Duabelas Empatbelas 2: Parle

Aku belajar diam dari orang yang banyak omong. Aku belajar menghargai dari mereka yang memaksakan diri. Aku belajar menghormati, dari mereka yang mencaci. Tapi aku tidak pernah berterima kasih pada guru-guruku itu… Haruskah?

Aku tuliskan di buku harianku, peristiwa hari ini. Seperti hari-hari sebelumnya, kamar mandi, toilet, dan dapur jadi giliran yang kukunjungi kali ini. Sapu, lap pel, aroma pembersih dan sterilisasi. Semua sudah aku kuasai.

Rumah ini harus tetap bersih. Mengkilap kalau bisa. Ini rumah wakil rakyat. Anggota dewan yang terhormat. Mereka datang dari berbagai negeri, memperjuangkan kebaikan hidup kami.

Lihat, mereka datang berduyun-duyun, dengan keluarga dan sanak famili. Senyum bahagia di sana-sini. Sumringah, seolah tak ada duka. Pakaian terbaik: jas necis, batik berbordir. Mereka bersiap untuk hari ini. Ungkap syukur karena telah terpilih. Kegembiraan karena terhindar dari tersisih. Akankah pakaian itu tetap mereka kenakan kembali? Akankah batik bordir itu, menyertai mereka di tengah-tengah para pemilih?

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Parle”

Duabelas Empatbelas 2: Pulang

Udara dingin, tapi itu biasa. Matahari bersinar secukupnya dan awan seputih kapas itu bergantian menutupinya. Yang berbeda adalah keheningan yang luar biasa. Terlalu lama, lebih dari setengah jam lamanya. Tak ada seorang pun berbicara. Bahkan tak ada gumam doa. Semua menunggu apa yang terjadi di bawah sana.

Aku tak berani melangkahkan kaki lebih jauh. Di hadapanku berkumpul keluarga yang berduka. Momen seperti ini adalah saat yang harus dihormati. Tidak boleh asal bicara. Terlarang sembarang berkata. Peristiwa duka cita, kembalinya seorang hamba pada Tuhannya, adalah saat-saat istimewa, ketika seluruh raga mematung di hadapan kebesaranNya, dan seluruh jiwa merebah pasrah pada garis ketentuanNya.

Setiap menghadiri pemakaman, aku dan yang hadir selalu diingatkan bahwa giliran satu di antara kami berikutnya. Malakal maut akan mengepakkan sayapnya dan menjemput seorang dari kami. Ajaib, biasanya aku merasa, giliran orang lainlah berikutnya, bukan aku. Setiap mengantar jenazah itu, aku selalu mengira, orang lain yang lebih dulu dijemput, bukan aku. Orang lain yang kuantarkan. Bukan mereka yang mengantarkanku. Kecuali sekarang ini.

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Pulang”

Duabelas Empatbelas 2: Fanatik

“Jun, ikut aku yuk, ada Ustadz baru di Masjid raya…” ajak Hamid sahabatku. Ia paling suka safari keliling masjid, mendengarkan berbagai ustadz, mengetahui ragam pendapat dan menikmati cara penyampaian yang berbeda. Kata dia, “ngaji bisa sama siapa saja, yang benar itu pasti enak didengar. Kalau ada yang tidak tahu, kita bisa tanya.” Aku masih belum bisa seperti dia. Aku tumbuh dalam tradisi keagamaan yang kuat. Keluarga selalu mewanti-wanti bila ada paham yang dianggap baru, “Hati-hati, banyak sudah dalam agama itu yang tak asli, yang diubah dan dibuat baru. Jangan sampai kamu masuk neraka karena salah mengambil guru.” Sejak itu, aku selalu ketakutan menghadiri pengajian selain di masjidku. Daripada celaka, lebih baik tetap di tempat yang  menjamin keselamatan.

“Aku dengar ustadz ini berbeda…ia baru pulang dari Amerika. Aneh, seharusnya Ustadz itu pulang dari Arab sana. Ini kok malah dari negeri embahnya kemudaratan…pasti menarik. Ayo, ikut aku.” Hamid tak bosan membujuk aku. Ini bukan kali pertama. Dan bukan sekali ini pula dia gagal. Aku harus hati-hati, tetap pada keyakinan yang asli.  ”Jun, kalau orang jadi ustadz karena tinggal di pesantren, wajar. Ia belajar untuk itu. Kalau ia jadi soleh karena hidup di negara beribu menara, itu juga biasa. Justru aneh bila jadi Ustadz di tempat seperti Amerika. Kalau orang bisa bertahan mukmin dan tak tergoda, kau harus acungkan jempolmu. Angkat topimu tinggi-tinggi untuknya. Sekali ini saja, Jun. Kalau kau tak suka, aku takkan memaksa.”

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Fanatik”

Duabelas Empatbelas 2: Hilang

“Kemarahan sesaat, menghilangkan kebahagiaan. Kau tahu itu?” Tanyaku sambil menggenggam tanganmu. Engkau tersenyum dan berkata, “Aku tidak marah. Aku hanya diam saja. Diam tak selalu marah. Tahukah kau itu?” Kau malah balik bertanya kepadaku. Ajaib. Cerdas pada saat yang sama.

Aku memang tak mengerti jalan pikiran wanita. Sepertinya, takkan pernah sanggup untuk mengerti. Ternyata misteri itu satu kebahagiaan. Mengetahui yang pasti, justru bisa jadi penderitaan. Bayangkan, karena berbuat salah, api amarah dapat meledak kapan saja. Bayangkan tak lagi harus menerka, tak lagi harus mengira. Jenuh rasanya.

Kau bukan wanita pertama yang tak kupahami. Dan tak satu pun wanita benar-benar pernah kumengerti. Bila satu saat berkata ”a” lalu kulakukan, ia akan berkata, ”itu dulu, sekarang mauku bukan itu.” Pusing aku. Kau bukan wanita pertama yang membuat keningku mengerut, membuatku berpikir tentang wanita. Tidak, kau tidak membuatku berpikir tentang itu. Kau membuatku berpikir tentang pikiran itu sendiri.

“Kau pintar membolak-balik kata,” jawabku menanggapi. Kau dengan cepat menimpaliku, “Kata hanya dibolak-balik, bila kau punya maksud lain di hatimu.”

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Hilang”

Duabelas Empatbelas 2: Asing

“Kalian tidak tahu bagaimana rasanya hidup tak diinginkan. Bagaimana rasa aman berubah jadi ketakutan. Bagaimana sukacita, kebahagiaan, canda tawa…sekejap saja berubah mengerikan.…”

Oma berhenti. Ia menarik nafas panjang, seakan berusaha mengumpulkan kembali ingatan yang samar. Bukan hilang, hanya tak ingin dikenang. Lalu terdengar hembusan nafas berat…”wuush…” beban itu masih ada. Sesak itu masih menghimpit dada.

Aku raih tangan Oma. Mengelusnya. Mengusapnya. Keriput di tangan Oma jauh lebih banyak daripada kerutan di bawah matanya. Oma bisa dibilang awet muda. Ia cukup baik merawat wajahnya. Tapi gulir usia itu tampak jelas pada tangannya, pada kakinya, pada putih rambut di kepalanya.

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Asing”

Duabelas Empatbelas 2: Blusukan

Aku bahagia hari ini. Ada selisih dari jumlah yang harus aku setorkan. Aku manfaatkan itu dengan baik. Aku ajak keponakanku bermain. Mereka tampak ceria sekali, menikmati naik turunnya komedi putar jalanan yang lewat di depan rumah. Entah sejak kapan dan siapa yang memulai, komedi putar itu terkenal dengan nama ‘odong-odong’. Aku senang anak-anak itu senang. Apa lagi yang bisa kulakukan?

Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, perempuan semua. Kedua kakakku sudah menikah. Keponakanku dari merekalah yang memberi kebahagiaan di ujung hariku, di akhir pekerjaan panjang seperti ini. Gurat senyum mereka selalu menyuntikkan semangat baru. Tawa renyah mereka…ah, tak ingin kulewatkan. Bahagia mendengarnya.

Setiap hari aku bertemu dengan banyak wajah. Ternyata manusia mudah diterka. Habiskan setahun atau dua bekerja sepertiku, kau akan bisa membaca mereka seperti buku. Aku tahu, tak boleh mencari aib sesama, tapi terkadang kita belajar banyak dari cerita mereka.

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Blusukan”

Duabelas Empatbelas 2: Bajing Ireng

Matahari sudah lama bersembunyi. Bintang pun bergantian menemani. Hanya bulan yang sesekali tertutup awan. Aneh, makin lama kuperhatikan, hanya bulan saja yang berbalut awan, bintang tidak. Sepertinya alam hendak menutupi persembunyianku. Sinar malam kali ini redup. Cahaya bintang cukup untuk menyusuri jalanan berkelok hutan ini. Cukup bagi mata terlatih seperti aku. Tapi tidak bagi mereka…rombongan bandit itu.

Aku masih ingat Kiai Mansur meminta aku memandang bulan, lama sekali. Katanya, “Kau takkan silau memandanginya. Ia setia menemani bumi. Ia menyerap cahaya matahari. Dan kau, bila kau melihatnya, kau menyerap cahaya bulan. Kau akan terbiasa melihat di kegelapan.” Kini aku mengerti nasihatnya. Ia mempersiapkan aku untuk hari ini, untuk saat-saat seperti ini.

Karena pelajaran ‘memandang bulan’ itu aku tak pernah tersesat kembali pulang. Aku selalu tahu berjalan di kegelapan. Pesantren Rongpusoko telah mengajariku sangat baik. Kiai Mansur bukan saja mendidikku cara baca Arab gundul. Ia juga membekaliku dengan ilmu kanuragan, ilmu bela diri, silat warisan Mamang Haji Tajimalela, sejak puluhan tahun lalu. Ialah pendiri Rongpusoko. Ia mengaku asli Sunda, meski ayahnya dari Magelang. Karena itu, nama Rongpusoko lebih terdengar kejawaan, padahal ia berkembang di tanah Pasundan.

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Bajing Ireng”

Duabelas Empatbelas 2: Palsu

“Suit suit…” bunyi sms kesekian kalinya masuk ke hapeku. Pasti, ucapan selamat lebaran, pikirku. Ini sudah yang kesekian kali. Aku ambil hapeku. Tertulis: 23 pesan baru, 6 percakapan di grup, dan satu missed call. Alih-alih membaca pesan singkat itu, aku ubah moda penerima. Aku pilih nada getar. Aku tidak merasa bernafsu untuk segera membuka pesan-pesan itu. Moodku sedang aneh, tidak enak. Tidak karuan.

Kata orang, begitulah kalau sedang datang bulan. Kaum lelaki takkan pernah tahu rasa sakit ini. Mereka hanya tahu enaknya saja. Mereka menenangkan dengan berkata, “Tuhan mencintaimu. Tuhan membersihkanmu. Bayangkan saat pertama nanti kau boleh shalat lagi. Alangkah indahnya. Alangkah syahdunya.” Mereka sekadar cari alasan karena tak punya dalih untuk bisa tidak sembahyang.

Aku tak suka lebaran. Aku tak bisa ikut shalat karena halangan. Aku duduk saja di parkiran. Pak Ustadz berkhutbah dengan mengatakan, “Kita harus bersedih. Hari ini setan membentangkan spanduk ‘selamat datang kawan, selamat datang teman’. Hari ini setan bersuka cita. Ia diizinkan Tuhan kembali menggoda kita.” Aku tersenyum kecut mendengarnya. Lebih tepat lagi, sinis. Aku kira orang Islam yang berbahagia. Ternyata, setan juga. Makin bingung aku jadinya. Pak Ustadz menutup khotbah dengan doa yang mendayu. Menurutku, ia sengaja ‘merintihkan’ nadanya. Merintihkan. Artinya, membuat rintihan. Ia ingin membuat orang lain menangis. Ia terdengar tersedu beberapa kali. Beberapa jamaah terlihat menangis. Aku tidak. Aku tidak dapat membohongi hatiku. Aku tidak sedih.

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Palsu”

Duabelas Empatbelas 2: Darurat

Bagian II:
FIKSIONAL
(CERPEN)

Darurat

Aku tak tahu berapa lama tak sadarkan diri. Dengan samar kulihat sosok di hadapanku. Tak begitu jelas. Semburat cahaya perlahan-lahan mengisi kelopak mata yang terbuka sesekali. Buka, tutup, buka dan tutup lagi.

Indraku mulai bekerja, meski tak sepenuhnya. Sayup-sayup kudengar orang berkata, “Kasihan dia, bila tidak karena orang ini, dia sudah celaka.” Akukah yang mereka maksud itu?

Ingatanku menerawang, berusaha mengingat keadaan. Aku masih tahu namaku, aku masih tahu siapa aku. Tapi…ah, ada bagian yang hilang. Aku tidak merasakan apa pun. Bukan, bukan rasa sakit di belakang kepala, yang membesar mengecil, kembang kempis, seperti hendak meremukkan batok kepalamu itu. Bukan pula perih hangat yang terasa di sekujur tubuhmu. Aneh, aliran darah yang selama ini kautakuti, ternyata hangat mengalir di sela-sela jari jemari. Ya, aku bisa rasakan itu. Aku bisa melihat jelas warna merah itu. Bukan ini yang tidak kurasakan. Aku tidak merasakan cinta, sayang, benci, marah, suka atau tidak, bahagia atau duka. Aku kosong. Aku hampa.

Dan sedikit demi sedikit, kenangan itu bermunculan. Kesadaranku perlahan-lahan datang.

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Darurat”

Duabelas Empatbelas 1: Jalan

Ginan Koesmayadi menorehkan sejarah dalam persepakbolaan Indonesia. Ia menjadi pemain terbaik FIFA Homeless World Cup 2011. Kompetisi ini sendiri diakui FIFA dan menjadi agenda rutin tahunan. Levelnya internasional. Tapi Ginan, sedikit dihargai di dalam negeri.

Saya hanya pernah bertemu dengannya dua kali. Sekali, bermain bola bersamanya. Kedua, mengunjungi Rumah Cemara yang didirikan dan dibinanya. Rumah itu menampung para penderita ketergantungan pada obat-obatan dan para penyandang HIV. Orang-orang yang sama sepertinya. Saya senang melihat binar matanya, caranya berbicara: optimisme yang tak meredup. Bahkan, makin lama makin terang.

Kick Andy pernah mengangkat kisahnya. Ketika para ‘anak jalanan’ itu hendak mewakili nama bangsa, berprestasi di ajang dunia, tak ada sponsor yang mendukungnya. Pemerintah sepertinya memandang sebelah mata. Melalui program televisi itu, disusunlah rencana. Ginan bernazar bila ada orang yang mendukungnya. Ia berjanji akan berjalan kaki dari Bandung ke Jakarta sekiranya bisa sampai di perhelatan akbar FIFA di Paris, Perancis itu. Ginan tersungkur haru manakala sebuah perusahaan jamu mendukungnya.

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Jalan”