Walimah Safar

Perkara yang satu ini ada perbedaan pendapat juga. Ada yang menyelenggarakan, ada yang tidak. Ada hal yang lebih mendasar dari sekadar syukuran, yaitu niat yang melatarbelakanginya. Sebagian orang kuatir hal seperti ini menjadi riya, tapi ada juga yang mendalilkan “maka nikmat tuhan itu sebarluaskanlah.” Nikmat Tuhan harus dikabarkan. Secara praktis, hal yang dianjurkan sebelum berangkat adalah untuk memohon maaf dan kerelaan setiap orang yang punya hak atas diri kita: keluarga, tetangga, rekan kerja, sahabat dan sebagainya. Kita wajib meminta maaf mereka. Perjalanan kembali pada Sang Pencipta akan sangat berat bila menyertakan beban dari sesama. Nah, untuk kepraktisan itu acara seperti walimah safar menjadi bermakna. Melalui kesempatan yang diberikan pada sambutan, tuan rumah bisa menyampaikan permohonan maaf terbuka.

Kalau membincangkan dalil, orang akan kebingungan. Adakah dalil walimah safar dilakukan Baginda Nabi Saw dan para sahabat? Adakah mereka mengundang tetangga lalu bersantap siang bersama? Adakah contoh riwayat menyebarkan undangan lalu memasang tenda? Begitulah. Kalau agama dipahami secara harfiah saja, maka menggunakan telepon genggam pun tak pernah dicontohkan. Yang kita ambil adalah intisarinya. Bersosial media menjadi baik dengan niat silaturahmi. Ia menjadi buruk bila malah jadi ladang memaki. Intisari walimah safar adalah bersyukur, berbagi, memohon maaf dan doa, menitipkan keluarga yang ditinggalkan pada sebanyak mungkin handai taulan. Read more “Walimah Safar”