pendidikan keguruan. Ia mengajar di banyak tempat. Tapi keinginannya tak pernah pupus untuk melanjutkan studi dan memperoleh gelar sarjana dalam pendidikan. Ia terus kuliah, dengan berbagai cara, hingga akhirnya menyerah pada tahun 1971, saat usianya sudah 61 tahun. Ia ragu apakah ia masih punya cukup kredit untuk menyelesaikan.

Ketika usianya merangkak ke dasawarsa sembilan, semangatnya tak pernah padam. Kemudian ia kembali mendaftar. Katanya, “Bila aku mati esok hari, aku bahagia, setidaknya gelar sarjanaku, masih sedang aku kerjakan. If I die tomorrow, I’ll know I’ll die happy, because my degree’s in the works.”

Tiga minggu sebelum ulang tahunnya yang keseratus, akhirnya ia diwisuda. Diploma sarjana dengan bahagia digenggamnya. Keesokan harinya, Harriet meninggal, dan diploma itu menemani saat terakhirnya, persis di samping tempat tidurnya.

Saya tahu cerita seorang kakek, yang berusaha menghafal Al-Quran, dan meninggal begitu juz terakhir itu dikhatamkannya. Sekarang saya berusaha menghafal kitab suci. Saya berjanji pada diri, kalapun saya tidak sampai hingga malakal maut, sahabat pengantar keabadian itu datang menjemput, “at least I die trying.” Setidaknya, aku berangkat (dalam keadaan) berusaha.

Inilah syafaat. Ia tidak lagi jadi harapan. Ia justru cita-cita yang harus diperjuangkan. Kita terlalu takabur, datang pada Tuhan dengan amalan. Seluruh peribadatan ini dariMu Tuhan. Kita terlalu sombong bila mengandalkan pahala. Dosa kita terlalu banyak untuk diampuni. Semua nikmat itu pun dariMu wahai Junjungan. Kita jumawa, bila yakin dapat terselamatkan, karena permohonan ampunan yang kita lakukan. Bahkan pada saat-saat suci seperti waktu pilihan datang menjelang. Kita angkuh bila keyakinan menipu diri.

Syafaat kini bukan lagi pinta terakhir kita. Ia lebih dari sekadar our last wish. Harapan akan syafaat selayaknya berdetak dalam setiap nadi kita, berakar dalam setiap urat kita, tertanam dalam batin, tak pernah terpisahkan sesaat pun. Syafaat adalah identitas diri, ruh dari setiap pengabdian, semangat dari seluruh perbuatan. Syafaat adalah kerinduan yang menggerakan seluruh perkhidmatan.

Harapan akan syafaat seharusnya menyertai setiap tarikan nafas, mengiringi setiap langkah kaki…

Tak ada dambaan, yang lebih sempurna lagi. Di ufuk jauh kerinduan hamba…Muhammad berdiri…

Izinkan noktah penuh dosa ini menujumu. Syafaat adalah izin itu. Syafaat adalah senyum Baginda. Syafaat adalah sejarah di balik kalimat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, Fuztu wa Rabbil Ka’bah. Syafaat adalah setiap detik Ali, hingga saat itu…

Isyfa’uu lii ayyuhal ahibba
Syafa’atmu, wahai kekasih hati tercinta…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *