Duabelas Empatbelas 2: Hilang

“Kemarahan sesaat, menghilangkan kebahagiaan. Kau tahu itu?” Tanyaku sambil menggenggam tanganmu. Engkau tersenyum dan berkata, “Aku tidak marah. Aku hanya diam saja. Diam tak selalu marah. Tahukah kau itu?” Kau malah balik bertanya kepadaku. Ajaib. Cerdas pada saat yang sama.

Aku memang tak mengerti jalan pikiran wanita. Sepertinya, takkan pernah sanggup untuk mengerti. Ternyata misteri itu satu kebahagiaan. Mengetahui yang pasti, justru bisa jadi penderitaan. Bayangkan, karena berbuat salah, api amarah dapat meledak kapan saja. Bayangkan tak lagi harus menerka, tak lagi harus mengira. Jenuh rasanya.

Kau bukan wanita pertama yang tak kupahami. Dan tak satu pun wanita benar-benar pernah kumengerti. Bila satu saat berkata ”a” lalu kulakukan, ia akan berkata, ”itu dulu, sekarang mauku bukan itu.” Pusing aku. Kau bukan wanita pertama yang membuat keningku mengerut, membuatku berpikir tentang wanita. Tidak, kau tidak membuatku berpikir tentang itu. Kau membuatku berpikir tentang pikiran itu sendiri.

“Kau pintar membolak-balik kata,” jawabku menanggapi. Kau dengan cepat menimpaliku, “Kata hanya dibolak-balik, bila kau punya maksud lain di hatimu.”

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Hilang”

Duabelas Empatbelas 2: Asing

“Kalian tidak tahu bagaimana rasanya hidup tak diinginkan. Bagaimana rasa aman berubah jadi ketakutan. Bagaimana sukacita, kebahagiaan, canda tawa…sekejap saja berubah mengerikan.…”

Oma berhenti. Ia menarik nafas panjang, seakan berusaha mengumpulkan kembali ingatan yang samar. Bukan hilang, hanya tak ingin dikenang. Lalu terdengar hembusan nafas berat…”wuush…” beban itu masih ada. Sesak itu masih menghimpit dada.

Aku raih tangan Oma. Mengelusnya. Mengusapnya. Keriput di tangan Oma jauh lebih banyak daripada kerutan di bawah matanya. Oma bisa dibilang awet muda. Ia cukup baik merawat wajahnya. Tapi gulir usia itu tampak jelas pada tangannya, pada kakinya, pada putih rambut di kepalanya.

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Asing”

Duabelas Empatbelas 2: Blusukan

Aku bahagia hari ini. Ada selisih dari jumlah yang harus aku setorkan. Aku manfaatkan itu dengan baik. Aku ajak keponakanku bermain. Mereka tampak ceria sekali, menikmati naik turunnya komedi putar jalanan yang lewat di depan rumah. Entah sejak kapan dan siapa yang memulai, komedi putar itu terkenal dengan nama ‘odong-odong’. Aku senang anak-anak itu senang. Apa lagi yang bisa kulakukan?

Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, perempuan semua. Kedua kakakku sudah menikah. Keponakanku dari merekalah yang memberi kebahagiaan di ujung hariku, di akhir pekerjaan panjang seperti ini. Gurat senyum mereka selalu menyuntikkan semangat baru. Tawa renyah mereka…ah, tak ingin kulewatkan. Bahagia mendengarnya.

Setiap hari aku bertemu dengan banyak wajah. Ternyata manusia mudah diterka. Habiskan setahun atau dua bekerja sepertiku, kau akan bisa membaca mereka seperti buku. Aku tahu, tak boleh mencari aib sesama, tapi terkadang kita belajar banyak dari cerita mereka.

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Blusukan”

Duabelas Empatbelas 2: Bajing Ireng

Matahari sudah lama bersembunyi. Bintang pun bergantian menemani. Hanya bulan yang sesekali tertutup awan. Aneh, makin lama kuperhatikan, hanya bulan saja yang berbalut awan, bintang tidak. Sepertinya alam hendak menutupi persembunyianku. Sinar malam kali ini redup. Cahaya bintang cukup untuk menyusuri jalanan berkelok hutan ini. Cukup bagi mata terlatih seperti aku. Tapi tidak bagi mereka…rombongan bandit itu.

Aku masih ingat Kiai Mansur meminta aku memandang bulan, lama sekali. Katanya, “Kau takkan silau memandanginya. Ia setia menemani bumi. Ia menyerap cahaya matahari. Dan kau, bila kau melihatnya, kau menyerap cahaya bulan. Kau akan terbiasa melihat di kegelapan.” Kini aku mengerti nasihatnya. Ia mempersiapkan aku untuk hari ini, untuk saat-saat seperti ini.

Karena pelajaran ‘memandang bulan’ itu aku tak pernah tersesat kembali pulang. Aku selalu tahu berjalan di kegelapan. Pesantren Rongpusoko telah mengajariku sangat baik. Kiai Mansur bukan saja mendidikku cara baca Arab gundul. Ia juga membekaliku dengan ilmu kanuragan, ilmu bela diri, silat warisan Mamang Haji Tajimalela, sejak puluhan tahun lalu. Ialah pendiri Rongpusoko. Ia mengaku asli Sunda, meski ayahnya dari Magelang. Karena itu, nama Rongpusoko lebih terdengar kejawaan, padahal ia berkembang di tanah Pasundan.

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Bajing Ireng”

Duabelas Empatbelas 2: Palsu

“Suit suit…” bunyi sms kesekian kalinya masuk ke hapeku. Pasti, ucapan selamat lebaran, pikirku. Ini sudah yang kesekian kali. Aku ambil hapeku. Tertulis: 23 pesan baru, 6 percakapan di grup, dan satu missed call. Alih-alih membaca pesan singkat itu, aku ubah moda penerima. Aku pilih nada getar. Aku tidak merasa bernafsu untuk segera membuka pesan-pesan itu. Moodku sedang aneh, tidak enak. Tidak karuan.

Kata orang, begitulah kalau sedang datang bulan. Kaum lelaki takkan pernah tahu rasa sakit ini. Mereka hanya tahu enaknya saja. Mereka menenangkan dengan berkata, “Tuhan mencintaimu. Tuhan membersihkanmu. Bayangkan saat pertama nanti kau boleh shalat lagi. Alangkah indahnya. Alangkah syahdunya.” Mereka sekadar cari alasan karena tak punya dalih untuk bisa tidak sembahyang.

Aku tak suka lebaran. Aku tak bisa ikut shalat karena halangan. Aku duduk saja di parkiran. Pak Ustadz berkhutbah dengan mengatakan, “Kita harus bersedih. Hari ini setan membentangkan spanduk ‘selamat datang kawan, selamat datang teman’. Hari ini setan bersuka cita. Ia diizinkan Tuhan kembali menggoda kita.” Aku tersenyum kecut mendengarnya. Lebih tepat lagi, sinis. Aku kira orang Islam yang berbahagia. Ternyata, setan juga. Makin bingung aku jadinya. Pak Ustadz menutup khotbah dengan doa yang mendayu. Menurutku, ia sengaja ‘merintihkan’ nadanya. Merintihkan. Artinya, membuat rintihan. Ia ingin membuat orang lain menangis. Ia terdengar tersedu beberapa kali. Beberapa jamaah terlihat menangis. Aku tidak. Aku tidak dapat membohongi hatiku. Aku tidak sedih.

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Palsu”

Duabelas Empatbelas 2: Darurat

Bagian II:
FIKSIONAL
(CERPEN)

Darurat

Aku tak tahu berapa lama tak sadarkan diri. Dengan samar kulihat sosok di hadapanku. Tak begitu jelas. Semburat cahaya perlahan-lahan mengisi kelopak mata yang terbuka sesekali. Buka, tutup, buka dan tutup lagi.

Indraku mulai bekerja, meski tak sepenuhnya. Sayup-sayup kudengar orang berkata, “Kasihan dia, bila tidak karena orang ini, dia sudah celaka.” Akukah yang mereka maksud itu?

Ingatanku menerawang, berusaha mengingat keadaan. Aku masih tahu namaku, aku masih tahu siapa aku. Tapi…ah, ada bagian yang hilang. Aku tidak merasakan apa pun. Bukan, bukan rasa sakit di belakang kepala, yang membesar mengecil, kembang kempis, seperti hendak meremukkan batok kepalamu itu. Bukan pula perih hangat yang terasa di sekujur tubuhmu. Aneh, aliran darah yang selama ini kautakuti, ternyata hangat mengalir di sela-sela jari jemari. Ya, aku bisa rasakan itu. Aku bisa melihat jelas warna merah itu. Bukan ini yang tidak kurasakan. Aku tidak merasakan cinta, sayang, benci, marah, suka atau tidak, bahagia atau duka. Aku kosong. Aku hampa.

Dan sedikit demi sedikit, kenangan itu bermunculan. Kesadaranku perlahan-lahan datang.

Read more “Duabelas Empatbelas 2: Darurat”

Duabelas Empatbelas 1: Jalan

Ginan Koesmayadi menorehkan sejarah dalam persepakbolaan Indonesia. Ia menjadi pemain terbaik FIFA Homeless World Cup 2011. Kompetisi ini sendiri diakui FIFA dan menjadi agenda rutin tahunan. Levelnya internasional. Tapi Ginan, sedikit dihargai di dalam negeri.

Saya hanya pernah bertemu dengannya dua kali. Sekali, bermain bola bersamanya. Kedua, mengunjungi Rumah Cemara yang didirikan dan dibinanya. Rumah itu menampung para penderita ketergantungan pada obat-obatan dan para penyandang HIV. Orang-orang yang sama sepertinya. Saya senang melihat binar matanya, caranya berbicara: optimisme yang tak meredup. Bahkan, makin lama makin terang.

Kick Andy pernah mengangkat kisahnya. Ketika para ‘anak jalanan’ itu hendak mewakili nama bangsa, berprestasi di ajang dunia, tak ada sponsor yang mendukungnya. Pemerintah sepertinya memandang sebelah mata. Melalui program televisi itu, disusunlah rencana. Ginan bernazar bila ada orang yang mendukungnya. Ia berjanji akan berjalan kaki dari Bandung ke Jakarta sekiranya bisa sampai di perhelatan akbar FIFA di Paris, Perancis itu. Ginan tersungkur haru manakala sebuah perusahaan jamu mendukungnya.

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Jalan”

Duabelas Empatbelas 1: Teman

Saya lupa persis kisahnya. Saya ceritakan ulang, mungkin tak cukup sama. Bahkan boleh jadi ditambahkan unsur drama, toh pesan moralnya tak berbeda. Dari Aesop’s Fable, tentang seekor kelinci yang merasa berteman banyak. Alkisah, di semak-semak, ia mendengar gonggongan anjing pemburu. Musim hewan pemangsa telah tiba. Ia berlari, hendak menyelamatkan diri. Ia datang pada kuda, tapi kuda berkata, “Aku harus mengantarkan majikan. Maaf, aku tak bisa menolongmu.” Kelinci melompat mencari kerbau, hanya untuk mendengar ia berkata, “Aku harus membajak sawah. Aku tak dapat membantumu.”Begitu seterusnya. Satu demi satu didatangi. Tak seekor kawan pun bersedia menolongnya. Kambing ketakutan, karena ia pun bisa dimangsa juga. Ayam berlarian ke kandangnya. Dan kucing memilih bersembunyi di balik kehangatan bilik rumah. Kelinci juga tak mungkin meminta pertolongan pada serigala, sahabat anjing pemburu itu. Ia sendirian. Pikirnya bergerak cepat. Dan ia meloncat ke sana ke mari. Bukan untuk mencari teman, tapi untuk keselamatan. Tak ada yang dapat menolongnya, ternyata, kecuali dirinya sendiri.

Kisahnya mungkin tak persis sama. Tapi di beberapa buku yang memuat kisah itu, pesan moralnya tertulis singkat: Ia yang punya banyak teman, tak punya teman sama sekali. Dalam bahasa saya, Ia yang punya banyak kenalan, sebetulnya tak punya sahabat sama sekali.

Pesan yang berbeda dari kebanyakan yang terdengar selama ini. Perbanyaklah sahabat, pereratlah kerabat, jauhkanlah yang dekat dan masih banyak lagi. Sebuah ungkapan asing bahkan masuk dalam perdebatan calon orang nomor satu di negeri ini, “A thousand friends are too few. One enemy is too many.” Peribahasa Kurdi itu dianggap mewakili aturan dasar interaksi antarmanusia. Seribu sahabat terlalu sedikit. Satu musuh, itu pun terlalu banyak. Benarkah seharusnya demikian?

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Teman”

Duabelas Empatbelas 1: Harapan

Siapa yang tak mengenal Frank ‘Bopsy’ Salazar. Anak kecil usia lima tahun dari Arizona, Amerika Serikat yang didiagnosa Leukemia sejak usia lima. Ia menjadi pasien pertama penerima ‘mimpimu jadi nyata’ dari Make-a-wish Foundation. Yayasan yang didirikan masyarakat untuk membantu mewujudkan mimpi-mimpi terakhir para pasien yang menanti detik-detik terakhir.

Semuanya diawali ketika Chris Grecius, juga penderita Leukemia, ingin menjadi seorang polisi. Ia masih muda. Adalah Tommy dan Ron Cox dari Kepolisian Arizona yang mewujudkan mimpi Chris. Mereka mengajaknya keliling dalam helikopter polisi, dan mendarat di markas besar kepolisian, di mana Chris disambut oleh pasukan protokoler, yang kemudian memberi hormat kepadanya, mengantarkannya kembali ke rumah sakit dengan iring-iringan penghormatan. Tiga hari kemudian, ia dinobatkan sebagai anggota termuda, dengan seragam dan tanda jabatan yang dibuat khusus untuknya. Pada sore harinya, ia menghembuskan nafas terakhirnya, dalam balutan seragam kepolisian yang diidamkannya.

Sejak Chris, orang tergerak untuk memenuhi harapan terakhir pasien yang diperkirakan sudah dekat akhir hidupnya. Dan Bopsy menjadi yang pertama. Ketika ditanya apa keinginannya, ia menjawab, “Tamasya ke Disneyland, naik balon udara, dan menjadi anggota pemadam kebakaran.”

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Harapan”

Duabelas Empatbelas 1: Pecah

A house divided cannot stand.

“Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.” Matius 12:26

A house divided against itself cannot stand,” kata Abraham Lincoln dalam pidato bersejarah pengukuhannya sebagai Senator negara bagian Illinois, posisi yang kemudian mengantarkannya menjadi presiden ke-16 Amerika Serikat. Dalam pidatonya itu, Lincoln memperingatkan bahaya pecahnya bangsa karena sikap yang berbeda terhadap perbudakan. Selain menunjukkan sikapnya yang berbeda dari Douglas, petahana waktu itu, ia juga meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan. Ia benar-benar percaya pada ungkapan dalam Matius dan Markus 3:25, bahwa ‘rumah yang terbelah’ takkan pernah dapat bertahan.

Politik belah bambu terkadang tak seperti kelihatannya. Satu bagian diinjak dan yang lainnya diangkat. Di manakah keadilan? Eropa menikmati kemakmuran sedangkan Timur Tengah senantiasa bergelora. Anak-anak kita tersenyum berangkat sekolah, padahal anak-anak Gaza membara. Di satu sisi nikmat, di sisi lain ujian teramat berat.

Read more “Duabelas Empatbelas 1: Pecah”