Catatan Bulan Ramadhan 1437H: 1


Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Pagi itu, KH. Jalaluddin Rakhmat menyampaikan pesan singkat dan utama: empati. Di hadapan keluarga besar wisudawan Sekolah Cerdas Muthahhari beliau tekankan kembali pokok utama pengajaran karakter di Sekolah-sekolah Muthahhari. Empati lebih dari sekadar peduli. Pada empati ada tanggung jawab dan tenggang rasa. Ada keadilan dan kejujuran di waktu yang sama. Dan yang jauh lebih utama, pada empati ada perlawanan terhadap kecintaan atas diri. Inilah, tantangan manusia modern dewasa ini.

Perkembangan teknologi telah membuka ruang bagi manusia untuk berteriak nyaris tentang apa saja. Mereka kini bebas berpendapat, tiada habis berdebat…dan harga diri menyelinap sesekali. Berdiskusi bukan untuk memahami. Berdiskusi untuk menghakimi. Pada akhirnya, mengatakan pendapatnya saja yang paling benar. Keakuan itu menampakkan diri. Saat kita tersinggung, saat merasa kehormatan dipasung.

Jejaring sosial media juga telah membuka ruang itu lebih luas. Tradisi copy paste cepat tanpa konfirmasi, dan beragam media untuk foto selfie. Ingin terlihat lebih baik, lebih cantik. Atau menampakkan tempat-tempat yang sudah dikunjungi, atau makanan yang sudah dinikmati, atau orang besar yang kebetulan bertemu berpapasan, atau prestasi dan ragam berita yang menunjukkan kelebihan. Semua sarana berekspresi tersedia. Seluruh dunia bisa mengetahuinya. Dalam setiap postingan ada pesan berikut ini: Aku sudah pernah ke tempat ini. Aku sudah mencoba makanan ini. Aku sudah bertemu orang hebat ini. Aku, aku…dan aku. Keakuan itu dibantu untuk menampakkan diri.

Tak ada yang salah dengan semua itu, bergantung niat yang mengiringinya. Di sinilah empati membimbing kita. Saat posting foto makanan, adakah orang lain tergiur karenanya. Saat posting foto tempat, adakah bersedih yang belum berangkat. Saat bertemu orang hebat, mungkinkah ada yang cemburu karenanya.

Setiap agama mengajarkan kita berbahagia dengan bahagia sesama, bersedih dengan derita sesama. Inilah empati. Kenyataannya, bila ada orang lain bahagia, kita mengurut dada. Kita cemburu bila tak beroleh nikmat yang sama. Berlatihlah dengan puasa agar kita tekan keakuan kita. Belajarlah bahagia dengan nikmat sesama.

Maka apresiasilah orang terdekat kita. Beritahu ia kita bahagia dengan sukacitanya. Kita bersedih dengan dukacitanya. Karena kita tidak pernah tahu nikmat Tuhan yang mana yang sedang meliputinya. Sungguh, semua nikmat Tuhan itu indah. Tanpa kecuali.

Seperti pernah satu saat, Musa as sang nabi bermunajat. Ia minta Allah Ta’ala perlihatkan seorang di antara hamba pilihan. “Berangkatlah ke sahara, hai Musa.” Suara kudus datang dalam jawaban.

Nabi Musa as bergerak ke sahara. Di sana ia melihat seorang gembala. Ia takjub amalan apa yang menjadikannya kekasih Tuhan semesta. Nabi Musa as bertanya pada Malaikat Jibrail as. Jibrail as menjawab, “Allah Ta’ala berkata, lihatlah apa yang dia lakukan saat Aku putar balik keadaannya.”

Tiba-tiba awan bergemuruh, gelap memayungi dan hujan antarkan petir menggelegar. Seberkas di antaranya jatuh tepat di dekat gembala itu. Sinar begitu putihnya membutakan penglihatannya.

Gembala itu terduduk. Ia berdoa: Junjunganku, sekiranya melihat untukku lebih Kaucintai, maka ia lebih kucintai. Jika tak melihat lebih Kaucintai untukku, maka tak melihat ini lebih kucintai.”

Nabi Musa as tahu, hamba ini telah sampai pada derajat ridha. Ketika kondisi seperti apa pun tak membuatnya jauh dari cinta Tuhan. Ia mendekatinya. “Wahai hamba Allah, aku Musa nabi Allah. Kalau kaukehendaki, aku akan berdoa agar Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanmu.”

“Tidak,” jawabnya.

“Mengapa?”

“Karena apa yang dipilihkan Tuhan bagiku lebih aku cintai dari apa yang aku inginkan.”

Hambatan terbesar empati adalah keinginan diri. Puasa mengajarkan menekan keinginan itu. Tidak akan sampai pada ridha Tuhan, ia yang tak mencintai apa yang Tuhan pilihkan. Bagaimana mengasah empati? Mulailah dengan merasakan, apa yang dirasakan mereka yang akan membaca postingan kita. Mulailah menerka apa yang dirasakan keluarga dan orang terdekat kita. Mulailah mengira apa yang dirasakan sahabat dan kenalan kita. Mulailah membaca mereka yang menerima pesan (dan gerakan) kita. Kekang lisan, perbanyak mendengar. Tahan tangan menerima, perbanyak memberi. Coba tekan dalam-dalam, saat ego ingin menampakkan diri.

Terima kasih Ustad Jalal, semoga empati yang kaupesankan dapat selalu menjadi program utama di sekolah-sekolah Muthahhari. Mohon doa bersama mengabdi.

@miftahrakhmat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *