Risalah Anak Berlari: 1-4

Seorang anak lari pada ibunya. Matanya sembab karena tangisan. Pelipisnya lebam karena benturan.

“Apa sebab dukamu, Nak?” Tanya si Ibu bijak, tanpa panik dan rasa kalap.

“Aku bertengkar dengan teman sebangkuku Bu. Aku berkelahi dengan teman baikku,” jelas si anak melawan sekatan.

“Anakku,” ujar ibunya menenangkan, “kau boleh berkelahi, kau boleh luka lebam…tapi jangan kau menangis, Nak. Bertengkarlah, tapi jangan kembali ke rumah dengan air mata.”

“Tapi ia teman baikku, Bu.”

“Justru karena ia teman baikmu.”

“Bagaimana aku akan berteman lagi dengannya?”

“Temui ia, mintakan maafnya. Besarkan hatimu memohonnya.”

“Akankah aku tetap bersahabat dengannya?”

“Masa depan itu rahasia, Nak. Tak perlu kaurisaukan. Yang belum terjadi janganlah membebani pikiran. Besok itu takkan pernah datang.”

“Tapi yang sudah terjadi, akan selalu jadi kenangan buruk di hidup kami. Ia tak dapat diubah. Catatan hitam antara aku dan dia.”

“Anakku sayang…satu-satunya yang dapat kauubah dalam hidupmu adalah masa lalumu. Kemarin adalah kenyataan yang sesungguhnya. Yang terjadi adalah satu-satunya yang kaumiliki. Kau menggenggamnya. Kau mengendalikannya. Ubah masa lalumu, kau menguasai dirimu. Sekarang, temui sahabatmu. Bertengkar lagi bila perlu. Lebam lagi bila kaumau. Tapi jangan kembali padaku dengan tangisanmu. Berkelahilah dengan kawanmu dan kau tertawa bersamanya. Tukar tangisanmu tadi dengan manis senyummu…”

***

Seorang anak lari pada ibunya. “Ibu, aku berkelahi lagi. Kali ini aku tak menangis. Aku hebat kan Bu?” Dengan penuh kasih, sang Ibu mengusap luka dan lebam itu. Kemudian ia bertanya, “Kawanmu, yang kaupukul juga, menangiskah dia?”

“Iya Bu,”

“Siapa yang memukul pertama?”
“Dia, Bu.”

“Temuilah ia, mintakan maafnya. Bukan karena engkau berkelahi dengannya. Tapi karena kau tak menangis untuk dia, untuk kawanmu itu.”

“Aku tak mengerti Bu.”

“Engkau tak menangis karena angkuhmu. Engkau tak menangis karena sombongmu. Menangislah karena kau tak menghormatinya. Menangislah karena kau tak merasakan kesedihannya. Menangislah karena kau tak menjawab perhatiannya.”

“Tapi Bu, perhatian mana yang aku abaikan?  Kesedihan bagaimana yang tak kurasakan? Bukankah aku menghormatinya dengan membalas pukulannya.”

“Anakku sayang…jalan keras adalah keputusasaan. Tubuhmu ini lentur di mana-mana. Bahkan tulang terkeras melengkung bila tiba waktunya. Bila rapuh di dalam, keras ia di luar. Bila kuat di dalam, lembut ia terlihat.”

“Jadi, aku harus bagaimana Bu?”
“Temui temanmu itu. Mintakan maafnya. Bukan karena kau telah memukulnya. Tapi karena kau tak memahaminya. Ketahuilah Nak, setan memainkan godaannya. Tipuan terbesar setan adalah meyakinkan dunia, bahwa ia sebenarnya tidak ada.”

*) Kalimat terakhir dari film The Usual Suspect: the greatest trick the devil has ever pulled, is to convince the world that he does not exist.))

 

***

Seorang anak berlari pada ibunya. “Ibu, aku mau berkelahi. Apakah aku harus menangis atau tidak setelahnya?”

“Nak, janganlah berkelahi. Agar kau tak terjebak dalam dilema berikutnya.”

 

***

Seorang Ibu berlari pada anaknya. “Nak, mengapa kau tak berkelahi di sana? Termangu berpangku tangan, tak benar untuk orang sepertimu.”
“Ada apa Bu? Apa yang membuat bertengkar kini dibolehkan?”

“Diam dirimu, Nak. Sesungguhnya nafsumu tak pernah berhenti menggoda. Sesaat saja nafasmu tanpa makna, ia sudah berkuasa atasmu. Sedetik saja amalmu tanpa guna, ia sudah menaklukkanmu. Seorang saja sesamamu menderita, dan kau tak berbuat suatu apa, ia sudah menang sempurna.”

“Bagaimana aku melakukannya Bu? Tak mungkin bagiku berperang dengan diriku.”
“Karena kau tak mengenalinya, Nak. Ketahuilah dirimu dari para ksatria penakluk jiwa. Mereka hafal jalan yang berliku di dalamnya. Bagi mereka jalan itu sama sekali tak ada. Kau akan tahu sejatimu manakala kau tahu Ksatriamu. Cintai mereka. Rindukan mereka. Biarkan air mata suci dirimu membasuh semua noda. Keringat yang tercurah di jalannya. Tangisan yang tumpah karenanya. Darahmu yang siap bersimbah di altarnya.”

“Lalu, usai berkelahi, menangiskah aku Bu atau tertawa?”
“Kau akan mengetahuinya sendiri Nak. Bila kelak saat itu tiba, tangismu adalah sukacita. Deritamu bahagia. Menangis atau tertawa, bahkan takkan muncul di kepala.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *